FOLKLOR | Ilmu Dongeng dan Gosip

Posted: 1 April 2011 in Catatan Budaya
Tag:

Menurut pakar folklor Indonesia Prof. Danandjaja (1996), folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional, dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device).
Masih menurut Danandjaja, ciri-ciri pengenal utama folklor adalah sebagai berikut:
1. Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut (atau dengan suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat, dan alat pembantu pengingat) dari satu generasi ke generasi berikutnya.
2. Folklor bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap dalam bentuk standar. Disebarkan di antara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama (paling sedikit dua generasi).
3. Folklore ada (exist) dalam versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini diakibatkan oleh cara penyebarannya dari mulut ke mulut (lisan), biasanya bukan melalui cetakan atau rekaman, sehingga oleh proses lupa diri manusia atau proses interpolasi (interpolation), folklor dengan mudah dapat mengalami perubahan. Walaupun demikian perbedaannya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.
4. Folklor bersifat anonim, yaitu nama penciptanya sudah tidak diketahui orang lagi.
5. Folklor biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola.
6. Folklor mempunyai kegunaan (function) dalam kehidupan bersama suatu kolektif.
7. Folklor bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum. Ciri pengenal ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan.
8. Foklor menjadi milik bersama (collective) dari kolektif tertentu. Hal ini sudah tentu diakibatkan karena penciptanya yang pertama sudah tidak diketahui lagi, sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya.
9. Folklor pada umumnya bersifat polos dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, terlalu spontan. Hal ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur manifestasinya.
Harus diakui bahwa saat ini nasib folklor bagai kerakap tumbuh di atas batu, mati enggan, hidup tak mau. Nasib folklor ini merupakan tanggung jawab semua pihak: pemerintah, masyarakat, intelektual, pemerhati budaya, dan tokoh-tokoh adat. Sebagai sebuah aset budaya, keberadaan folklor harus segera dilestarikan. Sebagai gambaran folklor-folkor yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1. Folklor Lisan

a. bahasa lisan, meliputi logat, julukan, pangkat tradisional, dan gelar kebangsawanan.
b. Ungkapan tradisional, meliputi peribahasa, pepatah, dan pemeo.
c. Pertanyaan tradisional, meliputi teka-teki.
d. Puisi rakyat, meliputi pantun, gurindam, dan syair.
e. Prosa rakyat, meliputi mitos, legenda, dan dongeng.
f. Nyanyian rakyat

2. Folklor Sebagian Lisan

a. Kepercayaan rakyat (takhayul)
b. Permainan rakyat
c. Teater rakyat
d. Tari rakyat
e. Adat istiadat
f. Upacara adat, dan
g. Pesta adat

3. Folklor Bukan Lisan

a. Arsitektur rakyat
b. Kerajinan rakyat
c. Pakaian dan perhiasan tubuh rakyat
d. Makanan dan minuman rakyat
e. Obat-obat tradisional, dan
f. Musik rakyat

Pengumpulan folklor di atas – sekali lagi – perlu segera dilakukan sebab merupakan identitas suatu suku/bangsa sebagai sebuah kesatuan budaya. Pada umumnya pengumpulan atau inventarisasi folklor ada dua macam, yakni:
1. pengumpulan semua judul karangan (buku dan artikel), yang pernah ditulis orang mengenai folklor Indonesia, untuk kemudianditerbitkan berupa buku bibliografi folklor Indonesia (baik yang berupa anotasi maupun tidak);
2. pengumpulan bahan-bahan folklor langsung dari tutur kata orang-orang anggota kelompok yang empunya folklor dan hasilnya kemudian diterbitkan atau diarsipkan.
Metode pengumpulan untuk inventarisasi macam pertama adalah penelitian di perpustakaan (library research), sedangkan macam kedua adalah penelitian di tempat (field research). Penelitian folklor perlu dilakukan sebab folklor mampu mengungkapkan kepada kita secara sadar atau tidak sadar, bagaimana folknya berpikir. Selain itu folklor juga mengabadikan apa-apa yang dirasakan penting (dalam suatu masa) oleh folk pendukungnya, disamping folklor sebagai penyalur pendapat rakyat.
Selain yang telah diungkapkan di atas, menurut William R Bascom, folklor memiliki empat fungsi sebagaimana berikut.
1. sebagai sistem proyeksi (projective system), yaitu sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif;
2. sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan;
3. sebagai alat pendidikan anak (paedagogical devise);
4. sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuh anggota kolektifnya (Danandjaja, 1996:19)

Komentar
  1. Jossua mengatakan:

    halo terimakasih atas informasi ini, mau tanya itu sumbernya dari buku Bapak James Danandjaja yg berjudul apa ya? terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s