SASTRA TUTUR DAN BAHASA DAERAH

Posted: 12 Maret 2011 in Catatan Budaya
Tag:, , , ,

Di tahun 1970-an hingga awal 1980-an, penulis biasa berbicara dalam Bahasa Melayu dialek Lalang. Ketika itu, penduduk Desa Lalang Sembawa, Kecamatan Banyuasin III, Banyuasin sebagian menggunakan bahasa lokal Melayu dialek Lalang dan sebagian menggunakan Bahasa Jawa. Bahasa Jawa dipakai oleh masyarakat keturunan Jawa yang memang banyak di sana.

Namun, saat ini penulis turut menyaksikan berangsur-angsur punahnya Bahasa Melayu dialek Lalang tersebut. Penyebabnya adalah migrasi penduduk dari berbagai daerah yang menyebabkan perlunya lingua franca (bahasa penghubung) baru. Pilihan lingua franca jatuh pada Bahasa Melayu dialek Palembang. Akibatnya bisa ditebak, Bahasa Melayu dialek Lalang menjadi tersingkir dan bukan mustahil 10-15 mendatang, dialek tersebut akan benar-benar punah.

Sastra tutur merupakan media yang tepat untuk melestarikan bahasa daerah maupun dialeknya sebab sastra tutur merupakan sastra tradisional yang menggunakan media bahasa daerah. Upaya merevitalisasi sastra tutur juga dapat diartikan sebagai upaya untuk melestarikan penggunaan bahasa daerah ataupun dialeknya dalam masyarakat.

Revitalisasi sastra tutur saat ini sudah merupakan keharusan yang tak dapat ditunda-tunda lagi. Pemerintah dan masyarakat harus saling membahu untuk melestarikan sastra tutur dan juga bahasa daerah (wan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s