Paradigma Pendidikan dan Parameter Kecerdasan Anak

Posted: 22 Maret 2011 in Catatan Pendidikan
Tag:, ,

Oleh : Irwan P. Ratu Bangsawan

Dalam wacana sehari-hari, kita sering menjumpai fakta bahwa ada anak yang cerdas, sementara ada anak yang lainnya disebut anak yang bodoh. Secara pedagogis, sebenarnya, tidak dikenal kategorisasi yang secara diametral bertentangan tersebut.

Siapakah yang paling pantas dan layak menjustifikasi bahwa seorang anak cerdas ataukah tidak? Apakah guru, kepala sekolah, kepala Dinas Pendidikan, Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP), ataukah Mendiknas? Sungguh merupakan sebuah aib bagi keluarga bila anak yang dicintai dan kasihi ternyata tidak naik kelas atau tidak lulus ujian nasional. Sedih dan malu harus mereka tanggung.

Kasus anak didik yang tidak lulus ujian hingga mencapai angka 100% di suatu sekolah, bukanlah gosip belaka. Dalam kurun lima tahun terakhir, hampir tiap tahun pelaksanaan ujian nasional, ada-ada saja sekolah yang mengalami nasib apes seperti tersebut di depan. Padahal, para guru telah membanting tulang memeras keringat, kaki menjadi kepala dan kepala entah di mana.

Ada apa dengan dunia pendidikan kita? Apakah ada yang salah sehingga kerja keras guru tidak menghasilkan sesuatu yang signifikan? Apakah kualitas guru sudah sedemikian rendah sehingga tidak mampu membuat para siswa mereka tersenyum sumringah karena lulus ujian nasional?

Menurut sebagian kalangan, salah satu penyebab banyaknya siswa yang tidak lulus ujian karena para siswa tersebut bukanlah anak yang cerdas. Karena tidak cerdas, maka mereka tidak layak dan tidak pantas untuk lulus dari almamaternya. Seorang anak baru bisa dikatakan cerdas jika ia mampu mengusai semua ilmu yang diajarkan guru, mulai dari matematika, kimia, fisika, biologi, ekonomi, sosiologi, hingga bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Singkat kata, siswa kita adalah siswa yang harus multitalenta, serba bisa, dan tampil layaknya seorang superman.

Dunia pendidikan kita harus mengadakan revolusi dalam memandang pendidikan dan arti kecerdasan seorang anak. Pendidikan dalam paradigma baru harus dilihat sebagai proses mematangkan intelektualitas anak sesuai dengan bakat dan minat anak. Sementara kecerdasan seorang anak tidak dapat digeneralisasi dengan menggunakan parameter yang sama, parameter kognitif, misalnya. Seorang anak adalah individu yang unik yang berbeda dengan anak yang lainnya. Demikian juga dengan kecerdasannya.

Teori Kecerdasan Gardner

Teori yang diintroduksi Prof. Howard Gardner yang memperkenalkan delapan teori kecerdasan, sebagai parameter baru menilai kecerdasan anak, nampaknya dapat menjadi alternatif revolusi tersebut. Intisari teori ini adalah bahwa tak ada seorang anak pun yang memiliki berbagai macam kecerdasan. Kecerdasan satu orang berbeda dengan orang lain. Sepanjang seseorang tersebut mengoptimalkan potensi kecerdasannya, maka ia berhak disebut sebagai anak yang cerdas. Adapan pun kedelapan kecerdasan tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, Kecerdasan linguistik (bahasa). Kemampuan membaca, menulis dan berkomunikas dengan kata-kata atau bahasa. Penulis, jurnalis, penyair, orator, dan pelawak adalah contoh nyata orang yang memiliki kecerdasan linguistik. Contoh: Chairil Anwar, Soekarno, dan WS Rendra.

Kedua, Kecerdasan logis-matematis. Kemampuan berpikir dan menghitung, berpikir logis dan sistematis. Para insinyur, ekonom, dan akuntan adalah contoh-contoh orang yang memiliki kecerdasan ini. Contoh: Albert Enstein dan Thomas Alfa Edison

Ketiga, Kecerdasan visual-spasial. Kemampuan berpikir menggunakan gambar, memvisualisasikan hasil masa depan Orang yang menggunakan kecerdasan ini antara lain arsitk, seniman, pemahat, pelaut, fotografer, dan perencana strategis. Contoh: Afandi, Picaso, dan Colombus.

Keempat, Kecerdasan musikal. Kemampuan menggubah atau mencipta msik, dapat bernyanyi dengan baik, atau memahami dan mengapresiasi musik, serta menjaga ritme. Ini merupakan bakat yang dimiliki oleh para musisi, komposer, dan perekayasa rekaman. Contoh: Ismail Marzuki dan Iwan Fals.

Kelima, Kecerdasan kinestetik-tubuh. Kemampuan menggunakan tubuh secara terampil untuk memecahkan masalah, menciptakan produk atau mengemukakan gagasan dan emosi. Kemampuan ini dimiliki oleh para olahragawan, seniman akting dan tari, ahli kontruksi, serta ahli bedah. Contoh: Maradona dan Charli Chaplin.

Keenam, Kecerdasan interpersonal (sosial). Kemampuan bekerja secara efektif dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain dan memperlihatkan empati dan perhartian, memperhatikan motivasi dan tujuan mereka. Kemampuan ini dimiliki para guru, fasilitator, pemuka agama dan politisi. Contoh Buya Hamka dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Ketujuh, Kecerdasan intrapersonal. Kemampuan menganalisis diri dan merenungkan diri dan menilai prestasi seseorang, meninjau perilaku seseorang dan perasaan terdalamnya. Kemampuan ini dimiliki oleh para filosof, penyuluh dan pembimbing. Contoh Plato.

Kedelapan, Kecerdasan naturalis. Kemampuan mengenal flora dan fauna, melakukan pemilahan runtut dalam dunia kealaman, dan menggunakan kemampuan tersebut secara produktif. Kemampuan ini dimiliki oleh para petani, botanis, dan ahli konservasi. Contoh: Charles Darwin.

Berdasarkan parameter di atas, maka sudah selayaknya stigma cerdas dan bodoh tidak digunakan lagi dalam dunia pendidikan kita. Implikasinya, semua pemangku kepentingan (stake holder) harus mampu mentransformasikan diri dalam paradigma baru tersebut.

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s