CIK NONA

Posted: 19 Maret 2011 in Cerpen, Sastra

Oleh : Irwan P. Ratu Bangsawan*)

WARGA Pangkalanbalai tak ada yang tahu persis sejak kapan Cik Nona selalu melamun di teras rumah panggungnya. Setiap bakda Asyar, ia duduk dengan mengenakan baju kurung warna hitam dan berkerudung warna yang sama juga. Ia baru akan masuk ke rumah bila waktu sholat maghrib akan tiba. Selalu begitu sepanjang tahun.
Cik Nona tak pernah peduli dengan aktivitas yang ada di sekitarnya. Walau pun anak-anak ramai bermain di halaman rumahnya yang luas itu, ia tetap tak peduli. Ia hanya duduk melamun ke arah Jalan Merdeka dengan tatapan yang sulit untuk digambarkan.
Aku sesekali mampir ke rumah panggungnya itu sekedar untuk bertegur sapa dengannya. Cik Nona adalah teman baikku semasa masih di SD. Dulu, kami berdua bisa dikatakan sangat akrab. Sepulang sekolah, kami sering mandi di sungai di Suakbara. Orangtua kami sering memarahi kami sebab badan kami sampai menggigil karena terlalu lama mandi.
Bila aku mampir, Cik Nona cuma tersenyum saja. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir tipisnya itu. Cik Nona sesungguhnya adalah gadis yang cantik. Kulitnya kuning langsat, hidungnya mancung, pipinya kemerah-merahan lengkap dengan lesung pipi di kanan kirinya.
Sehari-hari Cik Nona adalah gadis yang ceria dan suka guyon dengan teman-temannya. Makanya, ketika kemudian Cik Nona menjadi pendiam dan suka melamun setiap bakda Asyar, aku dan teman-teman merasa kehilangan teman yang kami cintai.
Sebagai teman baiknya, aku juga tidak tahu penyebab perubahan sikap Cik Nona tersebut. Pernah sekali kutanyakan padanya tentang hal tersebut. Namun, Cik Nona hanya diam, tersenyum, dan melamun lagi.
”Ada apa, Cik?” tanyaku dengan lembut.
Cik Nona menatapku sebentar dan kembali melamun. Matanya terlihat kosong dan mengarah ke Jalan Merdeka. Jalan Lintas Timur Sumatera itu semakin padat dan semrawut saja. Namun, Cik Nona tak peduli dengan kesemrawutan tersebut. Mobil-mobil pribadi dan truk-truk besar saling menyalip seakan tak sabar untuk mencapai tujuannya. Asap knalpot membumbung ke angkasa menimbulkan suasana gersang di kota kecil itu. Akan tetapi, Cik Nona tetap tak peduli. Ia tetap menatap kosong ke arah jalan hingga menjelang azan Maghrib.
Banyak gosip yang beredar seputar penyebab suka melamunnya Cik Nona. Ada yang mengatakan bahwa penyebabnya karena ia gagal masuk Unsri setamat SMA di Palembang. Cik Nona ingin sekali jadi guru. Namun, ia tidak lulus masuk FKIP Unsri. Konon, berhari-hari Cik Nona meratap dan menyesali kegagalannya tersebut. Ia meratapi nasibnya dan meratapi kegagalannya untuk menjadi guru Fisika yang diidam-idamkannya. Cik Nona memang jago Fisika dan selalu menjadi juara kelas.
Gosip lainnya mengatakan bahwa Cik Nona mulai suka melamun sejak ia putus cinta dengan Mat Halil, mantan ketua OSIS semasa ia SMA. Kabarnya, Mat Halil ini memutuskan Cik Nona hanya gara-gara Cik Nona tidak kuliah.
Tak ada yang dapat dipastikan apakah gosip-gosip tersebut memang benar adanya, ataukah hanya sekedar gosip belaka. Penyebabnya tentu saja karena Cik Nona tak pernah mau bercerita ataupun berkeluh kesah. Ia hanya melamun dan menutup mulutnya rapat-rapat.
”Ceritalah, Cik!” kataku suatu sore ketika aku mampir karena hujan turun sangat lebat. Kutatap wajahnya yang masih tetap cantik dan kemerah-merahan. Ingin sekali aku membantu sahabatku ini. Bila memandang wajahnya, aku selalu ingat ketika kami dihukum guru kelas kami gara-gara mandi hujan saat jam istirahat. Kami dihukum berdiri berhadap-hadapan dan saling menjewer. Cik Nona hanya tersenyum-senyum dan memainkan ibu jari dan telunjuknya di telingaku. Bukannya sakit yang kudapat, aku malah kegelian. Akibatnya aku menjadi tertawa terbahak-bahak. Guru kelas kami sangat marah dan menghukum kami berdiri di depan tiang bendera hingga lonceng tanda usai sekolah berbunyi.
”Cik, ceritalah!” kataku saat kulihat Cik Nona tetap diam dan tak menjawab pertanyaanku. Namun, hingga menjelang azan Maghrib, Cik Nona tetap diam dan mengarahkan pandangannya yang kosong ke arah jalan raya yang masih juga semrawut. Azan Maghrib sayup-sayup mulai terdengar dari Masjid Jumhuriyah. Cik Nona merapikan kerudung hitamnya, lalu berdiri, dan tanpa berkata-kata meninggalkanku yang terpaku melihat sikapnya. Baju kurung hitamnya terlihat mulai lusuh di keremangan petang yang dingin tersebut. Aku mengarahkan pandanganku ke Jalan Merdeka dan melihat sepasang muda-mudi melaju kencang di atas motor RX King-nya yang bersuara memekakkan. Perlahan aku berdiri lalu menuruni tangga rumah panggungnya. Ah, Cik Nona! (***)

*) Pekerja seni dan Sekretaris BPH Dewan Kesenian Banyuasin. Buku yang telah ditulis adalah Antologi Puisi ”Aku Ingin Berdusta Padamu” (2010). Saat ini sedang mempersiapkan penerbitan buku Cerita Rakyat Banyuasin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s