Di suatu dusun yang terletak di tengah hutan belantara, hiduplah satu keluarga yang miskin. Mereka tinggal di sebuah rumah yang biasa disebut pondok. Mereka terdiri dari ibu dan kedua anaknya. Ibunya sudah tua dan biasa dipanggil Mak Bo. Anaknya yang tua bernama Hiju dan yang kecil bernama Hanur. Mereka hidup seadanya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, setiap hari mereka beume talang (bertani) dan menangguk (mencari ikan). Keluarga ini hidup dengan damai dan serasi. Ibunya sangat sayang kepada kedua anaknya, Kalau ia pergi, kedua anaknya selalu diajak.
Seiring bertambahnya waktu, Hiju pun beranjak dewasa. Nasib malang menimpa keluarga itu, Mak Bo meninggal dunia. Hiju dan Hanur menjadi sangat sedih karena selama ini mereka hidup sebagai anak yatim dan sekarang mereka menjadi anak yatim piatu, tidak lagi mempunyai ayah dan ibu. Mereka merasa tidak ada lagi yang menyayangi mereka. Mereka merasa kehilangan tempat bergantung.
Hiju tetap tegar dan bekerja keras demi Hanur adiknya yang masih kecil. Hiju dan Hanur bekerja seperti biasa. yaitu menangguk. Hasil tanggukkan untuk dimakan dan sebagian dijual. Sebelum dijual, ikan-ikan tersebut diawetkan terlebih dahulu menjadi bekasam. Setelah jadi, bekasam dijual ke pasar. Pasar terletak sangat jauh dari tempat mereka, Untuk sampai di pasar, dari tempat tinggal mereka menuju ke pasar membutuhkan waktu tujuh hari tujuh malam.
Suatu hari Hiju dan Hanur bekerja seperti biasa, yaitu menangguk, Sejak pagi sampai sore hari satu ekor ikan pun tidak mereka dapatkan. Dengan perasaan sedih, mereka pulang ke rumah. Di tengah perjalanan pulang, mereka dihadang oleh ular yang sangat besar yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan Mok-Mok. Hanur sangat ketakutan. Demi melindungi Hanur, Hiju berani melawan Mok-Mok. Dengan menggunakan sebilah parang yang tajam, Hiju melawan Mok-Mok. Terjadilah perkelahian yang sangat sengit di antara keduanya. Tiba-tiba ekor Mok-Mok terpotong. Karena takut dibunuh, Mok-Mok pun pergi meninggalkan Hiju dan Hanur.
“Kak, bagaimana kalau ekor Mok-Mok ini kita jadikan bekasam dan kita jual di pasar?” tanya Hanur kepada Hiju setelah ia melihat ekor Mok-Mok tertinggal.
“Baiklah. Kalau begitu mari kita bawa pulang ekor Mok-Mok ini.”
Kakak beradik itu pun pulang membawa ekor Mok-Mok. Tiba di rumah, ekor Mok-Mok tadi mereka bersihkan dan dibuat bekasam.
Setelah beberapa hari bekasam pun jadi dan siap dijual. Hiju pun berkemas-kemas untuk berangkat ke pasar, Karena jarak perjalanan yang sangat jauh dan membutuhkan waktu yang lama, Hanur tidak diajak. Tinggallah Hanur seorang diri di pondok.
Semenjak kepergian Hiju, Hanur selalu ketakutan. Saat malam menjelang, ketakutan Hanur semakin menjadi-jadi karena Mok-mok selalu datang dan meminta kembali ekornya yang disebut dengan buntum. Dengan perasaan takut bercampur sedih, setiap hari dan setiap malam Hanur menangis. Saat hari menjelang malam dan mulai gelap, Hanur semakin sedih karena sebentar lagi ia akan didatangi Mok-Mok. Sambil menangis sedih, Hanur meratap, “Cak mericak murai di kebon kakak di jewe, pesan ke belek aku takut antu Mok-Mok”.
Setiap hari dan setiap malam Hanur meratap seperti itu. Ia mengharapkan burung murai yang selalu berkicau agar mendengar ratapannya dan menyampaikan pesannya ke Hiju yang sedang berada di tanah Jawa untuk menjual bekasam agar cepat kembali karena Hanur selalu dalam keadaan takut.
Ketika hari mulai gelap Hanur kembali meratap, “Cak mericak murai di kebon kakak di jewe, pesan ke belek aku takut antu Mok-Mok”,
Saat ia meratap, Mok-mok telah datang, “Buntumku-buntumku. “ ucap Mok-Mok.
Mendengar ucapan itu, Hanur menjadi semakin takut. Dalam keadaan seperti itu, burung murai yang selalu berkicau segera pergi dan menyampaikan pesan Hanur kepada Hiju yang sekarang ada di Jawa.
Mendengar pesan dari Hanur lewat burung murai, Hiju langsung pulang. Sampai di pondok, Hanur menceritakan apa yang terjadi pada dirinya selama kakaknya pergi meninggalkan ia sendirian di pondok. Mendengar cerita dari Hanur, Hiju langsung marah dan berniat untuk membunuh Mok-Mok.
Saat menjelang malam dan hari mulai gelap, Mok-Mok pun datang. Sambil bersembunyi di balik pintu, Hiju menunggu kedatangan Mok-Mok. Ketika Mok-Mok datang, Hiju langsung memacung kepala Mok-Mok. Mok-Mok pun mati seketika. Tubuh Mok-Mok yang sudah mati mereka bakar dan sebagian dikubur. Sejak saat itu Hiju dan Hanur tidak pernah lagi diganggu oleh Mok-Mok dan mereka bahagia walaupun hidup seadanya.

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd. dan Selli Novita Belinda
Cerita berasal dari Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s