CERITA RAKYAT | SUMAI

Posted: 26 Maret 2011 in Cerita Rakyat, Sastra
Tag:, , ,

PADA zaman dahulu di sebuah desa tinggallah seorang laki-laki muda yang tinggal di sebuah gubuk tua terbuat dari bambu. Lelaki ini sebenarnya adalah jelmaan dari seekor harimau. Wajahnya tampan mirip manusia asli, tubuh tinggi kekar, dan kulitnya putih bersih. Penduduk yang ada di sana tidak mengetahui bahwa lelaki ini adalah setengah manusia jelmaan harimau karena ia pandai berperilaku  seperti manusia biasa. Dia sangat pintar menyamar. Ia sangat baik, ramah, dan suka menolong. Penduduk sering memanggilnya Sumai.
Suatu hari ada beberapa gadis yang sedang asyik berbicara.
“Woi, aku nak merek tau kamu gede kalu agek malem kite pegi ke rumah Bek Yu, kite di suroh sambetan,” ujar  seorang gadis  berbicara dengan nada yang cukup keras.
Ye, agek tubo betemu di rumah Bek Yu be, ye!” jawab salah satu gadis.
La iye! Dek kade pule aku nek nyemput ke ruma kamu gelenye.  Matilah kesengalan aku, ai dem!”
“Tubo bejenji ye malam gek tubo betemu di ruma Bek Yu, jengan idek!” jawab salah satu gadis.
Malam harinya para gadis pun pergi ke rumah salah satu penduduk yang mengadakan sebuah acara pertunangan. Para gadis tidak menyadari bahwa pembicaraan mereka tadi siang didengar oleh Sumai. Mereka berkumpul di rumah tersebut. Sumai pun telah datang lebih dulu sebelum para gadis datang.
Para gadis bersama penduduk melakukan pekerjaan masing-masing. Sumai pun bertembang untuk  menarik hati para gadis.
“Rang kederang
Tukok keli kupatake
Dek takur kudang urang
Tujo negeri kukalake
Sumai bertembang sambil duduk di kursi yang ada di dekat tangga. Sumai tidak menyadari jika ada seorang gadis di bawah rumah. Gadis tersebut melihat ular yang bergelantungan. Ia mendekati ular itu. Setelah diamatinya, ternyata benda itu bukanlah ular, melainkan  ekor harimau. Ekor itu berasal dari Sumai yang sedang duduk di atas kursi. Gadis itu pun mengikat ekor Sumai di tiang tangga. Sumai tidak mengetahui kalau ekornya telah diikat oleh si gadis.
Setelah mengikat ekor Sumai, gadis itu naik dan duduk di samping teman-temannya. Ia duduk tidak jauh dari Sumai. Sumai kembali bertembang.
“Rang kederang
Tukok keli kupatake
Dek takur kudang urang
Tujo negeri kukalake”
Gadis yang telah mengikat ekor Sumai menjawab dengan tembang
“Padi kudengkak
Pagi kudengku
Padi pacak nyelek antu”
Mendengar tembang tersebut, Sumai terdiam dan merenung. Ia baru menyadari bahwa tembang itu menyindirnya. Sumai merasa si gadis telah mengetahui bahwa ia adalah seekor harimau. Sumai pun segera beranjak pergi dari tempat itu sebelum penduduk mengetahui dan membunuhnya. Akan tetapi, langkahnya tertahan karena ekornya tersangkut. Dengan cepat Ia berusaha melepas ikatan yang ada di ekornya dan langsung berlari secepat-cepatnya. Sejak saat itu Sumai, si jelmaan harimau, tidak pernah terlihat lagi (***)

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd.
Cerita berasal dari Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s