Setelah Fajar

Posted: 22 Maret 2017 in Puisi, Sastra

Setelah fajar, ada yang ingin kutemui
di sini
dt tempatku berdiri
sendiri
tanpa baju
hanya berpiyama warna ungu
tapi,
hingga matahari sampai ke ubun-ubun
tak juga ada yang ingin kutemui
masih tanpa baju
dan,
hanya berpiyama warna ungu
aku tetap menunggu
hingga fajar esok hari
di sini
di tempatku berdiri
sendiri

Banyuasin, 05072013


196369-0_663_382Kabupaten Banyuasin merupakan kabupaten yang relatif masih muda usianya. Banyak masyarakat Indonesia yang belum mengenal kabupaten yang berjulukan “Sedulang Setudung” ini. Banyak potensi yang dimiliki Banyuasin, mulai dari perkebunan, kehutanan, pertanian, pertambangan hingga pariwisata.

Di bidang pariwisata, walaupun belum memiliki infrastruktur yang memadai, Banyuasin memiliki Taman Nasional Sembilang yang terkenal sampai ke mancanegara. Di samping itu, kabupaten “urang melayu” ini memiliki banyak potensi agrowisata yang menanti untuk dikembangkan.

Selengkapnya tentang potensi pariwisata Kabupaten Banyuasin, silakan unduh tautan berikut:

FASCINATING BANYUASIN ~ DESTINASI WISATA UNGGULAN KABUPATEN BANYUASIN

KITAB SIMBUR CAHAYA

Posted: 6 Maret 2017 in Seni Budaya, Unduh Pdf

Kitab Simbur Cahaya merupakan kitab undang-undang hukum adat, yang merupakan perpaduan antara hukum adat yang berkembang secara lisan di pedalaman Sumatera Selatan, dengan ajaran Islam. … Kitab Simbur Cahaya, ditulis oleh Ratu Sinuhun yang merupakan isteri penguasa Palembang, Pangeran Sido Ing Kenayan (1636 – 1642 M).

Selengkapnya silakan unduh tautan berikut:

KITAB SIMBUR CAHAYA


Saat ini sastra tutur seperti “ande-ande panjang” di Banyuasin sudah sangat jarang ditampilkan. Ande-ande panjang adalah seni bercerita di mana sang penutur bercerita dengan menggunakan syair sambil duduk di atas panggung. Cabang seni tradisional khas Banyuasin ini dapat dikatakan imagessudah hampir punah. Sebagai contoh, di Kota Pangkalanbalai, yang masih bisa mementaskan ande-ande panjang adalah Bpk Affanul Z. Khair.

Selengkapnya silakan unduh ditautan berikut:

SLIDE PAPARAN REVITALISASI SASTRA DAERAH BANYUASIN


Bagi Anda yang memerlukan panduan untuk penomoran buku perpustakaan, berikut kami sampaikan PANDUAN PENOMORAN BUKU MENURUT DDC. Silakan diunduh ditautan berikut:

PANDUAN PENOMORAN BUKU MENURUT DDC


Oleh: Irwan P. Ratu Bangsawan, M.Pd.

Sudah beberapa dekade ini ada semacam keresahan di kalangan orangtua dan pendidik tentang perilaku para anak/siswa mereka. Keresahan tersebut dimulai dari semakin surutnya rasa hormat anak terhadap orangtua, kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, hingga anak terlalu asyik dengan gawai (gadget).
Salah satu sasaran tembak penyebab buruknya perilaku anak tersebut adalah dunia pendidikan. Ada anggapan bahwa dunia pendidikan terlalu menekankan ranah kognitif dan mengabaikan ranah afektif dan psikomotorik. Kecerdasan dan keberhasilan anak diukur dari nilai ulangan/tes tertulis. Tak jarang siswa yang memiliki keterampilan tertentu, seperti menjadi pesepakbola dan penari, tetap diberi stempel sebagai anak “bodoh” manakala ia tak mampu menyelesaikan sederet tes Matematika dan Bahasa Inggris,
Untuk mengeliminasi semakin memburuknya perilaku anak, pemerintah mulai serius memerbaikinya dengan mengintroduksi “Pendidikan Karakter”. Pendidikan Karakter dipahami sebagai suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan kokurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan.

Kontroversi Pendidikan Karakter
Kehadiran Pendidikan Karakter sesungguhnya bukanlah merupakan sesuatu yang benar-benar baru. Pada masa lalu kita pernah mengenal Pendidikan Budi Pekerti dan Pendidikan Moral Pancasila. Namun, kedua macam pendidikan tersebut hadir sebagai sebuah mata pelajaran sebagaimana mata pelajaran lainnya. Sebaliknya, Pendidikan Karakter hadir bukan sebagai sebuah mata pelajaran melainkan inheren dalam semua aspek pembelajaran di lingkungan sekolah.
Dalam pelaksanaannya, Pendidikan Karakter tidaklah semudah membayangkannya. Guru-guru yang sudah sangat sibuk dengan kewajiban mengajar 24 jam harus benar-benar ekstra keras mengaplikasikan Pendidikan Karakter dalam berbagai sendi kehidupan di sekolah, termasuk di mata pelajaran yang mereka ampu. Di sinilah kontroversi mulai muncul. Bagi kaum rasionalitas, kesadaran rasional sudah cukup untuk menumbuhkembangkan karakter yang baik. Sementara bagi kaum spiritualis, pendidikan karakter harus terkait dengan agama yang dianut seseorang.
Menurut Haidar Bagir, dalam pandangan dunia ini, moralitas bersifat deontologis, bukan pragmatis atau transaksional. Sampai di sini, tampak jelas bahwa persoalan pendidikan karakter sangat terkait dengan aliran pemikiran yang dianut. Bagi aliran rasional, tak diperlukan upaya pendidikan karakter secara khusus. Jika orang sudah memiliki rasionalitas, dia akan terdorong untuk bertindak etis. Bagi kelompok yang lain, diperlukan semacam latihan spiritual khusus dalam pusat-pusat pendidikan, bahkan kerohanian agar seseorang bertindak etis.
Malah, bagi kelompok yang pertama, menurut Bagir, pendidikan karakter secara khusus justru dipandang bisa kontraproduktif dalam menghasilkan pribadi-pribadi berkarakter. Karena ada kecenderungan–sifatnya yang bisa subjektif alias bias–ia justru mendistorsi rasionalitas. Bagi yang lain, tanpa latihan-latihan spiritual sulit untuk menjadikan orang berkarakter. Sudah sejak Aristoteles, pendidikan karakter diidentikkan dengan upaya-upaya habituas pembiasaan yang akan dapat mengaktualkan potensi karakter/moral/budi pekerti itu.

Aktualisasi Pendidikan Karakter
Kasus-kasus narkoba, perkelahian antarpelajar, dan pergaulan bebas dapat diterjemahkan sebagai gejala memudarnya pemahaman, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Untuk itu, ada baiknya pemerintah harus lebih fokus mengaktualisasikan Pendidikan Karakter. Pendidikan Karakter jangan terjebak pada unjuk kerja yang menekankan ranah kognitif, tetapi secara inheren juga memasukkan ranah afektif dan psikomotorik dalam kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Pentingnya pengorientasian pendidikan karakter kepada ranah afektif dan psikomotorik, sebagai bagian proses habituasi ini, lebih terkait dengan penciptaan atmosfer lingkungan pendidikan. Termasuk role-modelling, yang kondusif dan pelibatan secara praktis dan langsung peserta didik ke dalam berbagai kegiatan praktis dan kontekstual. Lebih dari itu, bahkan bagi para penganut mazhab pendidikan karakter ini, pemuatan secara menyatu pendidikan karakter dan moralitas ke dalam sekujur kegiatan kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler yang relevan, bukan hanya dalam pelajaran semacam Pendidikan Agama.
Akhirnya, perlu juga dipahami bahwa Pendidikan Karakter juga diharapkan mampu untuk melakukan upaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya karakter siswa dan jati diri bangsa yang berbasis pada keragaman dan kearifan lokal serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Karakter harus mampu menghadapi berbagai permasalahan yang masih dihadapi antara lain, adanya kecenderungan: 1) menurunnya pemahaman, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari; 2) menurunnya kualitas penggunaan bahasa Indonesia dan rasa cinta terhadap produk dalam negeri; 3) rendahnya kesadaran akan keberagaman budaya, nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal serta penghormatan terhadap adat, tradisi, dan kepercayaan; 4) menurunnya daya juang dan budaya kerja (etos kerja) serta sikap tenggang rasa dan toleransi terhadap perbedaan yang dapat memicu terjadinya konflik sosial; dan 5) menguatnya nilai-nilai priomordialisme dan fundamentalisme yang dapat mengancam disintegrasi bangsa (Renstra Kemendikbud 2015-2019) (***)


logo-muhammadiyahSaya seorang hamba Allah di bumi Allah ingin menanyakan kasus berikut: Ada seorang laki-laki Muslim berbuat zina dengan seorang wanita Katolik sehingga hamil sekian bulan, lalu ia ingin bertanggungjawab dengan menikahinya dengan kondisi berikut:

  1. Wanita Katolik tesebut menginginkan menikah di gereja dengan cara Katolik kemudian setelahnya menikah secara Islam, kemudian catatan negara dilakukan dengan administrasi Katolik, sedangkan secara Islam tanpa catatan.
  2. Kemudian keduanya setelah itu hidup berkeluarga dalam keadaan berbeda agama. Dalam hal ini pihak laki-laki istilahnya terpojokkan karena sudah menghamili sehingga HARUS menikahi dengan cara tersebut, dengan tetap pada keyakinan masing-masing.

Selengkapnya silahkan unduh tautan berikut:

UNDUH: HUKUM NIKAH BEDA AGAMA