Zaman dahulu di sebuah desa hiduplah dua orang anak yatim piatu. Kakaknya bernama Lematang dan adiknya bernama Tanjung. Mereka hidup dalam kemiskinan. Mereka berdua saling menyayangi. Lematang berwajah tampan, orangnya baik, beriman, dan pemberani. Sedangkan adiknya seorang yang sangat manja dan penakut.

Suatu hari Tanjung  menangis karena kelaparan.

“Kak, lapar! Apa yang bisa aku makan?” ujar Tanjung sambil memegang perutnya karena menahan lapar.

“Tanjung, masak saja yang ada!”

Ápa yang bisa dimasak , Kak? Api saja kita tidak punya, apalagi makanan.”

“Tanjung, mengapa tidak bilang dari tadi. Kalau begitu, sekarang kakak pergi dulu untuk mengambil api ke gunung.” jawab Lematang.

”Tanjung ikut, ya Kak.”

“Tidak usah Tanjung. Kamu tinggal di rumah saja, nanti kamu lelah.”

“Tapi, Kak, Tanjung takut dengan Antu Ruak Belekang.”

“Tanjung tidak usah takut. Kalau nanti datang Antu Ruak Belekang dan dia memanggil-manggilmu, janganlah sekali-kali engkau jawab. Selama kakak pergi, tinggallah engkau di atas palang.”

Setelah menyembunyikan adiknya, Bujang Lematang segera pergi. Berhari-hari Lematang pergi keluar masuk hutan dan menyeberangi sungai-sungai. Akhirnya, sampailah ia di gunung untuk mengambil api. Sementara  adiknya menunggu di rumah dalam ketakutan bukan kepalang.

Suatu hari di saat Tanjung sedang ketakutan, datanglah Antu Ruak Belekang. Antu Ruak Belekang sangat ditakuti di desa karena  ia sering memakan manusia.

Celendum-celentam, terdengar suara hentakan kaki Antu Ruak Belekang.

Tanjung hanya bisa terdiam di tengah ketakutannya.

“Ini rumah siapa?” tanya Antu Ruak Belekang.

“Rumah kakak Lematang. Dia sedang pegi ke gunung mencari api. Sudah sebulan sepuluh hari, sahut Tanjung.

Antu Ruak Belekang naik ke tangga rumah, “Tangga siapa ini?”

“Tangga kakak Lematang. Die sedang pergi ke gunung mencari api. Sudah sebulan sepuluh hari, jawab Tanjung.

Antu Ruak Belekang naik ke teras. “Teras siapa ini?”

Teras kakak Lematang. Dia sedang pergi ke gunung mencari api. Sudah sebulan sepuluh hari,” jawab Tanjung.

Pintu rumah di buka Antu Ruak Belekang. Secepatnya  Antu Ruak Belekang mencari sumber suara tadi. Antu ruak belekang berhasil menemukan Tanjung. Tanjung langsung disantapnya hidup-hidup.

Bujang Lematang pun pulang. Dari kejauhan ia melihat pintu rumahnya terbuka. Tanpa mengingat lelahnya perjalanan yang telah rasakan, ia berlari secepatnya agar segera tiba di rumah. Ia khawatir akan adiknya yang sendirian di rumah. Ternyata, apa yang menjadi kekhawatirannya memang benar terjadi. Tanjung adiknya telah tiada. Kini yang tersisa hanya rambut, bekas darah, dan kuku adiknya. Kesedihan mendalam dirasakan Lematang karena kehilangan adik satu-satunya. Akan tetapi, secara tidak sengaja Lematang memukulkan sapu lidi ke rambut, bekas darah dan kuku adiknya.

Hatciiiimm,” tiba-tiba terdengar suara Tanjung.

Keanehan pun terjadi. Tanjung hidup kembali. Lematang langsung memeluk adiknya. Kegembiraan Lematang  tidak terlukiskan, walau ada rasa takkan percaya dalam dirinya kalau adiknya dapat hidup kembali.

“Eh, Kakak sudah pulang ya. Mana apinya?”

“Itu, lihatlah di dapur!”

“Makanannya mana, Kak?”

Dasar Tanjung anak yang manja. Kakaknya baru saja pulang dan belum lepas dari lelah, Tanjung langsung meminta makanan.

“Kalau begitu Kakak pergi dulu mencari makanan.”

“Tanjung ikut ya?”

“Tanjung tunggu saja di rumah. Kakak pergi sebentar.”

Lematang pun pergi ke hutan untuk mencari makanan. Seperti biasa sebelum ia pergi, ia  menyembunyikan adiknya di atas palang.

“Kalau Antu Ruak Belekang datang, jangan lupa kau tutup hidungmu supaya dia tidak tahu kalau di rumah ada orang,” pesan Lematang kepada Tanjung.

Setelah itu pergilah Lematang dengan hati cemas.

Celendum-celentam, bunyi kaki Antu Ruak Belekang.

Sayangnya pada saat itu Tanjung terlambat menutup hidungnya. Kecurigaan Antu Ruak Belekang timbul karena waktu ia datang ia mencium bau manusia. Tanpa berkata lagi, Antu Ruak Belekang langsung masuk ke rumah dan mencari-cari manusia untuk disantapnya.

Pada saat itu Bujang Lematang pulang dan dilihatnya pintu rumah terbuka. Ia tergesa-gesa masuk ke rumah karena takut hal yang lalu akan terulang kembali. Di dalam rumah ia melihat Antu Ruak Belekang. Ia langsung berkelahi dengan Antu Ruak Belekang. Ternyata, Lematang kalah. Ia pun dimakan Antu Ruak Belekang. Tanjung kasihan melihat kakaknya di makan Antu Ruak Belekang.  Ia pun keluar dari persembunyianya. Akhirnya, kakak beradik ini meninggal dunia dan yang tertinggal hanya rambut, bekas darah, dan kuku.

*) Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S.Pd./ cerita ini berasal Kecamatan Banyuasin III,  Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s