Pada masa lampau  di desa Lubuk Karet hiduplah seorang laki-laki bernama Ario Bajung. Ia adalah seorang pemimpin desa yang sangat dihormati oleh rakyatnya. Kepemimpinannya tiada banding adilnya. Ia juga sangat ramah dan setiap saat selalu mengamati serta memperhatikan penduduk di daerah kekuasaannya. Kadang kala tidak segan-segannya ia datang ke rumah penduduk untuk mencari kesulitan-kesulitan yang dihadapi masyarakatnya. Jika panen gagal, Ario Bajung selalu menyiapkan segala keperluan pada musim paceklik. Ario Bajung juga selalu menyiapkan segala kebutuhan kalau ada penyakit berbahaya, penyakit menular, musibah, dan sebagainya. Untuk itu, ia memerintahkan agar menyiapkan  semua obat-obatan serta mantra-mantra yang diperlukan. Demikian juga kalau ada bahaya perampokan atau lanun. Ia segera memerintahkan warga agar mengumpulkan semua senjata seperti tombak, pedang, keris, serta semua senjata yang dapat dipergunakan untuk melawan perampok dan ia akan memimpin langsung perlawanan dengan perampok tersebut. Jika panen kurang memuaskan, Ario Bajung menganjurkan rakyatnya membuka ladang di tempat lain. Oleh karena itu, banyak penduduk yang berladang di tempat  yang jauh.

Setelah mengetahui penduduknya banyak berada pada tempat yang jauh, Ario Bajung pun berpikir bagaimana usahanya agar hubungan dengan penduduknya tetap lancar. Ario khawatir kalau-kalau mereka teraniaya di tempat yang jauh atau kalau   mereka terancam oleh perampok yang masuk ke kampungnya, bagaimana cara yang tepat untuk memanggil mereka yang berada pada tempat yang jauh itu. Ario Bajung berpikir keras untuk mengatasi masalah tersebut.

Ario Bajung pun mendapat ide, maka dikumpulkannya semua penduduk di daerah kekuasaannya. Setelah semua rakyatnya berkumpul, ia menyampaikan pidato.

“Saudara-saudaraku, sudah kehendak alam kita harus mencari nafkah dan bekerja untuk keperluan kita. Untuk memenuhi kebutuhan itu, kita terpaksa mencari tempat-tempat yang subur dan di tempat yang saling berjauhan. Walaupun harus berpisah, sifatnya hanya sementara, yakni pada musim-musim berladang saja. Selesai panen, kita akan berkumpul seperti sedia kala. Akan tetapi, kita harus tetap berhubungan, siapa tahu ada bahaya yang akan mengancam desa kita, terutama dari perampok dan lanun yang akan merampas dan menghancurkan harta benda kita. Kalau terjadi demikian kita tidak dapat berpangku tangan saja. Kita wajib mempertahankan kehormatan negeri kita. Begitupun juga kalau suatu saat ada saudara kita yang akan bersedekah, niat baik saudara kita tersebut harus kita dukung. Pastilah tidak enak rasanya kalau ada yang tidak hadir”.

Ario Bajung diam sebentar, kemudian berkata lagi, ”Oleh karena itu, senang susah harus kita hadapi bersama. Jauhnya ladang bukan berarti kita tidak dapat hadir. Saudara-saudara tidak layak untuk berdiam diri. Saudara-saudaraku, jangan takut tanaman dan ladang akan rusak. Nah, saudara-saudaraku agar hubungan kita ini tidak terputus dan tetap ada,  kita akan memberitahukan hal itu dengan isyarat. Isyaratnya sebagai berikut: gong berbunyi tiga kali berarti ada hal baik, kalau gong dipukul beruntun berarti ada bahaya. Semuanya itu harus saudara-saudara pahami. Barang siapa tidak mengetahuinya, akan merasakan sendiri akibatnya.”

Setelah Ario Bajung berbicara demikian, semua rakyatnya mendengarkan dan menyetujuinya. Mereka semua berjanji akan mengetahui tanda isyarat tersebut. Kemudian mereka kembali ke rumah masing-masing dan sebagian dari mereka ada yang terus ke ladang. Mereka sepakat untuk melaksanakan dan memperhatikan bunyi gong. Mereka akan saling menyampaikan apabila lebih dahulu mendengarnya agar segera kembali ke kampung. Gong tanda isyarat tersebut diletakkan pada sebuah sisi bangunan menara yang tinggi dan setiap saat dijaga secara bergilir oleh penduduk yang ada di kampung.

Beberapa tahun berlalu, mereka semua telah mengetahui dan mematuhi apabila ada gong berbunyi. Semua berjalan sesuai rencana.

Pada suatu hari penjaga gong terlena. Ia tertidur dengan nyenyaknya karena sudah sehari penuh bekerja di ladang dan malamnya ia harus menjaga gong itu. Tiba-tiba, seorang laki-laki naik ke menara tersebut.  Melihat ada gong, dipukulnya gong tersebut dengan sekuat tenaga tanpa henti-hentinya. Penjaga yang tertidur terkejut dan terbangun mendengar suara gong yang dipukul berkali-kali. Dilihatnya orang tersebut masih memukul dengan nafsu sekali. Penjaga tadi terkejut dan menanyakan apa yang terjadi. Akan tetapi, laki-laki tersebut tidak menjawab dan terus saja memukul gong.

Karena pertanyaannya tidak dijawab, si penjaga tadi marah. Dipegangnya tangan orang itu dan ditariknya agar berhenti memukul gong. Namun, laki-laki tersebut tetap saja memukulnya. Mereka pun berkelahi dan terjadilah pergumulan.

Sesaat kemudian orang banyak berkerumun dan menanyakan ada bahaya apa. Di atas menara mereka melihat ada orang yang sedang bergumul. Beberapa orang naik ke menara dan melerai mereka.

“Hai penjaga, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya salah seorang penduduk.

Si penjaga tidak dapat menjawabnya. Ia pun bertanya kepada orang yang memukul gong. “Sebenarnya, apa yang terjadi sehingga kau terus memukul gong?”

Pemukul gong pun tidak dapat menjawab. Air muka si pemukul gong kelihatan marah, matanya terbelalak, seperti orang kerasukan.

“Bapak-bapak, laki-laki ini bukan orang waras. Ia sudah lama gila,” seru salah seorang dari penduduk yang datang.

Mendengar ucapan tersebut, semua itu orang jadi terdiam. Mereka sama-sama khawatir apa yang akan dijawab kalau orang-orang yang ada di ladang nanti berdatangan. Mereka juga mengalami kepanikan luar biasa mendengar bunyi gong yang bertalu-talu tadi.

Ario Bajung yang berdiri agak jauh di belakang kelompok itu memahami apa yang telah terjadi. Mukanya merah padam menahan amarah. Kelalaian si penjaga menurutnya sudah melampaui batas. Kini semua mata penduduk tertuju pada Ario Bajung.  Mereka melihat kemarahan Ario Bajung. Semua berdiam diri dan berkeliling di sekitar Ario Bajung.

Setelah mendengar gong yang dipukul terus-menerus, dari seluruh penjuru datanglah orang-orang dari ladang dengan membawa senjata lengkap di tangan. Badan mereka penuh keringat dan ada juga yang luka-luka karena goresan kayu. Terlihat wajah-wajah pemberani dan bersemangat.

“Di mana musuh? Di mana musuh? Ayo kita bunuh bersama!” teriak mereka bersama-sama.

Melihat orang-orang terdiam mengelilingi Ario Bajung, mereka pun terdiam dan hanya bertanya dalam hati, “Apakah gerangan yang telah terjadi?” Sejurus kemudian mereka semua telah bergabung menglilingi Ario Bajung.

Ario Bajung pun berpidato, “Saudara-saudaraku, bunyi gong itu sudah menjadi keyakinan kita dalam memenuhi kewajiban bersama. Saya sangat kagum atas perhatian saudara-saudara. Semua telah menjalankan keputusan yang telah kita sepakati. Kalian semua telah bersusah payah penuh semangat datang ke sini. Hal seperti itu adalah sifat yang baik,” ucap Ario Bajung sambil memperhatikan semua warganya yang datang.

Ia pun melanjutkan pidatonya, ”Saudara kita yang bertugas menjaga gong rupanya telah melalaikan kewajibannya. Ia telah tertidur dan pada saat itulah datang seseorang  dan  memukul gong itu sekehendaknya. Sebenarnya, tidak ada seorang musuh pun yang datang kemari. Sekarang kembalilah saudara ke ladang masing-masing. Bekerjalah dengan kesungguhan hati. Mereka yang hanya mementingkan diri sendiri akan mendapatkan balasan yang sangat merugikannya,” ujar Ario Bajung.

“Sekarang turunkanlah gong itu dan peliharalah baik-baik. Kalau saudara tidak dapat memeliharanya, nasib seperti pemukul gong itu akan saudara alami. Saudara- saudara akan gila seperti pemukul gong itu pula,” kata Ario Bajung mengakhiri pidatonya.

Mereka pun kembali ke perkerjaannya masing-masing dengan penuh kelegaan. Gong itu pun tidak lagi dipergunakan. Untuk memberitahukan kalau terjadi sesuatu, penduduk tetap menjalin komunikasi yang baik walaupun jaraknya terpisah. Berkat kepemimpinan Ario Bajung yang adil dan bijaksana, desa Lubuk Karet menjadi aman sentosa. Persatuan dan kesatuan terjaga dengan baik walaupun tidak lagi ditandai dengan suara gong. Sejak saat itu hingga sekarang gong itu tidak dipergunakan lagi. Gong tersebut menjadi sebagai lambang kesatuan dan persatuan penduduk di Desa Lubuk Karet. Desa Lubuk Karet kini terletak di Kecamatan Betung, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (***)

*) Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd. /Cerita berasal dari Desa Lubuk Karet, Kecamatan Betung, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s