REVITALISASI SASTRA TUTUR

Posted: 11 Maret 2011 in Catatan Budaya

Oleh : Irwan P. Ratu Bangsawan

Saat ini sastra tutur seperti serambe di Banyuasin sudah sangat jarang ditampilkan. Serambe adalah seni bercerita di mana sang penutur bercerita dengan menggunakan syair sambil duduk di atas panggung. Cabang seni tradisional khas Banyuasin ini dapat dikatakan sudah hampir punah. Sebagai contoh, di Kota Pangkalanbalai, yang masih bisa ber-serambe adalah Saudara Affanul Z. Khair.

Semakin tersingkirnya sastra tutur sebenarnya bukan hanya dialami serambe saja, melainkan hampir di semua cabang sastra tutur lainnya yang ada di Sumatera Selatan. Bermacam-macam sastra tutur itu, antara lain Njang Panjang dan Bujang Jelihim yang berkembang di daerah Ogan Komering Ulu, Jelihiman di Ogan Ilir, dan Senjang di Musi Banyuasin. Sementara sastra tutur seperti Geguritan, Betadur, dan Tangis Ayam berkembang di Lahat, dan Nyanyian Panjang dan Bujang Jemaran berkembang di Ogan Komering Ilir.

Pengamat sastra dari Universitas Sriwijaya Latifah Ratnawati, mengungkapkan bahwa saat ini guru-guru sekolah sudah jarang yang memahami tradisi sastra lisan (tutur), seperti pitutur Bujang Jelihim dari daerah Ogan Komering Ilir, pertunjukan cerita Putri Dayang Merindu asal Palembang, dan dongeng Putri Pinang Masak. Dari survei yang pernah dilakukan, hanya 40 persen dari sekitar 100 guru SD di Sumatera Selatan yang mengetahui nama-nama sastra tradisi itu. Padahal, karya-karya itu telah hidup di masyarakat Sumsel sejak ratusan tahun silam. Jika kekayaan tradisi itu benar-benar punah, masyarakat Sumsel akan kehilangan akar budaya yang membentuk karakternya. Nilai-nilai yang terkandung dalam sastra tutur dapat digunakan untuk menularkan kearifan lokal kepada generasi muda.

Revitalisasi Sekarang Juga

Terpuruknya sastra tutur mau tidak mau harus segera mendapat perhatian dari semua pihak, terutama di Kabupaten Banyuasin, seperti Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata Seni Budaya Pemuda dan Olahraha, dan Dewan Kesenian Banyuasin. Sastra tutur harus segera direvitalisasi. Secara leksikon, revitalisasi sastra tutur bermakna menghidupkan atau menggiatkan kembali berbagai kegiatan kesenian sastra tutur.

Menurut praktisi seni Sumatera Selatan Vebri Al Lintani makna revitalisasi sastra tutur adalah penyesuaian nilai sastra tutur tradisional dengan nilai masa kini yang modern. Nilai-nilai masa kini adalah dinamis. Nilai masa lalu yang ada pada sastra tutur berubah. Pada masa lalu sastra tutur masih punya penggemar karena tidak ada alternatif hiburan lain. Sekarang dengan perkembangan teknologi, sastra tutur jadi tidak laku. Vebri juga mengatakan bahwa sastra tutur hanya bisa dihidupkan melalui revitalisasi. Caranya, memanfaatkan perkembangan teknologi dan multimedia dalam pertunjukan sastra tutur tanpa mengurangi unsur sastra tutur. Seni teater juga bisa dipakai sebagai sarana revitalisasi sastra tutur. Hasilnya bukan teaterisasi sastra tutur, tapi teater sebagai pendukung sastra tutur.

Revitalisasi tidak hanya menyangkut dipentaskannya kembali sastra tutur dalam berbagai festival, tetapi juga harus menyentuh aspek bagaimana mengemas kembali sastra tutur tersebut dalam format yang lebih atraktif sehingga layak untuk bersaing dengan berbagai budaya pop yang saat ini sudah sangat menggurita.

Seperti kata pepatah, sastra tutur saat ini ”ibarat kerakap tumbuh di batu, hidup enggan mati tak mau”. Geliat sastra tutur yang semakin menyuram bukan tak mungkin suatu saat ia benar-benar mati dan tinggal cerita indah saja untuk dikenang. Sudah mulai berkurangnya orang yang bisa bersastra tutur juga bisa menjadi lampu kuning bagi kelangsungan hidup sastra tutur ini. Para pelakunya sudah rata-rata sudah berusia di atas 50 tahun dan mereka tidak memiliki kader yang akan menggantikan mereka kelak.

Masyarakat, terutama kamu muda, harus dikenalkan kembali dengan khasanah kesenian tradisional semacam sastra tutur ini. Dalam berbagai kegiatan pribadi maupun publik, sastra tutur sudah harus kembali ditampilkan, walaupun mungkin untuk tahap awal hanya merupakan selingan. Dengan berbagai modifikasi dan pelatihan yang memadai, sastra tutur masih bisa berharap untuk eksis di tengah masyarakat. Masyarakat sesungguhnya masih memiliki memori tentang masa lalu mereka. Namun, karena kesibukan dan perubahan zaman, masyarakat menjadi abai dengan warisan leluhur yang sesungguhnya memiliki begitu banyak ajaran moral dan tuntunan kehidupan. Dekadensi moral seperti saat ini, salah satunya disebabkan karena masyarakat sudah ”kehilangan” nilai-nilai moral yang harus mereka anut. Sastra tutur Banyuasin yang berbasis budaya Melayu Islam, dapat merupakan penawar dahaga di tengah lautan kehidupan yang semakin gersang seperti saat ini (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s