KEJAHATAN PERBANKAN VS PERLINDUNGAN NASABAH

Posted: 29 April 2011 in Catatan Ekonomi & Bisnis

Oleh: Riska Octaria Husbi, S.E.

Mencuatnya kasus pembobolan tabungan nasabah bank yang dilakukan oleh Inong Malinda Dee salah satu pegawai pada Citibank yang membobol dana nasabah sampai miliaran rupiah, membuka tabir bahwa makin banyaknya modus-modus kejahatan dalam perbankan yang terjadi. Sebelumnya, masih di bank yang sama, terjadi kasus kejahatan yang memakan korban jiwa nasabah kartu kredit, yaitu kematian Irzen Okta yang diduga dibunuh penagih tagih (debt collekctor) pada saat mengurus tagihannya. Terakhir, kasus terhangat yang sedang diperbincangkan saat ini yaitu kasus pembobolan Deposito PT.Elnusa pada bank Mega, yang ujung-ujungnya menambah panjangnya deretan kasus kejahatan perbankan yang terjadi di Indonesia.
Dari keseluruhan kasus yang terjadi belakangan ini, tentu berujung pada masalah kenyamanan dan perlindungan kepada para nasabah. yang saat ini semakin berkurang kepercayaan mereka terhadap perbankan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah untuk Bank Indonesia (BI) untuk bisa memperketat lagi peraturan perlindungan terhadap para nasabah bank di Indonesia.

Faktor Penyebab Kejahatan Perbankan
Menurut Executive Biro Humas BI Harymurthy Gunawan kasus keamanan nasabah bank yang terjadi saat ini bisa disebabkan oleh 3 (tiga) faktor utama, yaitu 1) adanya oknum, 2) kurang optimalnya sistem kontrol internal bank, dan 3) adanya kekuranghati-hatian nasabah.
Beberapa kasus kejahatan yang terjadi memiliki beberapa jenis modus, seperti contoh kasus pembobolan uang nasabah Citibank Landmark. Tersangka Inong Malinda Dee menarik dana nasabah menggunakan slip penarikan kosong. Slip kosong itu ada yang ditandatangani nasabah, ada pula yang diduga dipalsukan.
Inong yang pada saat itu merupakan pejabat Senior Relationship Manager Citibank Cabang Landmark, dikenal baik oleh para nasabah prioritas. Nasabah kerap menandatangani slip kosong dan memercayakan Inong yang mengisi. Tersangka memanfaatkan keadaan dengan mengalirkan uang ke rekening pribadi. Kerugian sementara ditaksir mencapai angka Rp16,63 Miliar. Di sini dapat dilihat ketiga faktor yang menyebabkan terjadinya kejahatan perbankan. Saat ini, BI berserta aparat kepolisian telah dan sedang menindaklanjuti dengan langkah pembinaan sebelum kasus ini mengemuka di media masa dan tetap akan melanjutkan penelitian yang lebih mendalam.
Lemahnya perlindungan dan sikap perbankan terhadap nasabah membuat seringkali nasabah tidak menyadari ketika terjadi tindak kejahatan yang menimpanya. Pertayaan yang dapat dikemukakan adalah bagaimana sesungguhnya UU No.10 Tahun 1998 tentang Perbankan memberikan perlindungan terhadap nasabah dalam perjanjian kredit?

Perlindungan Nasabah
Beberapa mekanisme yang dipergunakan dalam rangka perlindungan nasabah bank adalah lewat lembaga asuransi yang adil dan prediktabel. Asuransi ini temyata dapat membawa hasil yang positif. Ke depan, memang sudah saatnya menyempurnakan berbagai peraturan yang ada dalam dunia perbankan kita. Harapannya tentu saja agar dapat secara jelas mengatur perlindungan terhadap nasabah.
Untuk saat ini, kita melihat bahwa perlindungan yang bisa diberikan oleh BI hanyalah perlindungan dalam bentuk sistem. BI hanya menyiapkan sistem yang nantinya akan mendorong perbankan untuk melakukan bisnis dengan baik. Sistem ini lebih mengedepankan aspek edukasi bagi masyarakat. Faktor nasabah menjadi paling penting karena justru faktor inilah yang memungkinkan terjadinya kejahatan perbankan. Hal paling penting dalam perlindungan keamanan nasabah bank adalah adanya pendidikan bagi masyarakat dan sistem yang dibuat untuk mitigasi keamanan jasa perbankan.
Sebagai pengawas bank, BI harus melakukan pengawasan lebih mendalam terhadap kegiatan perbankan berdasarkan prinsip-prinsip pengawasan berbasis risiko (risk based supervision), termasuk hal-hal yang menyentuh perlindungan nasabah secara lebih mendalam. Dari sisi pengelolaan operasional bank, manajemen bank dituntut untuk meningkatkan penguatan dan disiplin pemantauan internal kontrol yang memadai dan berkelanjutan sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku.
Bank juga diminta untuk bertanggungjawab melakukan edukasi terhadap nasabah agar meningkatkan pemahaman dan kehati-hatian atas produk-produk yang ditawarkan. Pengaturan ini menjadi penting karena menyangkut perlindungan nasabah secara luas.
Kita berharap dengan adanya pengaturan dan edukasi kewaspadaan nasabah yang lebih jelas dan lebih kuat, dapat menjamin perlindungan terhadap nasabah yang pada gilirannya dapat mengurangi kejahatan dalam perbankan. Pengaturan dan edukasi tersebut juga diharapkan dapat mencegah kejahatan dalam perbankan karena tidak menutup kemungkinan akan adanya modus-modus baru dalam kejahatan perbankan.

Riska Octaria Husbi, peminat kajian ekonomi dan perbankan, bekerja di SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III dan SMA PGRI Pulau Harapan.

Komentar
  1. Ochie mengatakan:

    Bagaimana menumumbuhkan rasa percaya kembali pada pihak-pihak bank terkait dengan pengamanan dari bank-bank di Indonesia. Atau para pegawai yg harus dibenahi dan diberi training atu bagaimna sebaiknya ??

  2. Nampaknya sistem perbankan kia memang harus ditata ulang….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s