Posts Tagged ‘cerita rakyat Banyuasin’


…. Menjelang subuh, ia pergi.untuk memeriksa ambatnya. Karena hari masih gelap, ia tidak bertemu dengan seorang pun selama perjalanan ke sungai. Setelah sampai di tepi sungai, ia langsung menarik ambatnya. Benar! Kali ini ambatnya terasa berat sekali, tetapi ia tidak melihat satu ekor ikan pun yang melekat di kailnya. Dengan tidak berputus asa, ia terus menarik ambatnya. Pada bagian ujung ambat, ia melihat sesuatu yang berkilauan melekat di ambatnya. Semakin mendekati ujung ambat,…

Dahulu kala di tepian Sungai Musi, di sekitar Desa Rantau Bayur dan Tebing Abang, tinggallah seorang bujangan yang hidup sendirian. Bujangan ini biasa dipanggil penduduk dengan sebutan Datuk Arenan. Karena usianya sudah sangat lanjut dan seumur hidupnya belum pernah menikah, orang-orang menggelarinya dengan sebutan bujang tua.
Pekerjaan sehari-hari Datuk Arenan adalah mencari ikan di sungai. Ia mencari ikan dengan menggunakan ambat (rawai). Ambat adalah alat untuk mencari ikan yang dibuat dari rotan yang panjangnya sekitar 50 – 100 meter yang biasa digunakan oleh masyarakat sekitar. Di setiap 1 meter diletakkan kail yang diberi umpan. Pada bagian pangkal ambat diikatkan di pohon besar di pinggir sungai. Sementara di bagian ujung  ambat diberi batu. Untuk mencari ikan ambat dibawa ke sungai dan ujung ambat diletakkan di tengah sungai. Ambat dipasang pagi atau sore hari dan diangkat pagi hari.
Seperti biasanya setiap pagi Datuk Arenan memeriksa ambatnya. Namun, tampaknya hari itu nasib baik tidak berpihak kepadanya.Di ambatnya tidak ada seekor ikanpun yang tersangkut, padahal saat itu sedang musim ikan mudik atau musim ikan kebangaran (mabuk). Pada musim itu biasanya air sungai warnanya berubah menjadi kehitam-hitaman dan berbau tidak sedap. Di antara ikan-ikan mabuk itu yang paling banyak adalah ikan seluang. Ikan seluang mabuk itu sangat mudah didapatkan. Memang saat itu sedang musim kemarau. Rupanya ikan seluang yang berlimpah itu tidak menarik minat Datuk Arenan dan malah ia memasang ikan seluang sebagai umpan di setiap kail yang ada di ambatnya.
Walaupun ia sempat kecewa tidak mendapatkan satu ekor ikan pun, Datuk Arenan tidak patah semangat. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Datuk Arenan melihat ambatnya. Rupanya, pagi ini Datuk Arenan kembali dibuat kecewa sebab tidak ada satu ikan pun yang melekat di ambatnya. Terpaksalah Datuk Arenan memasang lagi ambatnya dan menganti umpannya dengan yang baru. Setelah selesai, pulanglah ia ke rumah. Keesokan paginya ia periksa lagi ambatnya dan tetap tidak ada satu ikan pun yang ia dapatkan. Peristiwa ini berlangsung terus sampai satu minggu. Akan tetapi Datuk Arenan tidak pernah lelah. Tiap pagi ia terus berusaha dan tidak letih berharap sambil mengganti umpan dan memasang ambatnya.
Setelah satu minggu tidak mendapatkan hasil apa pun, tidak seperti malam-malam biasanya, pada malam itu itu Datuk Arenan tertidur sangat pulas. Dalam tidurnya ia bermimpi didatangi orang tua yang sangat bijak dan bersahaja. Orang tua itu mengenakan pakaian putih bersih, wajahnya berjenggot putih panjang, dan memegang tongkat layaknya seorang wali.
“Hai Datuk Arenan, jadilah Engkau orang yang sabar dan tabah. Besok pagi sekali pergilah Engkau melihat ambatmu dan akan Kau dapatkan keajaiban di sana,” ujar sang kakek.
“Keajaiban apakah yang akan aku temukan?” tanya Datuk Arenan.
“Aku tidak akan menjelaskannya. Sebaiknya Kau lihat sendiri keajaiban itu besok pagi,” jawab kakek.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, sang kakek langsung menghilang dan Datuk Arenan pun terbangun dari tidurnya. Ia sangat heran dengan mimpinya karena seumur hidupnya belum pernah ia bermimpi seperti itu. Ia terus memikirkan mimpinya itu dan tidak bisa tertidur lagi. Ia pun tidak sabar menunggu pagi hari.
Untuk membuktikan mimpinya, pagi-pagi sekali Datuk Arernan pergi ke sungai untuk menarik ambatnya. Suasana masih sangat sepi, belum ada satu orang pun yang ia temui di perjalanan. Saat menarik ambatnya, ia melihat pada kail kedua dan ketiga tersangkut alat tenun yang lengkap dan sangat bagus. Diambilnyalah alat tenun itu. Ia pasang lagi ambatnya.
“Bagus sekali alat tenun ini, punya siapakah gerangan? Apakah ini merupakan pesan dari mimpiku tadi malam?” tanya Datuk Arenan dalam hati.
Setelah itu Datuk Arenan pun pulang membawa alat tenun tadi. Karena hari masih sangat pagi, tak ada seorang pun yang melihat ia membawa alat tenun tersebut. Setiba di rumah dibersihkannya alat tenun itu sehingga alat tenun itu terlihat semakin bagus, tidak rusak dan bisa dipakai untuk menenun.
Malam harinya, kembali ia bermimpi didatangi kakek yang muncul dalam mimpinya malam kemarin.
“Datuk Arenan cucuku, hari ini sudah kau dapatkan keajaiaban itu. Akan tetapi besok pagi kau harus pergi lebih pagi lagi dan akan kau dapatkan keajaiban yang tak terbayangkan,” ujar kakek tersebut.
“Keajaiban apa lagikah yang akan aku terima, Kek?” tanya Datuk Arenan.
Sang kakek tidak menjawab, tetapi langsung menghilang. Datuk Arenan terbangun dari tidurnya dan terus memikirkan arti mimpinya itu.
“Apa ya, kira-kira yang akan terjadi besok pagi?” tanya Datuk Arenan di dalam hati.
Karena sibuk memikirkan mimpinya, ia tidak bisa tidur lagi. Seperti hari kemarin, ia pun tidak sabar menunggu pagi hari dan ingin mengetahui apa yang ia akan dapatkan besok.
Menjelang subuh, ia pergi.untuk memeriksa ambatnya. Karena hari masih gelap, ia tidak bertemu dengan seorang pun selama perjalanan ke sungai. Setelah sampai di tepi sungai, ia langsung menarik ambatnya. Benar! Kali ini ambatnya terasa berat sekali, tetapi ia tidak melihat satu ekor ikan pun yang melekat di kailnya. Dengan tidak berputus asa, ia terus menarik ambatnya. Pada bagian ujung ambat, ia melihat sesuatu yang berkilauan melekat di ambatnya. Semakin mendekati ujung ambat, barulah terlihat olehnya  seperti kain yang berkibar-kibar berkilauan. Setelah mencapai ujung ambat, terlihat jelas yang melekat di ujung ambat adalah seorang wanita. Ia sangat terkejut. Diangkatnya wanita itu dan dibawanya ke pinggir sungai. Bajunya yang putih berkilauan basah kuyup oleh air dan wanita itu sangat kedinginan. Segeralah dibawanya wanita tersebut pulang ke rumahnya.
Setiba di rumah, Datuk Arenan langsung membuka lemari pakaiannnya. Dicarinya pakaian yang cocok untuk wanita asing tersebut. Kemudian ia teringat bahwa ia pernah menyimpan baju almarhum ibunya. Baju itu sudah lama sekali ia simpan. Dicarinya baju tersebut dan dan ia berhasil menemukannya. Ternyata baju itu masih bagus.
“Ini handuk, baju, dan kain yang bisa kau pakai. Segeralah ganti pakaianmu yang basah itu. Nanti kamu masuk angin,” ujar Datuk Arenan.
Wanita itu menurut saja. Ia menuju kamar dan mengganti pakaiannya.
Sementara itu, Datuk Arenan sangat bingung memikirkan apa yang harus dilakukannya. Mula-mula terbesik di benaknya untuk merahasiakan saja apa yang ia temukan pagi ini. Sesaat kemudian pikirannya berubah. Cukup lama ia memikirkan hal tersebut. Akhirnya, ia memutuskan untuk menceritakan apa yang dialaminya kepada krio di kampungnya.
“Ada apa Datuk, panas terik begini Datuk menemui saya. Pasti ada hal yang sangat penting yang ingin Datuk sampaikan kepada saya,” ujar krio.
“Ada hal penting yang ingin saya katakan.”
“Katakanlah, Datuk. Jangan sungkan-sungkan. Saya siap mendengarnya. Kalau memang ada masalah, mudah-mudahan saya bisa bantu.”
“Begini, Krio. Tadi pagi seperti biasa saya memeriksa ambat  yang saya pasang. Namun, saya mendapatkan suatu keajaiban Di ujung ambat saya tersangkut seorang wanita yang tidak saya kenal. Sekarang wanita itu ada di rumah saya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dan apakah yang saya lakukan ini sudah benar?”
“Benarkah Datuk apa yang Kau bicarakan?”
“Benar, Krio.”
“Jadi, sekarang ini wanita itu ada di rumahmu?”
“Betul, Krio.”
Cukup lama krio berpikir. Ia pun melanjutkan perkataannnya.
“Datuk adalah seorang laki-laki yang tinggal sendirian di rumah. Akan menjadi aib yang sangat besar kalau Datuk membiarkan wanita itu tinggal di rumah Datuk seperti sekarang ini. Menurut saya, karena Datuk belum punya istri, bagaimana kalau Datuk kawini saja wanita itu. Karena datuk yang menemukan wanita itu, Datuklah yang lebih berhak menjadi istrinya.”
Mendengar ucapan krio, Datuk Arenan sangat gembira. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya bahwa ia akan menikah dengan seorang wanita yang sangat cantik dan selama ini kecantikannya belum pernah ditemui pada wanita-wanita di kampungnya.
Tidak lama setelah pembicaraan Datuk Arenan dengan Krio, diumumkanlah berita pernikahan Datuk Arenan. Setelah itu, diadakanlah pesta besar-besaran di kampung itu. Semua masyarakat bergembira. Pada acara perkawinan tersebut, Datuk Arenan dan istrinya mengenakan pakaian adat perkawinan. Istri Datuk Arena yang memang cantik, semakin cantik dangan dandanan pengantin tersebut. Semua warga pun mengakui dan memuji kecantikan istri Datuk Arenan sehingga Datuk Arenan merasa sangat bangga.
Setelah pesta pernikahan usai, istri Datuk Arenan berpesan kepada suaminya.
“Kak, aku ikhlas dan rela menjadi istri Kakak karena kebaikan Kakak yang telah menyelamatkanku. Namun, ada satu permintaanku agar rumah tangga kita tetap langgeng.”
“Permintaan apakah gerangan itu, Dik.”
“Permintaanku tidaklah berat. Aku hanya meminta pakaianku yang pertama kali kukenakan saat Kakak menemukanku hendaknya disimpan dengan baik dan jangan pernah memintaku untuk mengenakannya kembali.”
“Kalau hanya itu permintaanmu,  tentulah aku sanggupi.”
Mereka berdua kemudian hidup berbahagia. Datuk Arenan tetap meneruskan kebiasaannya menangkap ikan. Istrinya di rumah saja. Pekerjaan sehari-hari istrinya, di samping malayani suaminya, ia menenun benang menjadi kain menggunakan alat tenun yang ditemukan Datuk Arenan sebelum menemukan dirinya.

***

Selang beberapa bulan kemudian, desa tersebut kedatangan tamu jauh. Tamu yang datang adalah rombongan dari Kesultanan Palembang yang pergi berburu. Karena kemalaman, rombongan pun menginap di desa itu.
Seperti biasa, setiap ada tamu yang datang, masyarakat mengadakan jamuan untuk menghormati tamu. Selain dihidangkan makanan, tamu juga disuguhi dan dihibur dengan nyanyian dan tari-tarian.
Malam itu, semua tamu merasa senang dan mereka sangat menikmati suguhan yang disajikan. Banyak warga yang turut hadir dalam jamuan itu, termasuk Datuk Arenan dan istrinya.
Setelah semua tarian dan nyanyian ditampilkan, para tamu yang terpesona dengan kecantikan istri Datuk Arenan meminta kepada krio agar mengizinkan istri Datuk Arenan menari. Disampaikanlah keinginan para tamu kepada Datuk Arenan. Datuk Arenan merasa sangat gembira. Ia merasa tersanjung dan mendapat kehormatan yang luar biasa.
“Baiklah kalau begitu, kami berdua pamit pulang sebentar untuk berganti pakaian,” kata Datuk Arenan kepada krio yang menyampaikan permintaan para tamu.
“Sebenarnya, pakaian yang dipakai istrimu sudah cukup bagus, tetapi kalau istri Datuk ingin berganti pakaian kami persilakan. Kami semua menunggu di sini,” jawab krio.
Setelah berpamitan, pulanglah Datuk Arenan beserta istrinya. Kerena jarak dari tempat perjamuan menuju ke rumah Datuk Arenan tidak terlalu jauh, sebentar saja mereka sudah sampai di rumah.
“Dik, rasanya tidak ada pakaian yang paling pantas kau kenakan pada kesempatan baik ini selain pakaian yang engkau kenakan waktu pertama kali kita bertemu. Kenakanlah pakaian itu Kau akan kelihatan semakin cantik dan mempesona.”
“Kak, bukankah Kakak sudah berjanji padaku untuk tidak menyuruhku memakai pakaian ini? Jadi, tolong jangan suruh aku memakainya. Lebih baik aku kenakan pakaian yang lain saja. Bagaimana kalau yang ini?” kata istrinya sambil menunjukkan baju yang cukup bagus yang baru selesai ia buat.
“Tapi, Dik, Kakak ingin engkau mengenakan pakaian ini. Kakak ingin sekali semua mata terpesona melihat kecantikanmu dalam balutan pakaian ini dan tentu ini akan membuat Kakak akan sangat bangga .”
“Kak, sekali lagi tolong, jangan…jangan Kakak paksa aku memakai pakaian ini. Aku takut Kak, kalau aku memakai pakaian ini akan terjadi keanehan yang aku yakin Kakak dan aku tidak menghendakinya. Percayalah padaku, Kak!”
“Percayalah Dik, Kakak yakin tidak akan terjadi apa-apa pada diri Adik. Sekarang cepat kenakan, mereka semua sudah menunggu kedatangan kita.”
“Jangan Kak, lebih baik aku memakai pakaian yang lain saja.”
“Ayolah Dik, cepatlah kenakan pakaian ini!”
“Baiklah kalau Kakak memaksa, saya akan turuti. Akan tetapi Kakak jangan pernah menyesal dan jangan menyalahkan saya jika terjadi sesuatu setelah saya mengenakan pakaian ini.”
Setelah mengenakan pakaian tersebut, mereka berdua pergi ke tempat perjamuan. Kemudian, menarilah istri Datuk Arenan pada acara jamuan itu. Keindahan tariannya membuat semua yang hadir terpesona. Gerakan tariannya yang lemah gemulai sangat menarik dan memikat hati. Semua bertepuk tangan dan memuji penampilan isri Datuk Arenan.
Istri Datuk Arenan terus menari dengan sungguh-sungguh.. Namun, semakin lama istri Datuk Arenan menari, timbulah keanehan. Perlahan-lahan kaki istri Datuk Arenan terangkat naik. Semakin lama tubuhnya melayang semakin tinggi dan terus naik hingga hilang dari pandangan mata.
Semua yang hadir terpaku, lalu menjadi panik. Mereka bingung seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Terlebih-lebih Datuk Arenan. Ia berlari-lari sambil menjerit-jerit memanggil istrinya.
“Dik, turun Dik, jangan tinggalkan Kakak sendirian. Kakak janji tidak akan menyuruhmu memakai pakaian itu lagi. Turunlah Dik!”
Berkali-kali Datuk Arenan menjerit memanggil istrinya. Setelah lelah menjerit dan berlari-lari, ia pun tersungkur di tanah.
“Oh Dik, mengapa kau tinggalkan kakak sendirian. Belum lama kita bertemu, mengapa Kau tega meninggalkan Kakak dengan cara seperti ini,” ucap Datuk Arenan sambil tak henti-hentinya menangis dan menyesali tindakannya.
Warga yang mendengar ratapan Datuk Arenan pun turut hanyut dalam kesedihan. Tidak sedikit pula yang meneteskan air mata. Salah sorang warga membimbing Datuk Arenan pulang ke rumahnya.
Malam itu datuk Arenan terus memanggil-manggil istrinya sambil matanya menatap ke langit.
Setelah kejadian itu Datuk Arenan terus dalam kesedihan. Sambil meratapi kepergian istrinya, ia menggerak-gerakkan tubuhnya mencoba mengikuti gerakan tarian istrinya sebelum pergi. Ia ingat setiap gerakan istrinya. Setiap hari ia menari menirukan gerakan istrinya. Semakin sering ia menari, semakinlah ia sadar tarian istrinya itu seperti gerakan ikan seluang.
Untuk terus mengenang istrinya, Datuk Arenan pun mengajarkan garakan tarian istrinya kepada gadis-gadis di desanya. Tarian yang diajarkannya inilah yang diberi nama Tari Seluang Mudik.
Narasumber: Sofa Hasyim
Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd. (Guru SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III)
Cerita rakyat ini berasal dari Tebing Abang, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.


…. Mereka semua kebingungan. Apa yang harus mereka lakukan terhadap emas itu? Dijual? Dipakai atau diamankan saja? Karena bingung tidak tahu emas tersebut mau diapakan dan karena takut terjadi perselisihan di antara mereka, mereka pun mengadakan sidang untuk membahas penggunaan emas tersebut….

            Alkisah dahulu kala terdapat sebuah hutan di sekitar Sungai Musi. Pada waktu itu Nabi Muhammad belum dilahirkan ke muka bumi. Waktu itu makhluk hidup dapat berbicara seperti manusia. berjuta tahun tempat itu tidak dihuni manusia hanya dihuni hewan-hewan buas dan tentu saja liar.
Suatu hari sekelompok orang perantauan datang ke tempat tersebut. Mulanya mereka hanya bermaksud untuk sekedar melintas dan beristirahat sejenak.  Saat mereka beristirahat, mereka dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang sangat memukau. Tumpukan emas yang sangat banyak di hadapan mereka. Melihat emas yang sangat banyak itu, mereka seolah terhipnotis mendekat, mengamati, dan meraba emas-emas itu. Semua terpesona dan seolah tidak percaya. Seumur hidup belum pernah mereka melihat emas sebanyak itu.
Mereka semua kebingungan. Apa yang harus mereka lakukan terhadap emas itu? Dijual? Dipakai atau diamankan saja? Karena bingung tidak tahu emas tersebut mau diapakan dan karena takut terjadi perselisihan di antara mereka, mereka pun mengadakan sidang untuk membahas penggunaan emas tersebut.
“Saudara-saudara, kita berkumpul di sini bermaksud untuk merundingkan sesuatu yang sangat penting. Kalau tidak kita rundingkan, saya khawatir akan berakibat buruk bagi kelangsungan hubungan kita semua,” ucap salah satu dari mereka memulai pembicaraan.
”Saudara-saudaraku, seperti telah kita ketahui bersama, kita hadir di tempat ini semula hanya untuk beristirahat. Kemudian kita mendapatkan sesuatu yang sangat mengejutkan, yakni setumpuk emas. Tumpukan emas ini tidak terhingga nilainya. Tumpukan emas ini tentunya sesuatu anugerah bagi kita semua kalau kita bisa mengelolahnya sedemikian rupa. Sekarang kita butuh kesepakatan bersama, mau kita apakan emas-emas ini,” lanjutnya.
Selama sidang berlangsung, berbagai pendapat dan saran pun dikumpulkan. Akhirnya disepakati bahwa emas-emas itu didiamkan pada tempatnya.
“Saudaraku, terima kasih akhirnya kita bisa membuat keputusan yang bijak bahwa emas itu kita biarkan saja. Akan tetapi, kita tidak bisa membiarkannya begitu saja. Bisa saja emas ini diambil oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Saya punya usul, untuk menjaga emas ini, bagaimana kalau kita bermukim di sini. Selain menjaga emas ini, tempat ini juga memang layak untuk kita huni bersama. Saya yakin kehidupan kita akan lebih baik jika kita tinggal di sini.
“Saya setuju,’ jawab salah satu dari mereka.
“Saya juga setuju,” jawab yang lain.
“Kami setuju,” jawab beberapa peserta siding secara bersamaan.
Akhirnya disepakatilah bahwa mereka menetap di tempat tersebut.
Kehidupan mereka saat itu sangat unik. Mereka menanamkan jalan hidup yang sangat lurus. Sikap mereka sangat hebat, antara lain dalam hal menolong sesama, tidak mengganggu orang lain, dan menjaga kepentingan barsama. Sikap masyarakat tersebut sangat patut diacungi jempol.
Seiring dengan perjalanan waktu pemukiman itu terus dihuni oleh manusia hingga kini. Sampai sekarang orang meyakini bahwa emas itu masih ada. Akan tetapi, ada beberapa kepercayaan yang muncul. Pertama, mereka percaya hanya orang-orang yang memiliki tuah (kekuatan gaib) yang bisa melihatnya. Kedua, ada juga yang mengatakan bahwa emas itu sekarang terkubur di dalam tanah. Sebagai buktinya, saat ini setiap warga yang menggali sumur, mereka akan mendapatkan serbuk dan lempengan batu menyerupai emas.
Karena di tempat tersebut pernah terjadi persidangan emas, mereka sepakat memberi nama mereka tempat tinggal mereka dengan nama Sidang Emas. Desa Sidang Emas terdapat di Kecamatan Banyuasin III.

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd. (Guru SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III)
Cerita rakyat ini berasal dari Desa Sidang Emas, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.


…. Setelah cucunya beranjak dewasa, ketib memerintahkan keempat cucunya yang laki-laki  untuk pergi dari Ngelebung dan merantau, mencari penghidupan ke tempat lain. Semua cucunya melaksanakan perintah kakeknya. Urip pergi ke arah utara, Sirah ke arah barat, Teladan menyelusuri sungai menuju ke hulu, yaitu ke arah Desa Rantau Bayur, dan Waras juga menyelusuri ke hulu, yaitu ke arah Sungai Keruh Musi Banyuasin. Cucu perempuan satu-satunya, yaitu Untung tetap tinggal dan menemukan jodohnya di tempat tersebut….

Pada zaman dahulu, di masa penjajahan Belanda, di hulu sungai Musi terdapat sebuah kampung yang penduduknya telah beragama Islam. Kampung itu bernama Benakat. Di kampung itu hiduplah satu keluarga ketib (tokoh agama Islam). Keluarga ketib ini memiliki satu anak perempuan yang beranjak dewasa bernama Ayu yang sangat cantik jelita.

Suatu hari lewatlah seorang opsir Belanda di kampung Benakat. Secara kebetulan opsir bertemu Ayu. Melihat kecantikan Ayu, opsir langsung tertarik.

“Alangkah cantiknya gadis ini. Gadis secantik ini tidak akan akan aku sia-siakan. Aku harus mendapatkan gadis ini,” katanya dalam hati.

Mengetahui Ayu anak seorang ketib, datanglah opsir Belanda kepada ketib. Dengan percaya diri yang tinggi, ia langsung mengemukakan maksud kedatangannya, yakni untuk meminang Ayu dan akan dijadikan selir. Opsir tidak mengetahui bahwa ketib sangat membenci Belanda. Pinangan opsir, langsung ditolak oleh ketib. Akibatnya, opsir Belanda menjadi marah besar. Ia mengancam dengan menggunakan kekuasaannya. Isi ancamannya sangat membuat hati kecut siapa pun yang mendengarnya. Opsir memberi batas waktu kepada ketib untuk mempertimbangkan lamarannya. Bila batas waktu yang ditentukan, ketib masih tetap menolak pinangannya, opsir mengancam akan membunuh semua keluarga ketib, tanpa kecuali.

Demi keselamatan keluarganya, sebelum batas waktu yang ditentukan tiba, pergilah ketib bersama keluarganya meninggalkan kampung Benakat. Dengan kesaktian yang dimilikinya, ketib membawa istri dan anaknya Ayu menaiki sebuah kawah besar yang terbuat dari besi (wajan besi untuk memasak nasi) sebagai perahu. Kawah tersebut terus hanyut hingga ke hilir mengikuti arus Sungai Musi.

Beberapa hari lamanya terombang- ambing mengikuti arus sungai, terdamparlah mereka di sebuah hutan di pinggiran Sungai Musi. Karena diangggap aman, menetaplah mereka di hutan tersebut. Hutan tersebut belum ada penghuninya. Pada saat itu hidup mengasingkan diri seperti yang mereka lakukan disebut ngelebung.

Suatu hari tersesatlah seorang pemuda dan tiba di tempat tinggal ketib.  Pemuda tersebut berasal dari Palembang. Ia melarikan diri dari kejaran Belanda. Ia pun menetap di tempat tersebut hingga bertahun-tahun.

Setelah beberapa tahun mengenal Ayu dan keluarganya, pemuda tersebut memberanikan diri melamar Ayu. Lamarannya diterima dengan senang hati oleh keluarga ketib. Pernikahan pun dilaksanakan.

Dari pernikahan mereka lahirlah cucu-cucu ketib, yaitu empat orang anak laki-laki yang bernama Urip, Sirah, Waras, dan Teladan, serta satu perempuan yang bernama Untung.

Setelah cucunya beranjak dewasa, ketib memerintahkan keempat cucunya yang laki-laki  untuk pergi dari Ngelebung dan merantau, mencari penghidupan ke tempat lain. Semua cucunya melaksanakan perintah kakeknya. Urip pergi ke arah utara, Sirah ke arah barat, Teladan menyelusuri sungai menuju ke hulu, yaitu ke arah Desa Rantau Bayur, dan Waras juga menyelusuri ke hulu, yaitu ke arah Sungai Keruh Musi Banyuasin. Cucu perempuan satu-satunya, yaitu Untung tetap tinggal dan menemukan jodohnya di tempat tersebut.

Untung dan suaminya memperluas wilayah tempat tinggal mereka sampai ke suatu sungai yang diberi nama Rimba Bulian. Sejak itulah tempat yang menjadi tempat tinggal Ketib dan keluarganya dinamakan Ngelebung.

Lama-kelamaan penduduk Ngelebung bertambah banyak dan berkembanglah menjadi sebuah kampung yang akhirnya menjadi sebuah dusun bernama Lebung.  Dusun Lebung sekarang lebih dikenal dengan nama Desa Lebung. Karena kesaktian ketib membuat kawah menjadi perahu sebagai kendaraan, ia kemudian dikenal dengan sebutan “Puyang Perahu Kawah”.

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd. (Guru SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III)
Cerita rakyat ini berasal dari Desa Lebung, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.


…. Pulang dari sawah sang ayah langsung menanyakan bongkol yang dibuat istrinya. Istrinya memberitahu dengan sangat hati-hati dan memohon maaf karena bongkol yang dibuatnya telah dimakan ketiga anak mereka. Sang ayah sangat marah. Karena dikuasai kemarahannya, ayah itu berniat dalam hati untuk membunuh anaknya….

ZAMAN dahulu di sebuah desa tinggallah satu keluarga. Keluarga itu terdiri dari ayah, ibu, dan ketiga anaknya. Suatu hari sang ayah pulang membawa sedikit ketan. Sang ayah meminta istrinya agar ketan yang dibawanya dibuat bongkol (lepet) karena ia sangat ingin memakan bongkol.
Ketika suaminya pergi ke sawah, sesuai permintaan, ibu membuat bongkol ketan. Karena ketannya sangat sedikit, bongkol yang dibuat hanya jadi tiga buah bongkol. Setelah matang,  bongkol tersebut disimpannya dalam lemari.
Ketika anaknya pertamanya terbangun dari tidur, ia langsung menuju ke dapur karena ia mencium aroma yang sedap dari dapur. Ia mencium aroma bongkol.
Mak, ade bongkol, ye?”
“Tak katek, nak,” jawab ibu. Ibu berbohong karena bongkol yang dibuatnya untuk ayahnya.
Mak, minta bongkol!”
“Tak katek, Nak,” jawab ibunya kembali berbohong.
Anaknya tidak percaya dan menangis meminta bongkol. Karena tidak tega, ibunya pun memberikan anak pertamanya satu bongkol.
“Tapi, jangan ngomong dengan adekmu, ye!” pesan ibuya sebelum anak pertamanya pergi. Setelah sampai di kamar, si kakak melihat adik keduanya bangun.
“Dek, mak ade bongkol,” ujar kakaknya.
Mendengar kata-kata kakaknya, anak kedua tersebut langsung pergi ke dapur menemui ibunya.
“Mak, aku nak bongkol,”
“Tak katek , nak,”
Anak kedua pun menangis karena tidak diberi bongkol. Tidak tega melihat anaknya menangis, si ibu pun memberi anak keduanya bongkol.
“Setengah bae ye, nak,” jawab ibu sambil memberikan separuh bongkol. Akan tetapi, anak keduanya tetap menangis.  Ibu pun terpaksa memberikan satu bongkol.
“Jangan ngomong dengan adekmu, ye,” pesan ibunya sebelum anak kedua itu pergi. Setelah sampai di kamar, anak kedua memberi tahu kepada adiknya.
“Dek, mak ade bongkol,” ujar anak kedua pada anak ketiga. Mendengar kata-kata kakaknya, ia langsung pergi menemui ibunya.
“Mak, ade bongkol, ye?”
“Tak katek, nak.”
Anak ketiga pun menangis. Karena tidak tega ibu kembali memberi anaknya bongkol.
“Nak setengah bae, ye. Agek bakmu marah,”
Anak ketiganya tidak mau dan terus menangis. Ibunya pun akhirnya memberikan bongkol terakhir kepada anak ketiganya.
Pulang dari sawah sang ayah langsung menanyakan bongkol yang dibuat istrinya. Istrinya memberitahu dengan sangat hati-hati dan memohon maaf karena bongkol yang dibuatnya telah dimakan ketiga anak mereka. Sang ayah sangat marah. Karena dikuasai kemarahannya, ayah itu berniat dalam hati untuk membunuh anaknya.
“Nak, payo tobo ke utan,” ajak si ayah kepada ketiga anaknya. Ketiga anaknya sangat senang diajak ke hutan. Tidak lupa ayahnya membawa cangkul.
“Bak, nak nanam ape?” tanya ketiga anaknya.
“Nak nanam manggo,” jawab  ayah.
Tiba di hutan, ayahnya langsung menggali lubang yang sangat besar dan dalam. Selesai digali. sang ayah menyuruh ketiga anaknya berbaris mengadap lubang. Tiba-tiba, ayahnya mendorong ketiga anaknya ke dalam lubang dan langsung menimbunnya dengan tanah. Setelah itu, sang ayah pulang ke rumah meninggalkan ketiga anaknya yang telah terkubur.
Ternyata, anak ketiganya membawa pisau. Tanah itu pun mereka tusuk-tusuk menggunakan pisau hingga berlubang.  Dari lubang yang mereka buat mereka bertiga berhasil  keluar. Mereka tidak berani pulang karena takut takut dimarahi ayah mereka.
Berhari-hari mereka berjalan keluar masuk hutan hingga mereka menemukan satu pondok. Merasa sangat kelelahan, mereka menghampiri pondok tersebut. Mereka berkenalan dengan pemilik pondok. Ternyata, pondok tersebut milik nenek gergasi  (raksasa).
“Boleh tak kamek numpang di sini, Nek?” tanya ketiga anak iu.
Boleh, tapi harus nyari tumo nenek.”
Mereka pun tinggal bersama nenek gergasi. Setiap hari mereka harus mencari kutu di kepala nenek. Mereka menggunakan palu dan paku sewaktu mencari kutu di kepala nenek karena kutu nenek bukan kutu biasa, melainkan kelabang dan rambut nenek bukanlah rambut biasa, melainkan kawat.
Setiap malam ketiga anak itu selalu ditanya nenek, “Besak ape tak cucur atimu?”
“Kecik, Nek,” jawab anak pertama.
Mendengar jawaban anak pertama, nenek gergasi beralih ke anak kedua, “Besak ape tak cucur atimu?”
“Kecik, Nek,’ jawab anak kedua.
Setelah itu nenek beralih ke anak ketiga, “Besak ape tak cucur atimu?”
“Kecik, Nek,” jawab anak ketiga. Jawaban yang diberi anak ketiga diberitahu kedua kakaknya.
Siang itu anak pertama mengajak kedua adiknya untuk membunuh nenek gergasi. Mereka tidak tahan ditanyai setiap malam. Mereka juga takut dimakan nenek gergasi karena mereka tahu nenek gergasi akan memakan hati mereka ketika hati mereka sudah membesar.
“Kau masak banyu dan kau ecak-ecak ngembek suri di bawah. Kagek aku nyari tumo,” ujar nak pertama meberi tugas kepada adik-adiknya. Kedua adiknya setuju usul kakaknya.
Tiba waktunya, rencana pun dilaksanakan. Sesuai rencana, anak ketiga memasak air dan anak kedua menjatuhkan sisir ke tanah.
“Nek, aku nak ngambek suri nyampak,”
Sampai di bawah anak kedua menarik rambut nenek gergasi yang terselip di sela-sela papan. Anak ketiga nenyiram air panas yang telah dimasak ke tubuh nenek gergasi. Nenek gergasi pun meninggal.
Setelah  nenek gergasi meninggal, mereka bertiga tetap tinggal di rumah nenek gergasi.

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd. (Guru SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III)
Cerita rakyat ini berasal dari Kuala Puntian, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.


…. Suatu pagi ia sangat ingin makan lilin, tetapi ia ingat pesan suaminya. Ia tidak berani melawan pesan suaminya. Akan tetapi, entah mengapa keinginan dalam dirinya sangat kuat memaksa ia agar memakan lilin. Ia pun memakan lilin yang ditinggalkan suaminya….

ZAMAN dahulu di sebuah desa hiduplah sepasang suami istri. Istrinya sedang mengandung anak pertama mereka. Suatu hari suaminya hendak pergi ke dusun seberang.
Dek, aku nak pegi ke dusun seberang. Aku nak bepesan dengan kau,” ucap suaminya
“Ape Kak pesannya tuh?”
“Agek, kalu anak kite lahir jantan kau peliharalah die beek-beek, tapi kalu lahir betine cepat-cepatlah kau kubur die di bawah tangge. Sikok lagi Dek pesanku, lelen (lilin) yang aku tinggalke jangan kau makan!”
“Ngape Kak, mak itu nian?”
“Udelah dak usah banyak nanye.
“Men cak itu, iyo kak aku janji.”
Setelah menyampaikan pesan yang terdengar sangat aneh, suaminya pun pergi. Sepeninggal suaminya, istrinya kembali mengingat pesan yang telah disampaikan suaminya.
Suatu pagi ia sangat ingin makan lilin, tetapi ia ingat pesan suaminya. Ia tidak berani melawan pesan suaminya. Akan tetapi, entah mengapa keinginan dalam dirinya sangat kuat memaksa ia agar memakan lilin. Ia pun memakan lilin yang ditinggalkan suaminya.
Setelah cukup usia kandungannya, istrinya melahirkan. Ternyata, ia melahirkan seorang anak perempuan. Ia memberi nama anaknya Putri Lelen. Ia langsung ingat pesan suaminya. Tentu saja sebagai ibu yang telah berjuang mengandung dan melahirkan anaknya, tidak mungin ia tega membunuh dan mengubur anak kandungnya, darah dagingnya sendiri. Untuk menyelamatkan anaknya, ia membangun sebuah mahligai. Diletakkannya anaknya di atas mahligai. Sekian lama tumbuhlah Putri Lelen menjadi gadis yang cantik.
Suatu hari suaminya pulang dari merantau. Ketika pulang, ia langsung menanyakan anaknya .
“Dek, cak mane dengan anak kite?”
“Cak kate kakak. Men lahirnya betine, langsung dikuburke di bawah tangge. Jadi, anak kite sudem kukuburke,” ucap istrinya gugup.
“Lelen yang kutinggalke, mane?”
“Ade kak, aku simpan.”
Mendengar  jawaban istrinya, legalah hati suaminya. Ia pun masuk ke dalam dan beristiahat.
Suatu hari saat suaminya sedang beristirahat di depan rumah, tiba-tiba datanglah seekor gagak. Gagak sangat sakit hati dengan istrinya karena ia tidak pernah diberi makan. Istrinya mempunyai kebiasaan suka memberi makan burung-burung. Ia tidak tahu kalau burung gagak tidak pernah kebagian makanan. Burung gagak pun bertembang,
“Gak gak bute,
burung benyak diberek makan.
Gagak sikok ketinggalan,
Putri lelen di atas mahligai”
Berkali-kali burung gagak bertembang dan didengarlah oleh suaminya. Suaminya langsung memanggil istrinya.
“Oi Dek, jadi, selame ini kau mbudike aku. Putriku maseh idop. Sekarang suruh die turun dari atas mahligai,” hardik suaminya dengan marah.
Karena takut, istrinya menuruti kehendak suaminya. Dia pun memanggil anaknya sambil nangis dan bertembang,
“Turun emas turun dayang
Turun anakku putri lelen.
Ebakmu endak lelennye
Asal lelen balik lelen.”
“Iye, Mak, Agek aku nak bebaju.” Jawab Putri Lelen.
Ibunya kembali bertembang meminta anaknya turun.
“Turun emas turun dayang
Turun anakku putri lelen.
Ebakmu endak lelennye
Asal lelen balik lelen.”
“Iye, Mak, Agek aku nak beseser,” Jawab putrinya.
Ibunya kembali bertembang,
“Turun emas turun dayang
Turun anakku putri lelen.
Ebakmu endak lelennye
Asal lelen balik lelen.”
Setelah selesai perpakaian dan berisir, turunlah Putri Lelen dari atas mahligai.
“Oi Nak, Mak minta maaf ye. Bakmu tak senang dengan kau. Umak dak pacak nak nak nolong.”
“Iye Mak, aku ikhlas asakke Bak pacak senang ati.”
“Nak kau turun ke kawah itu. Bakmu nak meleburmu jedi lelen.”
Berjalanlah Putri lelen menuju kawah sambil menangis. Perlahan ia memasukkan dirinya ke dalam kawah. Ia pun bertembang,
“Ancurlah badan ancur binase
Ancurlah badanku jadi lelen
Ancurlah badan batas lututku.”
Hancurlah badan Putri Lelen sebatas lutut. Ia pun kembali bertembang,
“Ancurlah badan ancur binase
Ancurlah badanku jadi lelen
Ancurlah badan batas pinggangku.”
Hancurlah badan Putri Lelen sebatas pinggang. Ia pun kembali bertembang,
“Ancurlah badan ancur binase
Ancurlah badanku jadi lelen
Ancurlah badan batas palakku.”
Hancurlah badan Putri Lelen sebatas kepala. Badan Putri pun semakin hancur hingga yang tersisa rambutnya. Melihat tubuh anaknya sudah hancur ibunyapun tidak tega dan segera menyusul. Ia menyusul anaknya masuk ke dalam kawah. Berubahlah ibu dan anak menjadi dua batang lilin.
Melihat anak dan istrinya telah berubah menjadi lelen, suaminya pun menyesal. Apa boleh buat. Anak dan istrinya tidak mungkin berubah lagi. Nasi sudah menjadi bubur.

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S.Pd.(Guru SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III)
Cerita rakyat ini berasal dari Kecamatan Suak Tapeh, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.


…. Sepanjang jalan adiknya terus memanggil-manggil. Setahun berlalu, sampailah mereka di Lubuk Cindewali. Tiba di sana, kakaknya membangun mahligai yang paling tinggi bertiang empat untuk tempat tinggal adiknya….

ALKISAH zaman dahulu hiduplah dua orang saudara kandung, satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka tinggal di ujung desa. Kehidupan dua beradik ini sangat menyedihan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka hanya mengandalkan sayur-sayuran yang ada di pekarangan tempat tinggal mereka.
Suatu hari ketika kakaknya sedang membersihkan pekarangan, ia menemukan sebutir telur. Telur yang ditemukan kakaknya sangat besar dan panjang . Seumur hidup mereka belum pernah melihat telur sebesar itu.
“Akan kumasak telur ini dan akan kumakan,” ucap kakaknya.
“Jangan Kak. Telur ini besar sekali. Bagaimana kalau telur ini telur naga?”
“Ah…sudahlah. Yang penting aku bisa kenyang. Dik. Kamu tidak usah ikut memakan telur ini. Kalau ada apa-apa biar aku yang merasakannya.”
Bergegas kakaknya memasak telur tersebut. Setelah matang, langsung dimakannya. Selesai makan ia merasa sangat kehausan. Ia terus minum untuk menghilangkan rasa hausnya.
Malam harinya, kepala kakaknya berubah panjang, panjang seperti kepala buaya. Badannya tumbuh sisik. Ia terus saja minum. Sampai air di rumahnya habis, ia masih kehausan.
“Dik, kakak akan pergi ke sungai, ya,” ujar kakaknya. Tanpa menunggu persetujuan adiknya, ia langsung pergi ke sungai.
“Srot…srot…srot,” terdengar bunyi kakaknya meminum air. Ternyata setelah diminumnya, air sungai pun kering.
“Kalau air sungai ini pun habis, bagaimana aku minum untuk menghilangkan rasa hausku ini,” ujar kakaknya sambil termenung. Tiba-tiba muncul ide di kepalanya.
“Sepertinya aku harus ke Lubuk Cindewali, Dik.”
“Aku ikut, Kak.”
“Tidak usah, Dik. Kamu di rumah saja.”
“Tidak mau , Kak. Aku tidak mau tinggal di rumah sendirian.”
“Baiklah kalau kau ingin ikut. Sekarang naiklah kau ke kepalaku.”
Segeralah adiknya naik ke kepala kakaknya. Berangkatlah mereka berdua menuju ke Lubuk Cindewali. Sepanjang jalan adiknya memanggil-manggil.

“Mamak-mamak  kamu menebet
Yuk kape Lubuk Cindewali
Kakak ungkaiku jedi nage
Nage bekepala tujuh”

Sesudah adiknya memanggil, tumbuhlah kepala naga menjadi tujuh. Di perjalanan, mereka pun bertemu dengan seseorang yang lagi memotong dahan pohon enau.

“Mamak-mamak kamu menebong
Yuk kape Lubuk Cindewali
Kakak ungkaiku jedi nage
Nage bekepala tujuh”

Mereka juga bertemu dengan seseorang yang sedang memotong dahan kayu.

Mamak-mamak kamu menutoi
Yuk kape Lubuk Cindewali
Kakak ungkaiku jedi nage
Jedi nage kepala tujuh”

Sepanjang jalan adiknya terus memanggil-manggil. Setahun berlalu, sampailah mereka di Lubuk Cindewali. Tiba di sana, kakaknya membangun mahligai yang paling tinggi bertiang empat untuk tempat tinggal adiknya.
“Dik, tanamlah pohon selasih ini. Kalau tanaman ini layu, berarti kakak sakit. Demikian juga kalau tamanan ini mati, berarti kakak juga telah mati,” ujar kakaknya pada adiknya.
Tiga hari kemudian naga ke mahligai melihat kondisi adiknya. Setelah itu, kakaknya tidak pernah lagi terlihat.
Suatu pagi, adiknya melihat tanaman selasih. Ternyata, selasih telah mati. Dengan perasan sedih ia kembali ke rumahnya.
Di suatu tempat, suatu hari seorang laki-laki bernama Sira Panji melepaskan ayam. Tujuannya untuk mencari jodoh. Pergilah ayam yang dilepaskannya dan berhenti di rumah adik si naga.
“Kukuruyuk…kukuruyuk…kukuruyuk…,” terdengar ayam Sira Panji berkokok hingga tiga kali. Suara ayam tadi sampai ke telinga Sira Panji. Ia mencari suara ayamnya dan ia menemukan ayamnya di rumah adik naga. Ia segera meminang adik naga dan dibawalah adik naga ke kerajaan.
Di kerajaan raja mengundang semua warganya untuk merayakan pernikahan Sira Panji. Pernikahan pun dilaksanakan dengan sangat meriah. Setelah lama menikah mereka dikaruniai dua orang anak.
Suatu hari Sira Panji jatuh dari pohon nangka.
“Ibu, bapak jatuh,” teriak anaknya.
“Ah tidak apa-apa, Nak, Bapakmu jatuh. Kakakku mati jadi naga di Lubuk Cindewali.”
Ucapan adik naga ini ternyata didengar suaminya. Masuklah Sira Panji ke dalam rumah.
“Rupanya engkau punya saudara, ya Dik,” tanya suaminya.
“Iya, Kak.”
Setelah mengetahui istrinya mempunyai saudara. Segera Sira Panji mengumpulkan anjing kumbang sebanyak 40 ekor dari hulu dan 40 ekor dari hilir. Anjing-anjing tadi diberinya makan garam. Setelah makan garam, anjing-anjing tadi ia bawa ke Lubuk Cindewali. Sampai di Lubuk Cindewali laut itu pun kering. Putri menemukan tulang. Dia sangat yakin bahwa tulang yang ditemukannya di lubuk Cindewali adalah tulang kakaknya. Dibawanya tulang yang diyakininya tulang kakaknya pulang ke istana.
Sampai di istana, tulang yang ditemukan putri tadi dipukul dengan kelapa hijau. Selesai dipukul, tulang tadi menjelma menjadi kakak putri. Dua beradik ini sangat bahagia karena mereka bisa bertemu dan berkumpul kembali seperti dahulu.

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd. (Guru SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III)
Cerita rakyat ini berasal dari Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. 


…. Tiba di hutan ia mulai berburu. Ia menggantung minumannya di tanduk rusa yang dikiranya ranting pohon. Rusa pun berlari sekuat tenaga. Menyadari minumannya menjauh, langsung Kedolok mengejar rusa. Setelah semakin dekat dengan rusa, Kedolok berusaha melompat di atas pundak rusa. Rusa pun mengelak. Akibatnya, Kedolok jatuh ke tanah. Rusa menghilang dan melarikan diri. Ia langsung pulang dan menceritakan apa yang dialaminya kepada neneknya…

ZAMAN dahulu di sebuah desa terpencil tinggallah seorang yang benama Kedolok. Ia tinggal bersama neneknya. Kedolok adalah lelaki yang sangat bodoh. Cara berbicaranya seperti anak kecil.
Suatu hari Kedolok minta izin kepada neneknya untuk pergi berburu ke hutan. Neneknya pun mengizinkan. Ia segera menyiapkan segala keperluan berburu,  termasuk air minum. Setelah semua siap, ia pergi ke hutan.
Tiba di hutan ia mulai berburu. Ia menggantung minumannya di tanduk rusa yang dikiranya ranting pohon. Rusa pun berlari sekuat  tenaga. Menyadari minumannya menjauh, langsung Kedolok mengejar rusa. Setelah semakin dekat dengan rusa, Kedolok berusaha melompat di atas pundak rusa. Rusa pun mengelak. Akibatnya, Kedolok jatuh ke tanah. Rusa menghilang dan melarikan diri. Ia langsung pulang dan menceritakan apa yang dialaminya kepada neneknya.
Esoknya Kedolok kembali ke hutan lagi untuk berburu. Kali ini dia bernasib sial. Tidak satu pun hasil buruan yang ia dapat. Ia pulang dengan lesu. Saat hampir tiba di rumahnya, tiba-tiba kucing peliharaan neneknya lewat. Kedolok pun menangkapnya dan langsung memasaknya. Setelah masak, ia hidangkan kepada neneknya. Mereka berdua makan dengan lahap. Selesai makan nenek memanggil kucingnya untuk memberikan sisa tulang.
Cing…cing…cing,” panggil neneknya
Ai Nyai nih, ucing adi lah diakan (kucing tadi telah dimakan),” ujar Kedolok.
Mengetahui hal itu tentu saja menjadikan hati nenek sedih. Kucing kesayangannya telah dibunuh, terlebih ia juga ikut memakannya.
Pagi harinya, kembali Kedolok meminta izin kepada neneknya untuk pergi memancing di sungai. Lama ia memancing, tetapi tidak satu ekor ikan pun ia dapat. Hatinya sedikit terhibur karena ia mendapatkan kura-kura. Bergegas ia ke desa seberang untuk menjual kura-kura tersebut.
Biyuku… biyuku,” teriak kedolok sambil mendayung perahunya.
Karena kelelahan, ia pun tertidur dalam perahu. Saat bangun, ia kebingungan mencari dayungnya. Ternyata, dayungnya terhanyut. Ia ingat bahwa tadi ia membawa kura-kura. Ia melihat di perahunya ada kura-kura tetapi ia lupa bahwa benda itu bernama kura-kura. Ketika itu, ia melihat hewan tersebut matanya berkelip-kelip,
Kelip ato, kelip ato,” teriak Kedolok.
Dari kejauhan seorang penduduk meneriaki Kedolok. Kedolok segera menghampirinya.
Kau bejualan ape?” tanya penduduk tersebut.
Kelip ato,” jawab kedolok sambil memperlihatkan kura-kura miliknya.
Ini bukan kelip ato, Kedolok. Ini biyuku,”
Kura-kura itu pun dibeli oleh  penduduk tersebut. Pada waktu itu. penjualan tidak dibayar dengan uang, melainkan ditukar dengan barang lain. Kura-kura Kedolok dibayar dengan beras, gula, dan kelapa.
Kedolok pun pulang ke rumahnya.
Esok paginya Kedolok pergi ke  sebuah desa. Di sana ia menemukan seorang gadis yang telah meninggal di sebuah rumah kosong. Kedolok sangat gembira.
Hore aku apat ini (hore aku dapat bini),”  Kedolok  berteriak-teriak.
Dengan semangat Kedolok menggendong dan membawa mayat gadis itu ke rumahnya. Pada saat malam, mayat itu menjadi hantu dan bersuara.
Pagi harinya neneknya bertanya, “Kedolok, ngepe binimu tuh kalu malam bemasak, siang die tidok. Cubo kek kulihat binimu itu,” ujar neneknya  sambil  pergi melihat istri kedolok.
Oi Kedolok, binimu nih lah mati, mambu busok mak ini.”
Nenek Kedolok segera mengajak Kedolok untuk mengubur mayat gadis itu.
Setelah penguburan itu semua kembali normal.
Esok harinya nenek Kedolok memasak air. Ketika meniup api, neneknya kentut.
Ai mambu ucok, Nyai lah mati (ai, mambu busuk nenek telah mati).”
Kedolok langsung mengubur neneknya hidup-hidup. Setelah itu Kedolok meneruskan pekerjaan neneknya. Ditiupnya api. Tiba-tiba kedolok kentut. Ia berguman,
Ai aku ucok lah ati
Kedolok pun menggali lubang dan mengubur dirinya. Setelah dirinya terkubur sebatas badan, beberapa temannya lewat. Mereka merasa aneh dengan perbuatan Kedolok.
Kau ngape Kedolok?” tanya salah satu temannya.
Aku lah ati.”
Idak Kedolok, kau tuh dak mati,” jawab mereka.
Teman-temannya pun langsung mengeluarkan Kedolok dari lubang.
Nyaimu jugo dak mati, Kedolok,” ujar temannya.
Bersama-sama mereka mengeluarkan nenek Kedolok. Tetapi, sia-sia. Setelah dikeluarkan, nenek Kedolok sudah meninggal. Mereka kembali mengubur nenek Kedolok.
Setelah mengubur nenek,  Kedolok diajak teman-temannya mencuri di rumah raja.
Kedolok, kalu ade yang segi empat kau teriake be,” pesan kawannya.
Kedolok pun ikut pergi mencuri. Sampai di dalam rumah, Kedolok menarik kasur anak raja dan menyebabkan anak raja terbangun. Ia pun menemui teman-temannya.
“Kedolok, yang empat itu bukan kasur, tetapi duit,” kata salah seorang temannya. Mereka segera lari terbirit-birit karena ketahuan dan takut tertangkap.
Sampai di sebuah tempat dan setelah merasa aman, Kedolok dan teman-temannya beristirahat. Mereka kelelahan dan juga kehausan. Di tengah rasa dahaga itu mereka menemukan minuman. Kedolok minum terlebih dahulu karena tempatnya tinggi. Kedolok mengambil minum dengan cara menaiki teman-temannya. Setelah selesai beristirahat, mereka pun pulang ke rumahnya masing-masing.

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd. (Guru SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III)
Cerita rakyat ini berasal dari Kuala Puntian, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.