Cerpen | SUAMI KEEMPAT

Posted: 9 April 2011 in Cerpen, Sastra
Tag:, , , ,

Oleh: Irwan P. Ratu Bangsawan

MARKONAH adalah janda kembang yang paling banyak dipergunjingkan di kampung kami. Pergunjingan tersebut selalu berkisar di sekitar penyebab matinya para suami Markonah yang pernah menikah tiga kali. Tiga kali menikah, tiga kali pula Markonah harus menahan kegetiran karena kematian suaminya.
Pernikahan Markonah tidak pernah lebih dari satu bulan. Ketika menikah dengan suami pertamanya yang bernama Abdullah bin Abdul Somad, Markonah hanya mengecap manisnya bulan madu selama dua puluh satu hari. Penyebabnya karena Abdullah terpeleset di tangga belakang rumah yang menghadap ke sungai setelah selesai mandi pagi. Abdullah tercebur ke sungai dan terbawa arus. Mayatnya baru ditemukan ketika azan maghrib bergema di surau kampung.
Setahun setelah kematian Abdullah, Markonah menikah lagi dengan jejaka desa tetangga yang bernama Mat Senen. Pernikahan kedua ini dilangsungkan dengan sangat meriah. Maklum, Mat Senen adalah anak tauke getah yang sangat kaya. Kenduri digelar selama satu hari satu malam dengan menghadirkan orkes dangdut terkenal dari kota Pangkalanbalai. Wajah Markonah berseri-seri saat berada di atas pelaminan. Tidak ada lagi sisa-sisa kesedihan di wajahnya yang cantik tersebut.
Namun, wajah Markonah yang berseri-seri tersebut tidak berlangsung lama. Baru dua minggu menikah, ia sudah harus bersedih lagi. Suaminya yang kaya raya tersebut meninggal dunia karena mengalami kecelakaan. Perahu jukungnya yang sarat muatan bertabrakan dengan tanker di perairan Sungai Musi di dekat Pulau Kemaro.
Sejak kematian suami keduanya tersebut, lama Markonah menutup dirinya. Ia tak pernah lagi terlihat berbicara dengan lelaki lain selain dengan ayah dan adik-adiknya. Nampak sekali Markonah berusaha untuk tidak terlibat lagi dengan urusan asmara. Sementara itu, pergunjingan bahwa ia adalah wanita yang menjadi sumber malapetaka bagi setiap lelaki yang menikahinya sudah mulai muncul. Di warung-warung kopi, para pengunjungnya yang sebagian besar adalah lelaki sibuk menggunjingkan perihal matinya dua suami Markonah. Mulai dari pagi hingga malam, para lelaki itu tak henti-hentinya membahas tentang nasib Markonah, nasib nahas suami-suaminya, sampai ada yang menuduh bahwa Markonah memiliki ilmu hitam. Para penggunjing itu mengatakan bahwa Markonah harus menikah dengan tujuh lelaki bila ingin ilmu hitamnya sempurna. Mereka juga mengatakan bahwa hanya suami ketujuh saja yang dapat berumur panjang.
Setelah lima tahun menjanda, masyarakat kampung kami sudah mulai melupakan kisah tragis Markonah. Pergunjingan pun sudah mulai reda. Tak ada lagi yang peduli dengan masa lalu Markonah. Demikian juga ketika tersebar kabar bahwa Markonah akan menikah lagi dengan Yayat Hidayat, seorang guru SD dari Pulau Rimau, masyarakat menganggap bahwa hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Tak ada lagi kecurigaan atau pun kecemasan kalau-kalau suami ketiga Markonah akan mengalami nasib yang sama seperti dua suaminya yang terdahulu.
Pernikahan ketiga Markonah dilaksanakan dengan sangat sederhana. Tak ada pesta yang meriah. Keluarga Markonah hanya menggelar acara Yasinan malam Jumat saja untuk resepsi pernikahan Markonah. Aku yang hadir dalam Yasinan tersebut sungguh terpanah dengan kecantikan Markonah. Walaupun hanya berkebaya sederhana, Markonah tetap cantik seperti saat masih gadis dahulu. Tak sedikit pun ada tanda-tanda bahwa ia telah berkepala tiga. Markonah yang kulihat malam itu adalah Markonah yang kukenal saat kami masih sama-sama SMA di Pangkalanbalai bertahun-tahun yang lalu. Wajahnya masih tetap cantik dan kulitnya masih terlihat kencang.
Tujuh hari setelah menikah, aku mendengar kabar bahwa suami ketiga Markonah meninggal dunia. Kematian suami Markonah kali ini lebih tragis bila dibandingkan dengan kematian para suaminya yang terdahulu. Guru SD tersebut diterkam buaya muara saat sedang mandi sore di tepi sungai di belakang rumah Markonah. Pria malang tersebut diterkam dan dicabik-cabik buaya di depan Markonah. Kabarnya, Markonah terpingsan-pingsan saat melihat tubuh malang suaminya hilang dibawa buaya di sore yang mulai gelap tersebut.
Masyarakat kampung kami gempar. Sejak kampung kami ada, belum sekali pun ada penduduk yang dimakan buaya. Bahkan, kami belum pernah melihat ada buaya yang berkeliaran di sungai yang ada di kampung kami tersebut.
Pergunjingan tentang Markonah marak kembali. Ada yang berpendapat bahwa Markonah adalah pemuja iblis. Ada juga yang mengatakan bahwa wanita yang malang tersebut terkena kutukan arwah para leluhur. Siang dan malam penduduk kampung kami, baik tua maupun muda, lelaki maupun wanita sibuk mempergunjingkan Markonah. Mereka berpendapat bahwa Markonah harus dilarang menikah lagi. Mereka tidak ingin Markonah memakan korban kembali.
Bagiku semua pergunjingan tentang Markonah hanyalah isapan jempol belaka. Aku tahu persis bahwa Markonah adalah wanita yang baik dan rajin beribadah. Bahkan aku tahu persis ia selalu puasa Senin-Kamis sejak masih sekolah.
Saat ini, mungkin hanya aku satu-satunya lelaki di kampung kami yang masih berani bertegur sapa dengan Markonah. Sebagai teman lamanya, aku tidak ingin ia divonis untuk sesuatu yang tidak diperbuatnya. Ia tidak mungkin menjadi pemuja setan, iblis, dedemit, genderuwo atau yang lainnya. Kematian para suaminya merupakan takdir dari Tuhan yang harus diterima. Tak ada satu pun kekuatan yang dapat mengintervensi Tuhan dalam menentukan panjang-pendeknya umur manusia.
Kedua orangtuaku sangat mengkhawatirkan kedekatanku dengan Markonah. Mereka tentu saja tidak ingin melihat anak semata wayangnya harus mati muda. Aku cuma bisa tersenyum mendengar kekhawatiran tersebut.
Terus terang, sejak SMA sebenarnya aku sudah suka dengan Markonah. Namun, aku selalu takut untuk mengungkapkannya. Aku sangat takut bila ia menolakku. Ketika kemudian kami menjadi semakin dekat sejak kematian suami ketiganya, aku mencoba menguatkan hatiku untuk mengungkapkan perasaanku. Bagiku, inilah kesempatan terakhir bagiku untuk memiliki Markonah. Kalau memang jodoh, aku ingin segera menikah dengannya.
Ketika kemudian aku benar-benar mengungkapkan rasa cintaku pada Markonah, ia menolakku.
“Tidak mungkin, Imran,” ungkapnya lemah.
“Kenapa, Mar?” tanyaku mendesak.
“Engkau tahu sendiri bahwa masyarakat kampung kita menuduhku terkena kutukan para leluhur kita. Aku sendiri sudah mulai percaya bahwa aku memang pembawa malapetaka bagi setiap lelaki yang menikah denganku,” jawabnya.
“Tapi, aku tidak percaya, Mar!”
“Aku tahu. Tapi, orangtuamu pasti sangat tidak setuju kita menikah.”
“Aku tidak peduli.”
“Terserah!” jawab Markonah ketus.
Aku akhirnya benar-benar bisa menikahi Markonah setahun setelah meninggalnya Yayat Hidayat. Walaupun kedua orangtuaku menentang keras pilihanku, aku tetap menikahi Markonah. Semua penduduk kampungku tak ada yang menghadiri undangan pernikahan kami. Kedua orangtuaku juga menolak hadir. Hanya kedua orangtua Markonah, adik-adiknya, dan dua orang pamannya saja yang menyaksikan ijab kabul pernikahan kami. Setelah ijab kabul, aku akhirnya menjadi suami keempat Markonah.
Aku ingin membuktikan bahwa Markonah bukanlah pembawa malapetaka. Aku juga ingin membuktikan bahwa urusan mati adalah urusan Tuhan. Tak ada sedikit pun kesalahan Markonah dalam peristiwa matinya para suaminya.
Namun, keyakinanku tersebut ternyata tidak mudah untuk membuktikannya. Sehari setelah menikah, tiba-tiba aku terkena penyakit aneh. Aku tidak bisa bangun dari ranjang dan sekujur tubuhku melepuh seperti habis tersiram air panas. Terbersit juga rasa takut dalam hatiku bahwa aku akan mati di hari pertama kehidupan rumah tanggaku.
Markonah menangis meratapi nasibnya. Ia memohon maaf padaku karena telah menyebabkan aku menderita penyakit aneh ini. Aku cuma bisa tersenyum menahan rasa sakit yang luar biasa. Kukatakan pada Markonah bahwa aku tidak akan mati. Aku akan selalu bersamanya dan mencintainya selamanya. Aku juga meminta dia untuk tidak menangis lagi. Markonah yang terlanjur bersedih, terus saja menangis.
Hingga saat ini, sudah dua bulan aku sakit dan belum juga mati. Walaupun sakitku belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sembuh, aku sangat bersyukur sebab aku bisa mengarungi kehidupan rumah tangga lebih dari sebulan bersama Markonah. Aku sungguh beruntung. (***)

Komentar
  1. scorpiansyah mengatakan:

    sip… cerita misteri putri ular putih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s