WARTI

Posted: 11 Maret 2011 in Cerpen, Sastra

Oleh: Irwan P. Ratu Bangsawan

Sebenarnya wanita muda itu cukup cantik. Namun, karena selalu bekerja di bawah terik matahari, wajahnya menjadi terlalu gelap dan berflek. Aku sering menyapanya bila bertemu di Simpang Kedondong, tak jauh dari rumahnya.
Senyum wanita itu terlalu kaku. Ia tak akan tersenyum bila aku tidak tersenyum dulu padanya. Ia juga tak akan menyapa bila aku tidak menyapanya dulu. Suaranya yang agak parau akan membuat siapapun menjadi terkaget-kaget dan tak tahu harus berkata apa lagi.
Nama wanita itu adalah Warti. Aku tak tahu siapa nama lengkapnya. Yang kutahu hanya Warti itu saja. Nama itu pun aku ketahui dari penjual es puter yang biasa mangkal di simpang jalan yang sangat semrawut tersebut.
Pernah aku bertemu Warti di kalangan (pasar pekan) Pangkalanbalai. Ketika kusapa, seperti biasa, ia tersenyum kaku. Aku cuma bertanya hal yang lumrah seperti layaknya seseorang bertemu kenalannya di pasar, seperti beli apa, harga cabe berapa, harga beras naik apa tidak. Singkat kata, semua serba basa-basi. Padahal, sebenarnya aku ingin berbicara banyak dengannya.
Bagiku Warti adalah wanita yang misterius dan mengundang banyak tanya. Namun, aku tak tahu harus berkata apa bila sudah bertemu muka dengannya. Ia, walaupun wajahnya terlalu gelap, selalu membuat malam-malamku menjadi serba susah. Aku sering mimpi buruk tentangnya. Entah mengapa. Yang pasti, jadwal tidurku menjadi sangat terganggu.
Warti pernah tertabrak truk ketika menyeberang di Simpang Kedondong. Aku tak tahu pasti kejadiannya. Yang aku tahu bahwa aku tak pernah bertemu dengannya selama hampir satu bulan. Penjual es puter di Simpang Kedondonglah yang memberi tahuku bahwa Warti masuk rumah sakit karena tertabrak truk.
Sebenarnya aku ingin membesuknya, tapi karena ia, masih kata si penjual es puter, telah pulang dari rumah sakit, aku menjadi sungkan. Ada perasaan malu karena baru sekarang tahu bahwa Warti kecelakaan.
Sejak kejadian tersebut, bila bertemu Warti, aku selalu menundukkan muka dan tak pernah menyapanya lagi. Warti pun kulihat juga tak peduli dengan perubahan sikapku tersebut. Ada rasa masygul juga melihat Warti tak peduli denganku. Padahal, telah bertahun-tahun setiap pagi kami selalu bertegur sapa. Ada rasa kehilangan Warti di hatiku. Akibatnya, malam-malamku semakin buruk dan aku semakin susah untuk tidur.
Warti bagiku adalah ucapan selamat pagi dari alam. Aku selalu pergi ke kantorku tepat ketika Warti sedang di Simpang Kedondong. Selalu begitu. Aku selalu memperkirakan waktunya dengan baik. Jadi, setelah kami tidak bertegur sapa lagi, aku mulai malas-malasan pergi ke kantor. Aku baru akan menghidupkan motor bututku setelah aku memperkirakan bahwa Warti sudah tidak di simpang yang semrawut itu lagi.
Bagaimanakah kabar Warti sekarang? Ada rasa penasaran dalam hatiku. Aku ingin sekali tahu kondisi Warti. Namun, aku terlalu egois alias jaga gengsi. Aku hanya diam dan tak melakukan apapun. Walaupun hatiku sulit kukendalikan, aku tetap tak peduli bagaimana kabar Warti saat ini.
Siang kemarin, secara tak sengaja aku bertemu si penjual es puter. Tanpa kutanya, ia bercerita bahwa Warti masuk rumah sakit lagi. Katanya, Warti masuk rumah sakit karena tertabrak angkutan pedesaan dari arah Betung. Seminggu Warti dirawat dan meninggal dunia dua hari yang lalu.
Wajahku memerah mendengar cerita si penjual es puter tersebut. Seperti ada godam yang sangat besar menghantam kepalaku yang sombong ini. Ada rasa malu, ada rasa penyesalan, dan ada rasa kehilangan yang sangat mendalam di hatiku.
Warti, wanita cantik yang berwajah gelap itu telah pergi dan tak akan pernah bertegur sapa lagi denganku. Kepergiannya merupakan mimpi buruk bagiku. Dia pergi ketika aku belum sempat meminta maaf karena tak membesuknya ketika ia tertabrak truk tempo hari. Sekarang ia tertabrak lagi dan nyawanya tak tertolong lagi.
Aku tahu, malam-malamku akan semakin sulit kulalui. Aku pasti akan semakin sering bermimpi buruk tentang Warti. Aku termenung dan mencoba menarik napas dalam-dalam. Berat dan sakit (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s