Pada zaman dahulu, di salah satu desa hiduplah seorang anak perempuan dan ibunya. Anak perempuannya bernama Siti Gelembung. Nasib Gelembung sangat malang. Setiap hari pagi-pagi sekali Gelembung ditinggalkan ibunya ke kebun dan menjelang malam ibunya baru pulang ke rumah. Setiap sebelum pergi Ibunya selalu berpesan kepada Gelembung agar tidak pergi kemana-mana, apalagi pergi jauh dari rumah. Gelembung anak yang patuh. Dia selalu ingat pesan ibunya, maka dia tidak pernah keluar rumah. Akibatnya, dia tidak mempunyai seorang pun teman. Sehari-hari ia hanya di rumah sendirian.
Setiap hari menjelang subuh dia selalu bangun lebih dahulu. Disiapkannya semua keperluan ibunya. Setelah semuanya siap, ia membangunkan ibunya.
“ Bu, hari ini di kebun panen tebu, ya?” tanya Gelembung pada suatu pagi setelah ibunya bangun.
“Iya, Nak.”
“ Bu, aku ingin sekali makan tebu. Pulang nanti bawakan aku tebu ya!”
“Iya kalau ibu ingat.”
Pagi itu seperti biasa pergilah ibunya ke kebun. Ternyata, ibunya berpacaran di kebun. Pacar ibunya bernama Nang Cik. Sambil memanen tebu mereka berpacaran. Semua hasil panen tebu yang bagus-bagus di berikan ibunya kepada Nang Cik. Sementara, tebu yang busuk dibawanya pulang. Setelah sore, ibunya pun pulang.
“Hore, ibu pulang. Pasti ibu membawa tebu pesananku. Iya kan Bu?”
“Ya, Nak,” kata ibunya sambil memberikan tebu yang dibawanya.
“Bu, kok tebunya busuk semua?”
“Oh,sepertinya ibu salah ambil.”
Hati Gelembung menjadi sangat sedih. Apa yang dinantikannya seharian tidak diperolehnya. Keesokan harinya dia seperti biasa bangun pagi dan menyiapkan segala keperluan ibunya. Setelah ibunya bangun, ia kembali menyampaikan keinginannya.
“Bu, hari ini aku ikut ke kebun, ya?”
“Tidak usah, Nak, Di sana banyak pekerjaan, nanti kamu lelah.”
“Tidak apa-apa Bu, aku ikut ya, Bu?” Gelembung kembali memohon kepada Ibunya.
“Tidak usah, kamu di rumah saja!”
“Ya sudah kalu begitu, tapi pulang nanti jangan lupa bawakan aku tebu, ya Bu!”
“Ya,” jawab ibunya sambil meninggalkan Gelembung.
Seperti biasa, ibunya berpacaran di kebun. Setelah sore Ia pulang dengan membawa tebu pesanan anaknya.
“Ini tebu pesananmu!”
Gelembung bergegas mengambil tebu yang dibawakan Ibunya. “Bu, kok tebu busuk lagi yang dibawa? Mana tebu yang bagusnya Bu?”
Ibunya langsung meninggalkan Gelembung tanpa menghiraukan pertanyaan Gelembung. Pedih hati Gelembung melihat sikap Ibunya. Ia pun bertembang
“Tebu sebetang umak sayang
Anak sekok Umak tak sayang
Anak sekok jedi burong
Burong kuwaw di pajer ari”

Nyanyian Gelembung terdengar sangat merdu. Beberapa hari kemudian, ia terus meminta dibawakan tebu, tetapi selalu tebu busuk yang dibawakan oleh ibunya. Setiap ibunya membawakan tebu busuk, Ia selalu bertembang dan berdoa agar Ia ditumbuhkan sayap.
“Tebu sebetang umak sayang
Anak sekok Umak tak sayang
Anak sekok jedi burong
Burong kuwaw di pajer ari”

Suatu malam ia bermimpi bertemu ayahnya.
“Nak, kalau kau ingin tumbuh sayap dan berubah menjadi burung, banyak-banyaklah bertembang. Jangan berhenti sebelum kau berubah menjadi burung,” pesan ayahnya.
Gelembung pun terbangun. Ia tidak sabar menanti pagi hari. Pagi itu, ia pun langsung bertembang, merdu sekali tembang yang ia nyanyikan.
“Tebu sebetang umak sayang
Anak sekok Umak tak sayang
Anak sekok jedi burong
Burong kuwaw di pajer ari”

Beberapa kali ia bertembang, tumbuhlah sayap di tangannya. Ia pun kembali bertembang.
“Tebu sebetang umak sayang
Anak sekok Umak tak sayang
Anak sekok jedi burong
Burong kuwaw di pajer ari”

Setelah berkali-kali bertembang, Gelembung berubah menjadi seekor burung. Ketika ibunya melihat Gelembung, ia sangat terkejut melihat anaknya telah berubah menjadi burung. Dikejarnya anaknya. Gelembung terbang ke suatu ranting pohon yang kecil. Ditebanglah pohon itu oleh ibunya agar anaknya turun. Gelembung pun terbangi ke pohon yang lebih tinggi.
“Nak, turunlah Nak! Nanti ibu bawakan tebu yang bagus-bagus untukmu. Turunlah Nak, turun,” jerit Ibunya sambil menangis.
Gelembung semakin tinggi terbang meninggalkan ibunya. Ibunya hanya dapat menyesali perbuatan yang ia lakukan pada anaknya. Lalu, ibunya pun bertembang
“Tebu sebetang aku sayang
Anak sekok aku tak sayang
Anak sekok jedi burong
Burong kuwaw di pajer ari”

Gelembung akhirnya menjadi burung yang dikenal dengan sebutan “Burung Kuwaw” karena setiap pagi mengeluarkan bunyi “kuwaw….. kuwaw……”

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana,S. Pd. dan Suci Oktariani.
Cerita ini berasal dari Desa Pangkalan Panji, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan

Komentar
  1. karindanade mengatakan:

    i like it
    burung kuwaw
    heheheheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s