Quo Vadis Lagu Anak-Anak

Posted: 25 April 2011 in Catatan Budaya
Tag:, , , , , ,

Oleh : Amellia Kurniatie, S.Pd.

Beberapa waktu yang lalu, penulis dan keluarga pernah berkunjung ke salah satu mall ternama yang ada di Kota Palembang. Di saat memasuki menapakkan kaki di atrium mall, terlihat ramainya pengunjung yang berkerumun terpesona dengan alunan musik yang dimainkan oleh sebuah group band yang sedang tampil. Musiknya tertata apik, suara vokalisnya pun terdengar merdu di telinga dan tidak terdengar nada fals sedikit pun. Lagunya pun terdengar akrab di telinga, yaitu lagu sebuah band yang sedang popular saat ini yang berjudul “Aku bukan Bang Toyib”.
Namun yang jadi persoalan bukannya soal penampilan band tersebut, melainkan ternyata personil band itu terdiri dari lima orang anak yang berusia 10-13 tahun. Terasa miris di hati kecil, pantaskah lagu tersebut dinyanyikan oleh anak-anak? Mengertikah mereka makna dibalik lagu tersebut?.
Kemudian timbul pula pertanyaan “kemanakah lagu anak-anak yang memang untuk konsumsi anak-anak semacam lagu Abang Tukang Bakso dan Aku Seorang Kapiten, serta lagu-lagu anak yang lainnya? Atau kemanakah penulis lagu anak-anak kita? Nampaknya, pertanyaan-pertanyaan ini hanya mampu dijawab oleh rumput-rumput yang bergoyang.

Perkembangan Musik Indonesia Saat Ini

Munculnya grup-grup band baru yang kreatif membawa dampak kepada nilai jual dan promosi grup tersebut dalam memasarkan materi lagu yang mereka produksi. Salah satu mediasi promo yang mereka tempuh, adalah televisi. Masyarakat pun dengan mudah menerima informasi lagu tersebut, yang hampir setiap saat diputar. Segmen audiens pun dikesampingkan, bahkan segala umur dapat menyaksikan dan mendengar materi lagu mereka. Terlebih maraknya penyiaran program televisi yang menyajikan program hiburan musik live seperti Inbox (SCTV), Dahsyat (RCTI), dan Dering (Trans TV).
Lirik atau materi lagu yang mereka ciptakan harus bisa diterima audiens, dan easy listening. Tak pelak, kalangan anak-anak dapat menerima materi lagu mereka yang ringan dengan materi lagu sederhana, sehingga mudah dihapal.
Munculnya grup band dan industri musik yang menjanjikan peluang bisnis, menjadi sebuah alasan para investor atau pemilik modal mengais laba yang melimpah. Begitu pula mereka para grup band atau penyanyi solo berusaha dan berupaya menciptakan satu produk musik yang dapat diterima pasaran atau audiens. Serta media promosi yang tidak ada batasan audiens, sebut saja seperti Ring Back Tone (RBT).
Dari sinilah semua berawal, peluang investasi yang menjanjikan membuat segmen media publik untuk anak-anak menjadi amat terbatas, dan program acara yang diketengahkan oleh stasiun televisi memaksa anak-anak nasional tidak mengenal dunia mereka sendiri.
Walau pun ada program musik anak atau ajang kompetisi untuk mereka di salah satu stasiun televisi swasta, tetapi ajang tersebut masih jauh dari nilai ideal untuk anak-anak itu sendiri. Mereka dipaksa untuk mengenal lagu-lagu dewasa dan penuh nuansa cinta, yang mereka pun sangat awam tentang makna dari materi lagu itu sendiri.

Stagnasi Perkembangan Musik Anak

Saat anak-anak menyanyikan lagu Nyiur Hijau, imajinasi anak diajak berlayar berkeliling ke bumi Indonesia yang indah indah rupawan. Pepohonan hijau melambaikan kedamaian. Sawah luas menghamparkan berjuta harapan. Laut biru pun menyimpan begitu banyak kemakmuran. Syair dengan kedalaman makna seperti lagu di atas nyatanya telah mampu ‘menyihir’ pikiran bagi anak-anak, yaitu menanamkan nilai kebanggaan terhadap negeri Indonesia.
Pada masa keemasannya, setiap pekan TVRI menayangkan acara “Ayo Menyanyi”. Para penampil diambilkan dari artis cilik yang sedang tenar, atau dari sanggar-sanggar berprestasi. Meski durasinya hanya 30 menit dan bukan siaran langsung, karena TVRI selalu menayangkan penuh kesetiaan, acara tersebut benar-benar ditunggu oleh anak-anak. Nama-nama arti seperti Adi Bing Slamet, Cicha Koeswoyo, Diana Papilaya, Dina Mariana, Vien Isharyanto, atau Yoan Tanamal sangat terkenal pada masa itu.
Pada dekade 1990-an silam, saat Joshua Suherman, Sherina, Tasya, Trio Kwek-kwek, dan Agnes Monica masih berjaya sebagai penyanyi cilik, anak-anak seusia para penyanyi itu masih dimanjakan oleh lagu-lagu manis. Setiap pagi RCTI dan SCTV masih ‘sudi’ menayangkan lagu anak-anak.
Namun apa yang terjadi pada masa sekarang? Hanya terpaut sekitar 20 tahun saja, blantika musik anak-anak sudah mengalami stagnasi atau kemandegan yang cukup memrihatinkan. Televisi dan radio dipenuhi lagu-lagu orang dewasa. Dari genre pop, lagu-lagu semacam Kekasih Gelapku (Ungu), Ketahuan (Matta), Teman Tapi Mesra (Ratu) mengajak anak-anak berpikir layaknya orang dewasa.
Memang, arus globalisasi tak dapat kita bendung. Agar tidak ketinggalan zaman, kita perlu mengikuti lompatan modernitas. Maraknya sajian hiburan di televisi atau mudahnya akses internet yang menyediakan beragam informasi tak disangkal merupakan bagian dari denyut kehidupan abad ini. Namun jika tidak dibarengi dengan pemantauan ketat terhadap anak-anak, tidak menutup kemungkinan dapat berakibat buruk bagi kehidupan mereka kelak. Di sinilah peran orang tua dipertaruhkan. Seperti kita tahu, regulasi dari pemerintah perihal jenis acara yang ditayangkan belum sepenuhnya memenuhi kriteria dan diindahkan oleh pemirsa televisi. Semisal program yang bertanda “boleh dilihat oleh semua usia”, nyata-nyata isinya masih rawan ditonton oleh anak-anak.
Melesunya blantika musik anak-anak akibat tenggelamnya gairah para pencipta lagu menghasilkan genre lagu anak-anak, sebenarnya ditangkap oleh beberapa stasiun televisi dalam bentuk kompetisi seperti AFI Junior (Indosiar, kini sudah tidak tayang) atau Idola Cilik (RCTI). Acara itu dipandang bermanfaat untuk mencari dan memandu bakat menyanyi bagi anak-anak. Namun sayangnya, kemasan yang disajikan masih saja ‘memaksa’ anak-anak untuk menjadi dewasa, bukan apa adanya sesuai perkembangan pikiran mereka. Hal tersebut dapat ditengarai dari jenis lagu yang dibawakan para penampil, hampir semuanya lagu orang dewasa. Kita belum dapat melihat letak itikad baik stasiun televisi, melainkan hanya melakukan eksploitasi anak-anak demi mengejar rating acara yang ujung-ujungnya mencari keuntungan. Akhirnya, selama orang tua tidak berperan sebagai “Badan Sensor Televisi” bagi anak-anak, dan stasiun televisi hanya mencari keuntungan semata-mata, ancaman hilangnya lagu anak-anak sudah di depan mata (***)

Amellia Kurniatie, S.Pd. adalah konselor di SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s