Arogansi Intelektual Kita

Posted: 9 April 2011 in Catatan Budaya

Suatu ketika saya sempat menyambung tali pertemanan via facebook dengan seorang tokoh nasional yang pernah jadi menteri. Dalam satu ketika saya mengeritik beberapa hal yang menjadi acuan perpolitikan si tokoh kita. Kritik yang saya sampaikan tidak lebih dari sekedar sharing ide, siapa tahu saya bisa ngunduh ide-ide segar dari seorang intelektual ternama.
Tapi, harapan ternyata sekedar harapan belaka. Saya kecewa karena di”marahi” dengan menyebut saya sebagai orang yang tidak tahu apa-apa tapi berani mengeritik. Saya disuruh membaca lebih banyak, baru boleh ngomong. Masih banyak kata-kata lain yang ”tidak enak” yang saya terima dan rasanya tidak layak saya ungkapkan di sini. Saya hanya sempat bertanya, ”Lho, kok Bapak sewot sama saya?” Heheheheee…..
Pengalaman tersebut sungguh membawa dampak yang luar biasa bagi saya. Pertama, saya segera mendelet tuh mantan menteri dari pertemanan saya. Kedua, saya jadi alergi dengan hal-hal yang berbau politik. Ketiga, saya jadi memahami bahwa seorang intelektual ternama dan mantan menteri, ternyata masih ada yang nggak bisa dikritik alias alergi kritik. Saya jadi teringat bahwa tuh mantan menteri nggak sampai dua tahun jadi menteri. Alhamdulillah cuma dua tahun. Bagaimana jika jadi menteri lima atau sepuluh tahun? Wah, pasti luar biasa arogannya beliau.
Arogansi para intelektual macam mantan menteri tersebut, sungguh membuat saya sebagai orang awam jadi merasa aneh bin aneh. Mual sekaligus mules. Aneh rasanya, sebab mestinya semakin tinggi ilmu seseorang, maka ia harus semakin merendah diri. Tidak pantas manusia yang hanya diberi Tuhan ilmu hanya secuil thok til, kok bisa arogan dengan keilmuan yang dimilikinya.
Mungkin ada benarnya bila ada yang mengatakan bahwa arogansi hanya akan membawa pada malapetaka. Tidak ada dalam cerita sejarah, arogansi akan membawa kesuksesan. Nah, saya sebagai orang awam, sungguh berharap bahwa para intelektual kita bisa mengayomi masyarakat kita yang masih banyak berkubang dalam lumpur kebodohan. Ajarilah mereka dengan lemah lembut. Motivasilah mereka dengan kata-kata yang membangkitkan. Jangan hina dan jerumuskan mereka dengan kata-kata pedas dan menyakitkan. Kalaupun ada pertanyaan yang bersifat mengeritik, bukan berarti orang bodoh dan hina benar-benar tidak tahu apa-apa, kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s