Kasih Ibu Sepanjang Waktu

Posted: 11 November 2016 in Agama

Perbedaan Sup dan Soto

Posted: 26 Agustus 2016 in Catatan Budaya, Kuliner

…. Mungkin perbedaan lain adalah dari banyaknya jenis dan perbedaan dan perpaduan bumbu serta kuah….

soto dan sopMungkin sudah terlalu sering perbedaan ini ditanyakan semua orang.
Apa bedanya soto dan sop?
Hingga sekarang belum ditemukan jawaban pastinya.

Saya coba ber-andai-andai secara teoritis kalau memakai santan dan gurih, seharusnya disebut soto, tetapi, bila bening disebut sop.
Namun banyak soto yang bening, misalnya: soto bandung, soto banjar, dan soto kudus.
Selain itu, banyak juga sop yang tidak bening-bening amat. Sop brenebon (kacang merah, bruinebonen) dari Manado adalah contohnya.
Kalau pertanyaan itu diperluas dengan kuah asam dari Minahasa dan palu basa dari Makassar, maka teorinya jadi semakin kacau.

Ada juga teori lain yakni dilihat dari cara memasak dan bahan-bahan yang digunakan.

Sup, rata-rata kuahnya bening dan dimasak dengan beraneka sayuran seperti kol, wortel, brokoli, kentang atau buncis.
Kalau masak sup ayam atau sup daging sapi, pasti ketemu sayuran-sayuran diatas.
Semuanya dimasak dalam satu panci, sehingga kaldunya berasa campuran daging dan sayuran.

Soto, dimasak hanya menggunakan campuran daging saja tanpa sayuran, walaupun ada kecambah sebagai penambahan saja dan tidak dimasak bersamaan tapi terpisah.
Soto tidak pernah dimasak bersama sayuran, hanya saja untuk penyajian menggunakan satu jenis sayuran.

Mungkin perbedaan lain adalah dari banyaknya jenis dan perbedaan dan perpaduan bumbu serta kuah.
Kalo sup itu dasarnya cuma air kaldu saja untuk kuah yang isinya bisa macem-macem.

Sedangkan soto, kuahnya bisa ber-macam-macam tergantung daerah masing-masing.
Bumbu soto lebih mengandalkan rempah-rempah untuk kuahnya (serai dan salam).
Contoh soto betawi, kuahnya memadukan santan dan susu.
Soto kudus, cenderung kuahnya bening.
Soto makassar (Coto) kuahnya kental dan cenderung penuh lemak.
Untuk isi juga macam-macam, mulai dari babat, usus, daging sampai ceker bisa dipakai.

Belum lagi pelengkap lain yang bermacam2 (krupuk, emping, lenthok, dll)

Namun pastinya yang tidak membedakan sup dan soto adalah di kuah dan daging, karena itu yang buat keduanya bersatu walau bumbu & rempah yang berbeda.

Semoga bermanfaat…

Ditulis Oleh: Indra Ketaren (Presiden Gastronomi Indonesia)


…. soto, jika dibedakan mungkin jumlahnya mencapai angka puluhan bahkan ratusan. Perbedaan itu tidak hanya pada ciri khas masing-masing….

Oleh: Indra Ketaren (Presiden Gastronomi Indonesia)

sotoJika memikirkan keadaan Indonesia, selalu terbesit dibenak kita tentang “Soto” yang merupakan salah satu makanan yang menggambarkan keadaan Bangsa ini. Jika pada 28 Oktober 1928 kita mengenal adanya sumpah pemuda, dimana kelompok dari berbagai daerah sepakat menginginkan “Satu Bangsa” yakni Indonesia.

Kini kita bertanya kenapa tidak ada satu “Soto” Indonesia?
Keduanya mempunyai hubungan, yakni berasal dari sebuah “perbedaan tapi tetap satu”.

Ingat dulu Pemuda yang telah ‘bersumpah’ pada 28 Oktober 1928 berasal dari berbagai daerah yang notabene memiliki bahasa yang berbeda. Pada saat itu, diikrarkan untuk menyatukan bahasa yakni “Satu Bahasa, Bahasa Indonesia” yang menandakan, bahwa ada satu hal yang mendasar disini, yakni berawal dari kata “Perbedaan”.

Begitu juga Soto, jika dibedakan mungkin jumlahnya mencapai angka puluhan bahkan ratusan. Perbedaan itu tidak hanya pada ciri khas masing-masing Soto, yang konon katanya menggambarkan keadaan daerah asal makanan itu sendiri.
Jika anda berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia, maka akan banyak anda jumpai soto-soto yang benar-benar bhineka terutama pada rasa-nya.

Soto adalah makanan yang sangat populer di negeri ini. Hampir di setiap daerah dapat ditemukan soto dengan variasi yang berbeda, disesuaikan dengan selera di tiap-tiap daerah. Tapi kendati berbeda, judulnya tetap sama “Soto”.

Soto adalah makanan khas Indonesia yang merupakan akulturasi campuran dari berbagai macam tradisi dari Tiongkok dan India. Di dalamnya ada pengaruh lokal dan budaya lain. Mie, bihun atau soun pada soto, misalnya, berasal dari tradisi Tiongkok yang akulturasi tradisi etnik pendatang itu dari sekedar soto sampai kepada pengenalan mie bakso yang prinsip memasaknya hampir sama dengan soto.

Ada beberapa soto yang menggunakan buah kunyit & daun kari yang merupakan bumbu dari India yang sotonya bersantan dan bersaus kental. Karena soto merupakan campuran dari berbagai tradisi, maka asal usulnya menjadi sulit ditelusuri.

Soto ada dimana-mana yang penyebarannya dari Sabang sampai Merauke seiring dengan penyebaran manusia Indonesia. Makanan yang tersebar itu kemudian bisa diterima di tempat lain, diikuti dengan upaya pelokalan yang tertulis di dalam menu resep-resep dari seluruh suku-suku yang ada di Indonesia. Hampir tiap kota versi sotonya berbeda karena tiap kelompok masyarakat selalu punya tradisi tertentu yang berhubungan dengan makanan.

Proses pelokalan ini yang mengakibatkan muncul berbagai jenis soto di Indonesia. Pertama kali sebutan kata soto populer di wilayah Semarang. Orang Makassar menyebutnya Coto, orang Pekalongan menyebutnya Tauto, orang Tegal menyebutnya Sauto dan orang Banyumas menyebutnya Sroto. Makanan yang asalnya juga khas Tiongkok dan India ini telah menjadi bagian dari makanan masyarakat di pelbagai daerah di Indonesia dengan menyesuaikan olahan bumbu agar pas dengan lidah orang Indonesia dengan komposisi yang berbeda-beda.

Di Tiongkok sendiri dinamakan “Caudo atau Cauto” yang merupakan hidangan dari “caotu tang” atau sup babat dan dalam bahasa Hokkian disebut “saoto‚ÄĚ.

Makanan soto mungkin adalah satu diantara sekian banyak makanan yang berhasil melakukan mutasi diri di Indonesia. Bentuk, rasa dan variasinya beragam mengikuti lokasi. Di Pulau Jawa kita mengenal Soto Bandung, Soto Betawi, Soto Jombang, Soto Kudus, Soto Lamongan, Soto Madura, Soto Malang, Soto Pekalongan, Soto Surabaya, Soto Tegal dan lain-lain. Di Makasar ada Soto Makasar. Di Medan ada Soto Medan. Di Minagkabau ada Soto Padang. Ada juga identitasnya dinamakan dengan si pembuat soto, seperti di Bogor ada soto Pak Kumis dan Soto Pak Salamdi dan lain sebagainya.

Kenapa soto begitu populer di masyarakat harus dilihat dari filosofinya. Soto merupakan cara para leluhur berhemat daging atau bahan protein lainnya. Ini berkaca pada budaya keluarga Indonesia yang pada umumnya terdiri dari jumlah besar. Untuk semangkok soto dengan kuah yang berlimpah, dagingnya cuma beberap iris saja.

Yang membuat mangkok soto berlimpah, selain kuahnya, adalah campuran berupa bihun (mie atau soun), sayuran dan perkedel. Semangkok soto itulah dinikmati keluarga secara bersama – ‘bagi roto bagi roso’.

Kembali ke soal “perbedaan tapi tetap satu”, memang, agaknya cukup sulit untuk menyatukan soto-soto di Indonesia. Kalau mau disebutkan satu per satu mungkin dari Sabang sampai Merauke memiliki bentuk metamorfosis makanan yang identik dengan kuah dan sensasi daun sereh ini.

Bagaimanapun juga, masing-masing daerah punya karakter sendiri yang ‘angkuh’. Mungkin inilah yang selalu mengingatkan kita tentang soto, jika berbicara soal persatuan Indonesia. Masing-masing memiliki ciri khas unik.

Kalau soto ayam Lamongan kuahnya cenderung berwarna kuning cerah, tanpa santan, komposisi kunyit dan sereh kental di lidah, ada taburan bawang goreng dan disajikan dengan koya (kerupuk udang yang dihaluskan). Sedangkan soto daging Madura umumnya berkuah lebih gelap, minim komposisi kunyit, disajikan tanpa koya, pakai kecambah (bukan taoge) dan irisan daun bawang.

Di Mojowarno, Jombang, jenis soto yang umumnya dibuat masyarakat disana adalah soto ayam dengan kuah kuning yang tidak terlalu kental. Penyajiannya dengan taburan keripik kentang yang diiris tipis, taburan bawang goreng, ayam rebus yang disuwir-suwir, mihun (mie yang terbuat dari sari kacang hijau) dan kerupuk udang utuh.

Seperti hasrat lidah kita untuk menerima berbagai aneka macam soto-soto, agaknya cukup sulit untuk menerima sebuah persatuan. Seperti halnya, ketika orang Madura yang sudah terbiasa dengan rasa soto Madura, hampir di pastikan tidak semua dapat menerima rasa Soto Medan, begitu juga sebaliknya. Pastinya perbedaan itu selalu menimbulkan jarak, meskipun tidak diungkapkan secara tersurat.

Apa mungkin ini sugesti yang bisa saja muncul dari sebuah kondisi situasi yang ada. Apa mungkin penolakan itu, timbul karena angkuhnya lidah kita untuk menerima soto dari daerah lain?  Namun yang pasti kalau soal makanan, memang lidah kita cukup sulit diatur karena kita semua berasal dari ribuan suku dengan aneka budaya yang berbeda, meski masih satu ras yakni Indonesia, begitu juga dengan soto.

Tapi agaknya sampai sekarang cukup sulit untuk mencari pemersatu soto-soto itu, seperti sulitnya mencari titik temu kesatuan bangsa Indonesia. Mungkin hal ini dipicu oleh sebuah keadaan, dimana masyarakat tidak sempat lagi berfikir tentang hal itu. Sebab, didesak pemikiran-pemikiran lain yang mungkin lebih dianggap penting. Atau bisa juga belum ada momentum yang membuat persatuan itu ada.

Kini kata persatuan hanya menjadi sebuah simbol, yang dielu-elukan dengan upacara resmi, yang diperingati tiap tahun. Toh dalam nama yang diagungkan itu masih dilihat cukup jelas bahwa ada kesamaran disana, ada makna yang lari dari maksud kata yang semestinya, ada bopeng yang sulit kita tutupi.

Hal itu tentu berbeda dengan keadaan, ketika ada moment tertentu, sehingga rasa persatuan menjadi cukup dibutuhkan. Ketika semangat kedaerahan tidak lagi diperlukan, tapi lebih mengedepankan kesamaan nasib. Seperti yang terjadi diluar negeri. Di Singapore contohnya, jika anda pernah datang ke restoran Indonesia yang ada di negeri itu, maka akan anda temui menu soto Indonesia bukan soto Medan, Surabaya, Makasar, Padang, dan lain-lain. Hal ini dipicu karena sebuah keadaan.

Agaknya ketika merasa satu bangsa, ditengah bangsa-bangsa lain, setidaknya ke-egois-an karakter primordialis kedaerahan harus ditanggalkan. Jika mungkin dipaksakan menjual soto Madura di restoran itu, maka dijamin tidak akan ada yang mau datang, sebab daya tariknya hilang. Satu-satunya daya tarik ditempat itu hanya kata Indonesia. Kata itu sekaligus mewakili identitas cukup banyak warga negara kita yang kebetulan berada disana.

Tapi apapun itu, soto tetaplah soto, dia hanya sebuah nama untuk menyebut salah satu jenis makanan. Jika boleh mengutip kalimatnya Shakespeare, “Apalah arti sebuah nama?” Toh soto tetaplah soto. ¬†Soto lebih mirip Bhineka Tunggal Ika, meski berbeda-beda tapi tetap satu. Meski pada akhirnya soto hanya sebatas nama, kenikmatan hanya sebatas yang masuk ke perut.

Yang jelas, kita lebih butuh sesuatu yang nyata. Tidak hanya sebatas nama. TIdak kosong, tapi isinya. Seperti halnya soto, toh banyak juga yang tak peduli dengan nama itu lagi, seperti juga mereka memandang Indonesia. Sebab, lebih menarik jika berbicara soal apa yang nyata, bukan hanya sekedar kata Indonesia.

Banyak yang tak perlu Indonesia. Bagi mereka, yang lebih perlu adalah bagaimana bisa selalu ada di mana saja di negeri Indonesia. Persaingan hidup, modernitas, ruwetnya kehidupan kerja, seakan memalingkan kepala kita dari arti kata Indonesia, sehingga kita berani bertanya “Apalah Arti Sebuah nama? seperti yang dikatakan Shakespeare.

Tapi dari soto apapun yang kita ketahui dan aneka ragam penjelmaannya, semuanya sama-sama menggunakan daging, karena memang bahan utama dari semua soto menggunakan daging. Nah, bahan daging itu merupakan persatuan dari perbedaan yang ada. Karena ada kesamaan menggunakan bahan daging, menjadikan soto sebagai “Bhineka Tunggal Ika” makanan Indonesia.

Jadi kalau membicarakan persatuan agaknya harus mengingat soto yang telah menyatukan kita, karena soto telah menyumbangkan identitas ke-Indonesia-an. Dari soto kita bisa belajar beradaptasi dengan kondisi setempat. Mereka hidup damai dan belum pernah ada konflik soto. Makanan saja bisa fleksibel, kenapa kita tidak bisa akur dengan orang yang beda etnis dan bahasa seperti yang diungkapkan Sumpah Soto Indonesia di bawah ini :

Kami soto Madura, Ambengan, Lamongan, Tegal, Bandung, Betawi, Padang, dan lain lain sebagainya, berbahasa satu: Bahasa Soto Indonesia !!!

Dalam Sumpah Soto Indonesia itu “dan lain lain sebagainya” termasuk soto Sokaraja, coto Makassar, soto Sawah, soto Mbangkong, Soto Kudus dan lain lain gak usah protes ..

Teladanilah Persatuan Soto Indonesia: Penggemar Soto Betawi, tak menghina Soto Banjar. Penggemar soto Padang, tak meledek Soto Tegal. Penganut Soto Madura tak membikin Front Pembela Soto Madura utk hadapi Soto Kudus …Tirulah Persatuan Soto Indonesia ..

Tak ada pernikahan yang batal gara-gara perbedaan aliran soto masing-masing mempelai … Tirulah Persatuan Soto Indonesia ..

Tak ada juga anggota keluarga yang dikucilkan gara-gara mengubah dari suka Soto Pekalongan ke Soto Bandung … Tirulah Persatuan Soto Indonesia ..

Artikel ini dirangkum dari pemikiran tulisan :
– Ignas Praditya Putra
– Gunawan Mohamad
– Onghokham
– Sujiwo Tejo
– Wikipedia


image

UNDUH: TUNTUNAN IBADAH PADA BULAN RAMADHAN


Oleh: Indra Ketaren (Presiden Gastronomi Indonesia)

image

Fuyunghai

Mungkin kita pernah mendengar Instruksi Presiden nomor 14 tahun 1967 mengenai program asimilasi masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia yang mengatur larangan pagelaran perayaan hari besar tradisional di muka umum, pagelaran tradisi agama, budaya dan adat istiadat di depan umum, penggunaan bahasa di hadapan umum, keterlibatan ekonomi, sekolah, hak-hak kewarganegaraan, dan banyak lagi. Walaupun akhirnya Inpres itu kemudian dicabut melalui Kepres Nomor 6 tahun 2000.

Satu hal yang perlu disadari bahwa program asimilasi itu selama 33 tahun tidak secara eksplisit memasukan seni masakan (cookery) dan peralatan dapur etnis Tionghoa dalam bingkai larangan di hadapan publik.

Bisa dikatakan seni masakan (cookery) dan peralatan dapur budaya etnis Tionghoa tidak terhapus sama sekali dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia oleh proses ini; dan tetap subur tumbuh digunakan masyarakat dan banyak disajikan di berbagai restoran, kedai dan rumah makan publik.

Antara lain kita sangat familiar dengan makanan seperti dimsum, bakmie, pangsit, nasi goreng, cap cai, tahu goreng, kwetiau goreng, mie goreng, bihun masak, lomie, bakpao, nasi tim, ifu mie, fuyung hai, swike, ayam cah, lumpia, daging bun, tofu, kucai, bakut teh, hunkwe, kuaci, chop suey, bakcang, siomay, cahkwe dan lain sebagainya.

Beberapa peralatan dapur dari Tiongkok adalah cobek (mortar), mangkok cekung, hawu (tungku), wajan (wok), ulekan (alu), kuali (pot tanah liat), dan anglo (clay anglo) maupun lain sebagainya.

Saya tidak ingin membahas perihal politisasi dari kebijaksanaan Presiden itu, karena kajian mengenainya cukup banyak apalagi tidak dalam panca koridor gastronomi kita.

Pastinya bukan karena masyarakat etnis Tionghoa tidak mau tunduk pada peraturan asimilasi atau larangan selama Orde Baru itu. Banyak praktek makanan tradisional etnis Tionghoa di Indonesia secara diam-diam telah lama diintegrasikan ke dalam budaya seni masakan lokal melalui penghapusan asal usulnya.

Ini dikenal dengan proses akulturasi dan asimilasi secara alamiah yang mana resepi dan alat dapur itu itu sendiri sebenarnya tidak ada di negara asalnya sendiri karena mengalami perubahan bentuk, racikan, corak dan penggunaan. Disini kita paham arti sebenarnya dari makanan dan peralatannya sebagai sistem komunikasi, perilaku adaptasi dan protokol dari kekuatan sosial budaya tertentu.

Untuk diketahui, gastronomi makanan Indonesia adalah warisan dari para leluhur nenek moyang kita yang terbentuk dari sebelum Republik ini berdiri, yakni semasa era bhumi kepulauan Nusantara, yang pada saat itu sampai sekarang dihuni ribuan suku & sub-suku serta etnik pendatang baik karena migrasi dan kolonialisme. Selain itu ada beberapa etnik pendatang lainnya (Portugis & Jepang) tetapi tidak besar memberi sumbangan terhadap kekayaan resepi makanan yang ada.

Corak gastronomi makanan Indonesia pada umumnya merupakan warisan tradisional leluhur dari 1,340 suku & sub-suku yang ada di kepulauan Nusantara Indonesia serta percampuran resepi dari 4 (empat) etnik pendatang (Tionghoa, India, Arab & Belanda), yang diserap dan diolah oleh masyarakat lokal setempat melalui proses akulturasi & mimikri.

Oleh karena itu lebih tepat jika gastronomi Indonesia dikatakan sebagai ‚ÄúGastronomi Kepulauan Nusantara di Indonesia‚ÄĚ karena segenap kekayaan resepi masakan yang ada itu terbentuk sebelum Republik ini berdiri.

Dapat dikatakan Inpres nomor 14 tahun 1967 tidak menyentuh seni masakan masyarakat etnis Tionghoa karena asimilasi terhadap makanan itu sendiri sudah terjadi jauh sebelum Orde Baru yang telah melembaga dalam keseharian sajian budaya makanan rakyat Indonesia.

Kontek ini dapat dipahami lebih jauh jika kita menginterpretasikan tulisan Bandung Mawardi mengenai sejarah buku “Mustika Rasa yang menjadi buku masakan Indonesia pertama yang resmi tercatat dalam lembaran Negara. Disini dijelaskan dimulai sejarah Negara terlibat dalam urusan masakan.

Buku ini adalah warisan sejarah masa Orde Lama dan Orde Baru yang disusun dari tahun 1961 – 1966 dan diterbitkan pada tahun 1967. Ide pembuatannya atas perintah Presiden Soekarno dan disetujui Presiden Soeharto sebagai buku masakan resmi Nasional di masa Orde Baru.

Disini ditoreh sejarah kedua Presiden menempatkan ideologi makanan dalam agenda Pemerintahan masing-masing dan menganggap kemajuan kebudayaan suatu bangsa tidak mungkin tidak harus juga membicarakan kekayaan (dan mungkin kebanggaan dari) masakannya.

Bisa jadi itu alasannya mengapa Inpres nomor 14 tahun 1967 tidak secara implisit memasukan seni masakan (cookery) dan peralatan dapur etnis Tionghoa ke dalam program asimilasi. Kedua penguasa boleh ‚Äúberseteru‚ÄĚ tapi dalam urusan makanan membuat Soekarno dan Soeharto bisa ‚Äúakur‚ÄĚ


image

Pesatnya perkembangan teknologi komunikasi saat ini berimbas pada mudahnya berkomunikasi sesama manusia di seluruh dunia. Di mana, kapan dan siapa saja bisa dengan mudah berhubungan langsung dan tidak langsung.

Pesan tiap orang kini bisa disampaikan secara sangat cepat, bahkan serentak. Hadirnya dunia maya, yaitu internet dan telepon selular, sebagai pemicunya.

Marshall McLuhan (1911-1980), pakar ilmu komunikasi, pada 1960-an pernah mengatakan bahwa kelak dunia akan seperti global village. Dunia dianalogikan akan menjadi sebuah desa yang besar, tetapi akan mudah saling berinteraksi dan berkomunikasi.

Kini, konsep McLuhan tersebut telah menjadi kenyataan. Teknologi komunikasi yang ada sekarang telah menggenapi dunia seolah menjadi kecil, ciut, spontan, benar-benar layaknya sebuah desa.

Semaunya

Di tengah massifnya pemakaian teknologi sebagai alat komunikasi kita tentu semakin sering membaca fenomena orang bisa “bicara semaunya” di dunia maya. Orang bisa bertindak semaunya dengan komentar kasar, caci maki, menyudutkan, bahkan menyinggung SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan).

Kemudahan berkomunikasi itulah penyebab spontanitas yang keluar begitu saja tanpa pikir panjang. Dunia maya memang telah menjelma menjadi sebuah “dunia baru” yang sangat bebas, tanpa sekat, nyaris tanpa kontrol, dan serba permisif.

Perilaku kurang sopan di dunia maya ini tentu menarik perhatian kita semua, mengapa kebebasan ini bisa menggeser etika? Era internet membawa dampak besar dalam tatanan kehidupan bermasyarakat dewasa ini.

Netiket, etiket, etika

Dalam buku Etiket dan Netiket karya Marulina Pane, dijelaskan makna netiket dan etiket sebagai bentuk sopan santun dalam pergaulan dan pekerjaan. Memang, zaman kini, netiket dan etiket sebaiknya dipelajari kembali, walaupun semua orang sudah tahu dan mengerti makna keduanya. Hanya, sejauh mana hal tersebut telah dipraktikkan dalam pergaulan yang semakin luas ini?

Ada baiknya kita, terutama yang “aktif” di dunia maya, mempelajari kembali garis-garis netiket dan etiket yang diharapkan dapat membentuk kembali sikap saling menghargai sesama pengguna dunia maya lainnya. Tidak mudah menyakiti, tidak menyinggung perasaan, tidak meremehkan, tidak merendahkan, tidak membangkitkan kemarahan orang lain, serta tidak mengungkit kekurangan orang lain dengan sengaja.

Kehadiran internet di era globalisasi ini pada akhirnya melahirkan netiket (netiquette). Netiket adalah bentuk etika saat berkomunikasi melalui internet.

Netiket pada dasarnya membentuk tata krama atau sopan santun yang sebaiknya dilakukan ketika berkomunikasi dengan orang lain agar hubungan tetap terjaga dengan baik. Dalam hal ini, hadirnya netiket memberikan batas-batas tertentu yang tidak boleh dilanggar agar tidak terjadi miskomunikasi.

Perlu diingat, dunia maya menembus berbagai negara dengan mudah. Artinya, tiap negara dan bangsa memiliki budaya dan istiadat berbeda. Perbedaan itulah yang harus diwaspadai.

Ya, bisa saja di satu negara hal tertentu dianggap tidak sopan, tetapi di negara lain dianggap sopan. Dengan dasar-dasar itulah, maka netiket perlu dipelajari.

Sementara itu, etiket (etiquette) adalah bentuk sopan santun dalam pergaulan. Hal ini menyangkut segala hal yang sebaiknya dilakukan dan yang tidak. Etiket seperti ini berlaku pada dunia pergaulan sehari-hari dan dalam dunia pekerjaan tempat siapa saja mencari nafkah.

Wilayah etiket di antaranya cara memperkenalkan seseorang kepada orang lain, termasuk cara memperkenalkan diri sendiri kepada orang lain. Kemudian, cara menjaga sikap sopan santun antara pria dan wanita, baik sikap maupun arah pembicaraan.

Perlu diketahui, etiket pun mengajarkan kita cara berpakaian yang pantas baik untuk pria maupun wanita, menjaga sikap tubuh, tekanan bahasa saat menyapa atau berkenalan, sopan di tempat kerja, sopan ketika berhadapan dengan pria dan wanita, cara bersantap, menerima telepon dengan sopan, hingga menghadiri jamuan bergaya fine dining atau banquet, mulai urusan menata meja dengan banyak pisau, sendok, garpu, hingga gelas.

Sikap dan perbuatan dari netiket dan etiket yang dilakukan oleh komunikan, baik buruk atau bagus akan disoroti oleh yang namanya “etika”. Etika menyoroti norma dari perbuatan itu sendiri. Etika melihat perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak, mutlak.¬† Jadi, etika menukik ke dalam lahiriah dan batiniah.

Tentu saja, tidak ada salahnya kita belajar kembali mengenai netiket dan etiket. Hal ini penting untuk menunjukkan kita sebagai makhluk normatif, yang masih menjaga batas-batas kesopanan dalam bicara, bersikap, dan bergaul. Sebab, batas-batas kesopanan itulah yang akan menilai siapa diri kita sendiri.

Apakah etiket terasa mengikat? Tentu tidak, sebab etiket merupakan suatu tata cara yang baik (good manners) yang menciptakan kenyamanan antara kita, sesama manusia,  dan lingkungan.

(IRWAN SUHANDA/PENERBIT BUKU KOMPAS)

ANDE-ANDE PANJANG : BEREMBAN BESI

Posted: 27 Mei 2016 in Video