WANITA BERTUBUH MUNGIL

Posted: 26 Maret 2011 in Cerpen, Sastra
Tag:,

Oleh : Irwan P. Ratu Bangsawan

AKU pertama kali mengenal wanita bertubuh mungil itu bulan lalu. Ketika itu, kami sama-sama berteduh dari terpaan hujan yang sangat deras di depan sebuah ruko di kawasan Kayuara Kuning. Awalnya aku tak terlalu peduli dengan kehadirannya. Aku terlalu sibuk menghisap rokok dan menghembuskannya kembali. Asap rokok itu cepat sekali hilang tertiup angin.

Hujan yang sangat deras ini sungguh membuatku tersiksa. Tempias hujan sesekali menerpa wajahku. Aku menggerutu dalam hati. Seandainya saja tadi aku tidak pergi bekerja, saat ini aku pasti sudah meringkuk tidur di kamarku yang hangat. Sebenarnya, aku sudah menduga bahwa pagi ini akan turun hujan sebab sejak subuh awan hitam sudah menggelayut di langit.

Sekali lagi aku menghembuskan asap rokokku. Asapnya, lagi-lagi, segera hilang tertiup angin. Secara tak sengaja aku melirik ke arah wanita itu. Tubuhnya yang mungil itu menggigil. Seluruh pakaiannya basah kuyup. Kulihat bibirnya telah membiru. Wanita itu berusaha menghangatkan tubuhnya dengan menggosok-gosokkan kedua tangannya.
“Mau ke mana, Dik?” tanyaku ragu.
Wanita itu diam. Bibirnya bergetar dan mengeluarkan lenguhan yang tak jelas. Ada keraguan di matanya untuk menjawab pertanyaanku. Aku yang memang tak terlalu peduli dengan kehadirannya di teras ruko itu hanya bisa menghela napas. Aku kembali tenggelam dalam hisapan rokokku. Ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhku.
Sudah setengah bungkus rokok kuhabiskan selama menunggu hujan reda. Namun, tak ada tanda-tanda hujan akan segera reda. Aku semakin gelisah. Pandanganku mengarah ke jalanan di depan ruko. Tak ada motor atau pun mobil yang melintas. Jalanan tertutup air yang berwarna kecoklatan.
”Kak!” tiba-tiba aku dikagetkan suara gemetar wanita bertubuh mungil itu.
”Ya?” sahutku acuh tak acuh.
”Minta rokoknya, Kak!” katanya ragu.
Walaupun agak kaget dengan permintaannya, aku segera mengulurkan bungkusan rokokku. Wanita itu dengan tergesa-gesa mengambil sebatang dan menyulutnya. Dihisapnya rokok itu dalam-dalam dan dengan terbatuk-batuk ia menghembuskan asapnya. Sejenak kulihat wajahnya memerah.
”Belum terbiasa merokok, ya?” tanyaku pelan.
”Iya, Kak!”
”Kok, merokok?”
”Dingin!”
”Oh….” kataku tersenyum.
Ada rasa geli melihat cara dia memegang rokok. Apalagi melihat dia terbatuk-batuk ketika menghisap barang bercandu tersebut. Namun, wanita bertubuh mungil itu tetap menghisap rokoknya hingga habis.

***

Aku bertemu lagi dengan wanita bertubuh mungil itu seminggu setelah hujan deras tersebut. Aku bertemu dengannya di depan pasar baru Pangkalanbalai.
“Rokok?” kataku sembari menyodorkan sebungkus rokok. Dia tersenyum. Matanya menatap tajam, tapi tak ada ketersinggungan.
”Apa kabar, Kak?”
”Beginilah…”
”Apanya?”
”Kabar kakak, kan?
”Iya!”
”Kabar baik!”
”Kak…!”
”Kenapa?”
”Minta rokoknya, Kak.” katanya tersenyum.
Aku tak tahu pasti wanita bertubuh mungil itu berasal dari mana. Namun, aku merasa ada yang aneh setiap ia tersenyum. Matanya terlalu kosong saat tersenyum.
Wanita bertubuh mungil tersebut tak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Asap rokoknya mengepul bebas ke udara. Walaupun banyak yang memerhatikannya, ia tak peduli. Kulihat ia sekarang sudah sangat mahir menghisap dan menghembuskan asap rokoknya,
Wanita itu memejamkan matanya. Sepertinya ia sedang menanggung beban kehidupan yang sangat berat. Lama juga ia memejamkan matanya. Ketika akhirnya ia membuka matanya, kulihat mata tersebut berkabut. Tak sedikit pun ada keceriaan.
”Ada apa?” kataku.
”Apanya?” jawabnya sendu.
”Sepertinya adik sedang ada masalah,” sahutku sekenanya.
”Ah, nggak juga!” jawabnya. Pembicaraan kami terhenti ketika tiba-tiba serombongan polisi pamong praja lewat di depan kami. Ia yang terkejut melihat rombongan tersebut, tiba-tiba berlari menuju ke seberang jalan. Ia menyetop angkutan pedesaan arah Palembang dan menghilang. Aku tak pernah lagi bertemu dengan wanita bertubuh mungil tersebut. Ada rasa kangen juga dengan wanita yang matanya berkabut tersebut (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s