DONGENG DAN IMAJINASI ANAK

Posted: 12 Maret 2011 in Catatan Budaya

Irwan P. Ratu Bangsawan

Mungkin kita masih ingat ketika masih kanak-kanak, menjelang tidur ayah atau ibu kita sering menceritakan sebuah dongeng untuk kita. Dongeng menjadi bagian yang sangat kita tunggu-tunggu sebelum kita tidur. Harap diingat juga bahwa dahulu anak-anak memang belum memiliki banyak pilihan untuk mengisi malam-malam menjelang tidur. Hal ini berbeda dengat saat ini ketika saluran televisi sudah sangat beragam dengan jam tayang yang mencapai 24 jam per harinya. Akibatnya, anak-anak menjadi kecanduan menonton tv dan menjadi asing dengan berbagai cerita dongeng.

Dongeng adalah tradisi lisan yang diwariskan oleh leluhur kita, biasanya berisi tentang ajaran moral yang dianut oleh komunitas pemilik dongeng tersebut. Tradisi ini diperkirakan telah muncul ketika tradisi tulis menulis belum muncul. Melalui dongeng, leluhur kita mengajarkan pengalaman dan pandangan hidup mereka melalui tradisi tutur.

Sebagai cerita yang dianggap hanya rekaan belaka, dongeng merupakan milik kolektif suatu komunitas. Ia hanya dianggap sebagai cerita untuk menghibur para pendengarnya.

Tradisi Mendongeng

Tradisi mendongeng disadari ataupun tidak, akhir-akhir ini dirasakan semakin berkurang intensitasnya. Hal ini seiring dengan semakin sibuknya orangtua sehingga mereka seperti kehilangan kesempatan untuk mendongeng bagi anak-anak mereka. Padahal tradisi mendongeng merupakan tradisi yang dapat membantu perkembangan moralitas anak. Anak dapat diajarkan bagaimana menghormati orangtua, rekan sebaya, dan orang lain melalui dongeng. Dongeng yang diceritakan dapat dipilih berdasarkan pesan moral yang ingin disampaikan. Ketika ingin mengajarkan pesan tentang menghormati ibu, kita bisa mendongeng tentang Legenda Malin Kundang. Sebaliknya jika ingin menyampaikan pesan tentang makna kecerdikan, kita bisa memilih dongeng fabel Si Kancil.

Tradisi mendongeng sudah seharusnya digalakkan lagi, terutama di sekolah-sekolah, seperti di TK dan SD. Guru-guru perlu mendapatkan pelatihan mendongeng sehingga kegiatan mendongeng yang mengasyikkan bagi anak-anak dapat dikedepankan lagi. Kegiatan mendongeng di sekolah tidak harus mengubah kurikulum yang telah ada. Namun, dapat dilakukan ketika pelajaran baru akan dimulai atau ketika siswa akan pulang sekolah.

Dongeng dan Imajinasi Anak

Anak-anak yang dibesarkan dalam tradisi mendongeng akan mampu mengembangkan imajinasinya secara optimal. Perkembangan jiwa mereka akan melaju dengan pesat, terutama di saat mereka berusia sekitar enam tahun.

Kebiasaan anak yang selalu ingin mengetahui apa saja yang ada di sekitar mereka akan menemukan ”lautan jawaban” di dalam dongeng. Imajinasi mereka akan mengalir deras dan memberikan efek kreativitas anak. Inilah saat di mana anak akan menjadi seorang penjelajah imajinasi.

Menurut Sitti R. Muslimah (2008), sebagai wahana pengembangan imajinasi, dongeng bisa menjadi wahana untuk mengasah imajinasi dan alat pembuka bagi cakrawala pemahaman seorang anak. Ia akan belajar pada pengalaman-pengalaman sang tokoh dalam dongeng tersebut, setelah itu memilah mana yang dapat dijadikan panutan olehnya sehingga membentuknya menjadi moralitas yang dipegang sampai dewasa. Karena itulah, peran pendongeng atau orang tua dalam menjelaskan atau merangkum seluruh kisah dalam cerita kepada anak-anak mesti menjadi seorang penjelas yang pasih. Alhasil, seorang anak akan mengerti intisari dari cerita yang didongengkan tersebut.

Maka, agar tidak terjadi penanaman bibit moral yang paradoksal, orang tua selayaknya memberikan penafsiran secara rasional, konstruktif, dan tidak terjebak pada pengisahan yang klenik. Selain itu, sebaiknya kegiatan mendongeng juga dilakukan sebelum seorang anak hendak tidur, supaya sang anak bisa lebih menyerap materi cerita yang berisi keteladanan sang tokoh dalam cerita itu.

Misalnya, ketika kita menceritakan dongeng Malin Kundang, kita menyelipkan ajaran moral bahwa kita harus menghormati orangtua, terutama ibu. Tujuannya agar seorang anak dapat membentuk kepribadiannya secara positif dan menentang sikap durhaka seorang anak yang menyebabkan anak tersebut dikutuk menjadi batu. Kisah tentang ”terkena kutukan” si Malin Kundang jangan terlalu dilebih-lebihkan, melainkan hikmah yang dapat diambil anak yang perlu lebih ditekankan (***)


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s