Oleh: Irwan P. Ratu Bangsawan

A. Kuliner Banyuasin Versus Kuliner Impor

sayur rampai talang

Gengan Rampai Talang

Kuliner Banyuasin merupakan perwujudan beragam tradisi budaya yang dimiliki masyarakat Banyuasin. Tradisi tersebut merupakan interaksi masyarakat setempat dengan masyarakat dari beragam suku yang ada di Banyuasin.

Secara umum, kuliner Banyuasin memiliki bentuk dan citarasa yang mirip dengan beberapa masakan lainnnya yang ada di Sumatera Selatan. Masakan pindang, misalnya, hampir di seluruh Sumatera Selatan memiliki masakan sejenis ini. Sebagaimana kita ketahui, kita mengenal pindang Pegagan, pindang Meranjat, pindang Sekayu, dan pindang Musi Rawas. Dari segi citarasa, masakan lokal Banyuasin dan Sumatera Selatan adalah masakan yang kaya dengan berbagai rempah, seperti cabai, kunyit, merica, dan laos.

Seiring dengan semakin terbukanya Banyuasin bagi masyarakat luar, masakan dari luar, terutama masakan asing juga mulai masuk ke Banyuasin. Kedai fried chiken, fizza, dan burger juga telah hadir di Bumi Sedulang Setudung ini. Persaingan yang begitu terbuka antara kuliner lokal dan asing kadang kala menimbulkan kecemasan tersendiri. Namun, kehadiran masakan impor tersebut belum sampai mengganggu bisnis kuliner masyarakat lokal.

Mampukah kuliner lokal kita menghadapi kuliner asing, terutama waralaba asing yang telah begitu terkenal? Jawabannya tentu tergantung pada segmen pasarnya. Di segmen bawah, masakan lokal masih jauh lebih unggul daripada hamburger atau sushi karena segmen bawah masih lebih mengutamakan makanan berbasis nasi/mie atau yang harus dimakan sebagai lauk nasi.

Persaingan yang sesungguhnya terjadi adalah antarmasakan lokal Banyuasin dan lokal lainya, terutama dengan masakan pecel lele dari Pulau Jawa. Hampir di setiap pelosok Banyuasin beragam warung tenda pecel lele hadir memanjakan para pecinta masakan tradisional. Hal ini jauh berbeda dengan masakan gengan ikan gabus, misalnya, yang hanya ada di tempat-tempat tertentu, terutama di Pangkalan Balai. Itu pun jam bukanya menyesuaikan dengan jam perkantoran. Hal ini kontras dengan warung tenda pecel lele yang bahkan ada yang buka 24 jam.

B. Kuliner Banyuasin

Kuliner Banyuasin, sebagaimana kuliner Sumatera Selatan lainnya, memiliki tradisi kuliner yang penuh dengan cita rasa yang kuat. Hampir seluruh masakan Banyuasin kaya dengan bumbu yang berasal dari rempah-rempah seperti kemiri, cabai, lengkuas, jahe, kunyit, dan merica dengan diikuti penggunaan teknik-teknik memasak menurut bahan dan tradisi yang dipengaruhi oleh India dan Timur Tengah.

Kuliner asli Banyuasin banyak dipengaruhi oleh kuliner Palembang. Hal ini disebabkan Banyuasin adalah daerah yang berbatasan langsung dengan kota Palembang. Selain itu, bila dilihat dari sisi sejarah Banyuasin dahulunya termasuk dalam Karesidenan Palembang. Dengan demikian pengaruh Palembang dalam perkembangan kuliner di Banyuasin sangat kuat. Beberapa kuliner yang dipengaruhi Palembang antara lain: pindang, beragam sambal, beragam pempek, tekwan, model, kue rangi, kue engkok, bolu kojo, dan bolu maksuba.

Dalam tradisi kuliner Banyuasin juga berkembang masakan gengan dan pindang. Kedua jenis masakan yang kaya dengan rempah tersebut sesungguhnya memiliki resep yang relatif sama. Perbedaannya hanyalah pada penggunaan kunyit. Bila masakan tersebut menggunakan kunyit maka ia disebut “gengan” dan bila tanpa kunyit ia disebut “pindang”. Gengan yang terkenal di Banyuasin antara lain gengan rampai talang dan gengan iwak ruan (ikan gabus) (***)

Tautan Resep Masakan Khas Banyuasin:

  1. GENGAN RAMPAI TALANG
  2. GENGAN ASAM PEDAS BURUNG PUNAI
  3. SAMBAL PETIS ASAM PAO
  4. TUMIS TENEWEN RANGU
  5. BEKASAM UDANG
  6. PEDE IKAN GABUS
  7. KUE RANGI
  8. KUE GULA KELAPA
  9. KUE ENGKOK

Nama Tarian Tari Ngundang
Pencipta Nana Lusiana
Jumlah Penari 8 (delapan) orang
Durasi 5 (lima) menit
Musik Pengiring Perkusi dan Orgen
Perlengkapan
Makna Tari ini menceritakan kebiasaan masyarakat Banyuasin dalam mengumpulkan sanak saudara dan handai tolan untuk menghadiri dan membantu acara hajatan atau persedekahan. Ngundang atau mengundang merupakan tradisi turun temurun masyarakat Banyuasin. Kegiatan ngundang biasanya dilakukan seminggu sebelum acara persedekahan dilaksanakan.

tari ngundang


Nama Tarian Tari Munai Serapah
Pencipta Raden Gunawan, S.Sos., Edwin Hardi, S.Sos. (Boy), Sari Melati
Jumlah Penari 7 (tujuh) orang
Durasi 6 (enam) menit
Musik Pengiring Perkusi, Orgen, Gong, dan Biola
Perlengkapan Lampu Teplok, Guci, Selendang
Makna Tari ini menceritakan tentang kecantikan seorang gadis yang kaya raya dengan harta yang berlimpah sehingga banyak bujang yang mendekatinya tetapi hanya menginginkan hartanya saja.

Sang gadis pun murka dan bersumpah serapah dengan membuang semua hartanya yang akhirnya berubah menjadi sungai yang dikenal dengan sungai Tampok Kepengen.

Cahaya kecerahan dalam kehidupan dikiaskan dalam dian (lampu). Kilau harta menyilaukan mata, kecantikan mempesona hati, cinta terabaikan karena ketamakan, dan keserakahan duniawi timbulkan penyesalan sampai mati.

tari munai serapah

 


New Picture (1)

Nama Tarian Tari Bebere
Pencipta Romadhoni Saputra
Jumlah Penari 6 (enam) orang
Durasi 7 (tujuh) menit
Musik Pengiring Musik Melayu (lengkap)
Perlengkapan Dupa
Makna Tari Bebere menggambarkan salah satu cara pengobatan yang menggunakan bara api yang diberi jampi-jampian. Pengobatan ini dilakukan dengan memanaskan tubuh sang pasien dengan cara didekatkan pada bara api yang panas hingga sang pasien mengeluarkan keringat yang banyak. Karena telah mengeluarkan banyak keringat, sang pasien dianggap sembuh karena penyakitnya sudah keluar. Pasien pun bisa beraktivitas seperti biasa.

Bebere bisa mengobati berbagai macam penyakit baik penyakit yang biasa maupun yang terkena guna-guna. Masyarakat Banyuasin pada masa lalu sangat mempercayainya.


akar

Nama Sendratari Sendratari Akar Serekan
Pencipta Raden Gunawan, S.Sos.
Jumlah Penari 40 (empat puluh) orang
Durasi 30 (tiga puluh) menit
Musik Pengiring Perkusi, keyboard, Gitr, dll
Perlengkapan Menyesuaikan
Makna Konon cerita pada zaman dahulu kala, di Desa Terlangu, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin hidup delapan bersaudara. Mereka terdiri dari tujuh saudara perempuan dan seorang laki-laki. Mereka tinggal bersama neneknya bernama Nenek Meruya. Delapan bersaudara ini hidup dengan aman dan nyaman bersama nenek. Mereka selalu bersama-sama dalam melakukan segala sesuatu baik pada saat bermain, bekerja maupun bersenda gurau.

Ketujuh saudara perempuan itu bernama Putri Seru, Putri Sungkai, Putri Pulai, Putri Dadap, Putri Sekemput, Putri Brotowali, Putri Serekan.

Mereka bertujuh menyayangi adik laki-laki satu-satunya yangbiasa dipanggil dengan nama kesayangannya Dek Nang yang berarti adik lanang atau adik laki-laki.

Dalam kehidupan sehari-hari, mereka menyadap karet danmengambil akar serekan untuk dijadikan alat rumah tangga seperti bakul, keruntung dan tombak. Mereka pergi ke hutan ketika pagi dan kembali saat menjelang siang, begitulah seterusnya setiap hari kehidupannya. Entah apa yang terjadi pada Putri Serekan dan apa yang sedang memasuki pikirannya, saudara pengais bungsu itu tiba-tiba mempunyai perilaku buruk. Ia sering memusuhi saudara-saudaranya sehingga keenam saudaranya diusir ke tengah hutan dan neneknya tidak bisa berbuat apa-apa. Nenek pun tidak sanggup lagi menghadapi sifat buruk Putri Serekan itu. Ia hanya bisa berdoa agar cucunya itu segera sadar. Konon cerita keenam putri itu menjadi akar-akar liar di dalam hutan.

Kini hanya tinggal mereka bertiga yaitu Putri Serekan, Dek Nang dan Nenek Meruya. Pada suatu sore Putri Serekan mengajak Dek Nang ke dalam hutan untuk mencari binatang buruan sambil bermain dengan Dek Nang. Setibanya di dalam hutan tiba-tiba Putri Serekan mendorong Dek Nang ke dalam semak-semak belukar sesaat kemudian Dek Nang terseret ke sana kemari dan karena terlilit akar akhirnya hilang dalam semak belukar. Dek Nang masih hidup dan bertapa. Dalam pertapaannya ia berharap agar kakak perempuannya Putri Serekan itu segara sadar akan kelakuannya yang buruk dan segera mencarinya.

Setelah sekian lama adiknya menghilang, ia tak tahan melihat kesedihan Nenek Meruya, Putri Serekan pun perlahan menyadari kesalahannya. Ia akhirnya memutuskan pergi ke hutan dan berniat mencari adiknya itu. Setelah lama berkeliling di tengah hutan bertemulah Putri Serekan dengan adiknya Dek Nang yang telah lama menghilang. Dalam pandangan Putri Serekan dari kejauhan, penampilan Dek Nang dalam posisi sedang bertapa. Ia ragu untuk menegurnya, tapi Tuhan berkehendak lain, tiba-tiba datanglah angin puyuh yang sangat kuat sehingga Dek Nang terbawa angina dan tersangkut pada akar-akar liar di hutan.

Putri Serekan tertegun menyaksikan kejadian itu. Ia berusaha ingin menyelamatkan adiknya tapi semuanya sudah terlambat.

Adiknya yang tersangkut di akar liar itupun ikut berubah menjadi akar menyusul keenam puteri saudara lainnya yang telah lebih dulu menjadi akar. Tinggalah Putri Serekan dengan penyesalan yang teramat dalam akan keburukan dirinya itu. Dari kisah itulah maka akar tersebut dinamakan Akar Serekan hingga dijadikan sendratari ini.


.

Nama Tarian Tari Persembahan Sedulang Setudung
Pencipta Raden Gunawan, S.Sos.
Jumlah Penari 10 (sepuluh) orang, 7 (tujuh) orang penari putri & 3 (tiga) orang penari putra
Durasi 6 (enam) menit
Musik Pengiring Perkusi, Orgen, dan Gong
Perlengkapan ·        Dulang & Tudung (berisi sekapur sirih);
·        Payung, Kojor, dan Serampang;
·        Prindon yang berisi beras kunyit;
·        Prindon tempat ludah;
·        Senik (keranjang) yang berisi hasil bumi;
·        Bubu (perangkap ikan) yang berisi hasil laut.
Ragam Gerak ·        Gerak Kecubung, Doa, Lentang, Nabek, Sawit, Mantang, Ngangkit, Jerembe Ngayun;
·        Gerak badan turun, menda’, duduk, rebah, tegak, ngayun, dan lentur;
·        Gerak kepala: pada umumnya gerak kepala mengikuti arah gerakan tangan dan pandangan mata.
Gerakan ·         Hormat Sembah;
·         Kecubung Bawah (dari Tari Gending Sriwijaya);
·         Silang Doa Tolak Balak;
·         Rentang (melambangkan Balai Panjang);
·         Nabek Bawah (Penghormatan untuk raja tempo – dari Tari Stabek Musi Banyuasin);
·         Ulur Pancing Naik (sebagian mata pencarian penduduk Banyuasin sebagai nelayan);
·         Jeramba Miring (dari Tari Seluang Mudik);
·         Sawit (merupakan salah satu hasil perkebunan unggulan di Banyuasin);
·         Mantang (sebagian mata pencarian pendudik Banyuasin adalah menyadap karet (mantang para);
·         Ngangkit;
·         Nabek Atas;
·         Ngayoh Goyang di atas Perahu;
·         Tarik Pancing;
·         Hormat;
·         Berdiri/Pulang.
Gerakan Inti dan Maknanya ·         Ngambur: Gerakan menabur beras kunyit, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu yang datang ke Banyuasin;
·         Hormat: Gerakan mempertemukan kedua telapak tangan, dengan jari yang tersusun rapi di depan dada, sebagai tanda hormat kepada tamu yang datang. Gerakan ini dilakukan di awal dan di akhir tarian;
·         Kecubung Bawah: Kecubung (Datura metel, Linn.) merupakan nama salah satu bunga yang biasa digunakan oleh para leluhur sebagai bahan pengobatan;
·         Doa Tolak Balak: Merupakan ekspresi dar doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar terhindar dari berbagai masalah;
·         Rentang: Gerakan merentangkan tangan yang menggambarkan bahwa dahulu terdapat balai yang panjang di Banyuasin, tepatnya di Pangkalan Balai saat ini;
·         Nabek Bawah dan Nabek Atas: Nabek berarti hormat. Pada masa lalu, istilah tersebut digunakan sebagai tanda penghormatan kepada raja;
·         Ulur Pancing dan Tarik Pancing: Gerakan seperti mengulur dan menarikntali pancing. Hal ini menggambarkan salah satu mata pencarian yang ada di Banyuasin, yaitu nelayan. Banyuasin terbagi dalam dua wilayah perairan, yaitu wilayah asin dan tawar;
·         Jerembe: Jerembe berarti jembatan. Gerakan tangan yang dibentuk miring yang menggambarkan bahwa dahulu di Banyuasin terdapat jembatan yang mirig terbuat dari besi;
·         Sawit: Gerakan tangan seperti pelepah sawit yang melengkung ke bawah, menggambarkan mata pencarian dan kekayaan alam yang ada di Banyuasin.
Pola Lantai Pola lantai Tari Sedulang Setudung menggunakan ruang pentas porsenium di mana audien/penonton hanya dapat mengamati /menonton dari sisi depan saja. Hal ini diakukan karena tari ini mempunyai sasaran hanya pada tamu saja.

Ada pun pola lantainya adalah sebagai berikut:

New Picture (3)

1 = Pembawa Tepak Sekapur Sirih
2 = Pembawa Tutup Tepak
3 = Pembawa Prindon (Tempat Sepah/Ludah)
4 = Pembawa Hasil Perikanan/Hasil Laut
5 = Pembawa Perkebunan/Pertanian
6 = Pembawa Beras Kunyit
7 = Pembawa Beras Kunyit

a = Pembawa Payung Kebesaran
b = Pembawa Tombak Kujur
c = Pembawa Tombak Serampang

Catatan:
Kode angka = Penari Putri
Kede huruf = Penari Putra

Peralatan Peralatan yang dibawa oleh tujuh penari putri dan tiga penari putra adalah sebagai berikut:

Penari Putri:
1 = Membawa tepak yang berisi sekapur sirih. Di dalamnya terdapat lima buah mangkok kecil yang masing-masing berisi getah, kpur, pinang, tembakau, dan daun sirih.
Dipersembahkan untuk para tamu kehormatan yang datang, sebagai rasa penghormatan dan ucapan selamat datang.
2 = Membawa prindon (tempat sepah/ludah yang terbuat dari kuningan)
Diibaratkan untuk menampung sepah/ludah tamu setelah mencicipi sekapur sirih.
3 = Tidak membawa properti.
Berperan sebagai pembuka tepak.
4 = Membawa bubu (alat untuk menangkap ikan) yang di dalamnya terdapat ikan-ikan plastik.
Hal ini menunjukkan salah satu mata pencarian yang ada di Banyuasin, yaitu nelayan dan sebagai lambang bahwa Kabupaten Banyuasin kaya akan hasil lautnya.
5 = Membawa senik (keranjang dari lidi enau) yang di dalamnya terdapat padi, biji karet, dan biji sawit.
Hal ini menunjukkan tentang mata pencarian dan hasil bumi yang ada di Banyuasin, yang sebagian besar adalah petani sawah (pangan), karet, dan sawit.
6 = Membawa sebuah mangkok yang terbuat dari kuningan, di dalamnya berisi beras yang sudah dilumuri kunyit yang akan ditaburkan.
Hal ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu yang datang ke Banyuasin.
7 = Membawa properti seperti penari nomor 6.

Penari Putra:
a = Membawa payung untuk memayungi penari yang membawa tepak, ketika menari dan mempersembahkan sekapur sirih pada tamu kehormatan.
Payung merupakan bentuk perlindungan kepada masyarakat Banyuasin serta daerah kekayaan lain.

b = Membawa tombak kujur, bentuk pengawalan kepada penari.
Hal in menunjukkan alat keamanan yang digunakan masyarakat Banyuasin dahulu, utuk melindungi daerah Banyuasin beserta kekayaan yang ada di dalamnya.

c = Membawa Tombak Serampang (tombak yang ujungnya berbentuk seperti garpu), fungsinya sama seperti pada penari b.

Busana ·         Aesan Pak Singkong (Penari Putri):

®     Kain Songket
®     Teratai
®     Selempang
®     Gelang Gepeng
®     Pak Singkong
®     Cempako
®     Gelong Malang
®     Baju Beludriu (bertabur angkinan)
®     Kembang Urai
®     Kain Pelangi
®     Kecak Tangan
®     Kalung Kebo Munggah
®     Gelang Kano Sumping
®     Kelapa Setandan
®     Sundur
®     Gandek
®     Tanggai
®     Antingan Bulan Bintang
®     Pending

·         Jubah Panjang & Tajung Rumpak (Penari Putra):
®     Baju Jubah Beludru (bertabur angkinan)
®     Baju Dalaman Beludru
®     Celana Beludru
®     Tajung Rumpak
®     Tanjak
®     Badong
®     Sandal Tutup/Terompah

Lagu Pengiring dan Makna Tarian Lagu Pengiring:

Tarian ini diiringi musik tradisional yang beraliran Melayu, disertai lagu daerah yang berjudul Petuah Munai. Di dalam syair lagu Petuah Munai terkandung cerita yang disampaikan kepada orang yang mendengarkannya, juga merupakan pesan bagi masyarakat Banyuasin sendiri.

PETUAH MUNAI

Munai Serumpun asal mule dusun kite ini
(Munai Serumpun asal mula dusun kita ini)

Negeri beredet, bebudeye, beigame
(Negeri beradat, berbudaya, beragama)

Moyang Muning Munai name ninek kite dulu
(Moyang Muning Munai nama leluhur kita dulu)

Moyang bepesan tuk segele anak ngan cucong
(Moyang berpesan untuk semua anak dan cucu)

Jege dusun tanah bruyut adet budeye
(Jaga dusun tanah leluhur, adat budaya)

Belindung di beweh tudung kebesa’an
(Berlindung di bawah payung kebesaran)

Jegelah adet budeye dusun kite ini
(Jagalah adat budaya dusun kita ini)

S’moge Sedulang Setudung damai besame
(Semoga Sedulang Setudung damai bersama)

Makna Tarian:
Tari ini selalu ditampilkan pada acara-acara resmi penyambutan tamu kehormatan yang dating ke Banyuasin dengan suguhan Tepak yang ditutup Tudung yang berisi sekapur sirih simbol menghormati tamu. Tarian ini sudah disosialisasikan sejak tahun 2010 di seluruh kecamatan di Banyuasin dan sudah dikenal kalangan masyarakat dan para pelajar di Banyuasin dan Provinsi Sumatera Selatan, bahkan pernah ditampilkan di Malaysia dan Singapura. Kostum pakaian Sedulang Setudung menggunakan baju kurung, kain songket, angkinan, teratai dan gelang. Warna baju dan songketnya menonjolkan warna orange sesuai dengan warna favorit kabupaten Banyuasin. Durasi tarian Sedulang Setudung yang ditampilkan untuk menyambut tamu mencapai tujuh menit, namun jika ditampilkan dalam acara perayaan pernikahan biasanya paling lama lima menit.