Cerpen | MARFUAH INGIN KAWIN LARI

Posted: 23 April 2011 in Cerpen, Sastra
Tag:, ,

Oleh : Irwan P. Ratu Bangsawan

Marfuah ingin segera menikah, itu sudah pasti. Hanya saja kedua orangtuanya tidak setuju jika ia menikah dengan Windhu. Yang membuat Marfuah semakin pusing tujuh keliling, orangtuanya tidak pernah memberi alasan yang jelas mengapa mereka tidak setuju jika ia menikah dengan Windhu.
Marfuah masih ingat benar bagaimana dua minggu yang lalu Windhu datang menemui orangtuanya dan mengutarakan maksudnya ingin melamar dirinya. Ayahnya dengan suara yang dibuat sedikit berwibawa menolak maksud kedatangan Windhu tersebut. Marfuah masih ingat benar perbincangan tersebut sebab ia menguping dari balik pintu kamarnya.
“Nak Windhu, kami dengan berat hati belum bisa menerima lamaranmu. Marfuah masih terlalu muda untuk menikah. Ia anak tunggal di keluarga ini,” kata ayah Marfuah dengan suara berat. Selanjutnya ayahnya berkata, “Kami masih ingin Marfuah berbakti dulu untuk keluarga. Kami ingin ia membantu dulu keluarga ini.”
“Tapi, Pak…. Kami berdua sudah sepakat untuk segera menikah,” jawab Windhu dengan suara yang begitu pelan.
“Yah….,” kata ayah Marfuah sambil menghela napas dalam, “Tapi, saya yang berhak untuk menentukan kapan Marfuah menikah dan dengan siapa ia harus menikah,” ucap ayahnya sambil menatap tajam ke arah Windhu.
“Pak, saya sangat mencintai Marfuah,” kata Windhu sambil menyapukan pandangan matanya ke lantai .
“Begini Nak….., begini saja, saat ini sudah jelas saya tidak akan mengizinkan Marfuah menikah. Kalau kalian berdua memang berjodoh, pasti suatu saat akan menikah juga,” jelas lelaki berkumis yang masih terlihat gagah diusianya yang sudah berkepala lima tersebut.
Mendengar ucapan ayah Marfuah tersebut, bagi Windhu dunia seperti akan runtuh. Matanya berkunang-kunang. Bibirnya bergetar keras. Ia seperti ingin pingsan. Namun, demi menjaga kehormatan dirinya, Windhu berusaha untuk tetap tegar. Ia hanya bisa tersenyum dan segera mohon pamit kepada kedua orangtua Marfuah.
Sementara itu, di kamarnya Marfuah menangis. Ia sedih mendengar penolakan ayahnya. Ia juga sedih membayangkan bagaimana perasaan Windhu saat ini. Sampai menjelang fajar, Marfuah masih tetap menangis hingga matanya menjadi sembab.
Marfuah tak habis pikir mengapa ayahnya menolak lamaran Windhu. Padahal, selama ia berpacaran dengan Windhu, belum pernah sekalipun ayahnya melarang hubungan mereka. Namun, ketika hubungan mereka telah sedemikian serius dan akan melanjutkan ke arah pernikahan, ayahnya tanpa alasan yang jelas telah menolak Windhu. Marfuah jelas terpukul dan bersedih.
Dua minggu sudah Marfuah tidak bertemu Windhu. Marfuah bisa memahami perasaan tambatan hatinya tersebut. Ia paham betul betapa hancurnya perasaan Windhu karena penolakan ayahnya tersebut.
Marfuah mencoba berbicara dengan ibunya. Namun, ibunya setali tiga uang dengan ayahnya. Wanita yang telah melahirkannya tersebut juga menolak berbicara tentang lamaran Windhu.
“Sudahlah, Mar. Ibu tak mau lagi kamu melanjutkan hubunganmu dengan Windhu. Titik!!” jawab ibunya dengan tegas.
“Tapi, mengapa, Bu?” tanya Marfuah.
Ibunya hanya menggelengkan kepala dan beranjak dari duduknya meninggalkan Marfuah menangis tersedu. Ingin sekali Marfuah berteriak sekeras-kerasnya. Ia ingin menggugat keputusan orangtuanya. Namun, Marfuah tahu persis bahwa hal tersebut percuma.
Pikiran Marfuah jadi buntu. Ia tak tahu harus bertindak bagaimana lagi untuk menyatukan cintanya dengan cinta Windhu. Ia ingin sekali menjadi istri lelaki yang sehari-harinya bekerja sebagai guru tersebut. Windhu yang begitu perhatian dan selalu memanjakannya, membuat ia merasa bagai seorang putri kraton yang selalu dilayani para abdi dalem. Marfuah sungguh tersanjung dengan sikap Windhu selama ini. Ia merasa tak akan ada lagi lelaki yang dapat menggantikan posisi Windhu.
Sudah bulat tekad Marfuah bahwa ia harus menjadi istri Windhu walau bagaimana pun caranya. Dalam benaknya, tak ada cara yang paling tepat untuk merealisasikan tekadnya tersebut selain kawin lari. Ia ingin mengajak Windhu kawin lari. Ia ingin mengajak Windhu pergi ke mana pun asal dapat menikah secara sah. Namun, Marfuah masih ragu untuk mengungkapkan rencananya tersebut. Ia takut Windhu akan menolak ajakannya tersebut.
Marfuah ingin sekali kawin lari, itu sudah jelas. Namun, ia sungguh bingung bagaimana harus menyampaikannya ke Windhu. Ia juga bingung, jika memang jadi kawin lari, ia harus pergi ke mana dan siapa yang akan mengurus rencana tersebut.
Sudah berkali-kali Marfuah menulis SMS di ponselnya yang intinya mengajak Windhu kawin lari. Tapi, berkali-kali pula SMS tersebut dihapusnya. Ia belum dapat menyusun kata-kata yang tepat untuk menyakinkan Windhu bahwa kawin lari adalah solusi yang paling realistik atas rencana menikah mereka.
Marfuah sungguh tersiksa. Ia selalu memikirkan Windhu berhari-hari, tapi kabar dari Windhu tak juga datang. Mungkinkah Windhu telah melupakannya? Marfuah tak tahu pasti. Ia hanya bisa melamun menunggu Windhu menghubunginya (***)

Komentar
  1. Su'aidah HS mengatakan:

    Kasihan juga…. Tapi sabar adalah pilihan terbaik…. Tks atas cerpennya…

  2. Anonim mengatakan:

    Unsur intrinsik nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s