MENYOAL KEMBALI PENDIDIKAN KARAKTER

Posted: 22 Maret 2011 in Catatan Pendidikan
Tag:,

Oleh : Istiqomah, M.Pd. *)

Saat ini sedang hangat-hangatnya perbincangan tentang pentingnya pendidikan karakter dalam dunia kependidikan formal. Kebutuhan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang dimana kenakalan remaja, perkelahian atau tawuran antar pelajar, dan beragam dekadensi moral banyak terjadi di masyarakat. Bahkan, di kota-kota besar pada umumnya keadaan tersebut sudah sampai pada tingkat meresahkan. Kenyataan demikian menuntut lembaga pendidikan formal untuk dapat turut serta dalam mengupayakan pembentukan kepribadian peserta didik dengan meningkatkan kualitas pendidikan karakter.

Sebagai isu utama pendidikan dan bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, pendidikan karakter diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam turut serta membangun watak bangsa. Di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional, pendidikan karakter menjadi fokus pendidikan di seluruh jenjang pendidikan yang dibinanya. Sementara itu para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. Sebagai pendukung utama dalam pembangunan, Indonesia memerlukan sumberĀ  daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai. Untuk memenuhi sumber daya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting.

Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal dalam acara Rembuk Nasional denganĀ  tema ā€œMembangun Karakter Bangsa dengan Berwawasan Kebangsaanā€ menjelaskan bahwa pendidikan karakter sangat erat dan dilatar belakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi ā€œPendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,

Lebih lanjut Wamendiknas pun mengatakan bahwa, pada dasarnya pembentukan karakter itu dimulai dari fitrah yang diberikan Ilahi, yang kemudian membentuk jati diri dan prilaku. Dalam prosesnya sendiri fitrah Ilahi ini sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, sehingga lingkungan memilki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan prilaku.

Dampak Akademik

Hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri-St. Louis, menunjukan adanya peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action).

Dalam buku Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001), yang mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah, diungkapkan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi.

Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum seperti kenakalan remaja, narkoba, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

Dari ulasan di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu perhatikan, yaitu: 1) Pendidikan karakter merupakan tanggung jawab semua komponen bangsa. Artinya, ia bukan hanya tanggung jawab lembaga pendidikan semata; 2) Kementerian Pendidikan Nasional harus segera memformulasikan fomat pendidikan karakter di sekolah-sekolah, dan 3) Aktualisasi pendidikan karakter jangan sampai menjadi beban baru bagi lembaga-lembaga pendidikan yang ada. (***).

*) Istiqomah, M.Pd./ Guru Bahasa Inggris di SMA Negeri 1 Banyuasin III dan SMK Muhammadiyah Pangkalan Balai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s