Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Sastra Tutur’

Pada zaman dahulu hiduplah seorang pendekar yang bernama Ling. Ia adalah salah satu keturunan Muyang Muning. Pendekar Ling sangat gagah, kulitnya kuning langsat, dan rambutnya panjang hingga ke tumit. Hampir setiap gadis di pedukuhan Pangkalan Balai terpesona dan kagum melihatnya. Pada masa itu, yakni masa peralihan agama Hindu-Budha ke agama Islam, ada sebuah kerajaan besar [...]

Pada zaman dahulu, di salah satu desa hiduplah seorang anak perempuan dan ibunya. Anak perempuannya bernama Siti Gelembung. Nasib Gelembung sangat malang. Setiap hari pagi-pagi sekali Gelembung ditinggalkan ibunya ke kebun dan menjelang malam ibunya baru pulang ke rumah. Setiap sebelum pergi Ibunya selalu berpesan kepada Gelembung agar tidak pergi kemana-mana, apalagi pergi jauh dari [...]

Di suatu dusun yang terletak di tengah hutan belantara, hiduplah satu keluarga yang miskin. Mereka tinggal di sebuah rumah yang biasa disebut pondok. Mereka terdiri dari ibu dan kedua anaknya. Ibunya sudah tua dan biasa dipanggil Mak Bo. Anaknya yang tua bernama Hiju dan yang kecil bernama Hanur. Mereka hidup seadanya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, [...]

SAAT ini mungkin sudah semakin jarang kita menemukan kebudayaan tradisional Banyuasin dipentaskan. Seni tutur serambe dan senjang, misalnya, sudah banyak yang tidak mengenalnya lagi. Hal ini bila dibiarkan, maka di masa depan masyarakat Banyuasin akan kehilangan budaya adiluhung peninggalan para leluhurnya. Oleh sebab itu, para pemangku kepentingan seperti Dinas Pariwisata Seni Budaya Pemuda dan Olahraga [...]

Zaman dahulu di sebuah desa hiduplah dua orang anak yatim piatu. Kakaknya bernama Lematang dan adiknya bernama Tanjung. Mereka hidup dalam kemiskinan. Mereka berdua saling menyayangi. Lematang berwajah tampan, orangnya baik, beriman, dan pemberani. Sedangkan adiknya seorang yang sangat manja dan penakut. Suatu hari Tanjung  menangis karena kelaparan. “Kak, lapar! Apa yang bisa aku makan?” [...]