Pada zaman dahulu hiduplah seorang pendekar yang bernama Ling. Ia adalah salah satu keturunan Muyang Muning. Pendekar Ling sangat gagah, kulitnya kuning langsat, dan rambutnya panjang hingga ke tumit. Hampir setiap gadis di pedukuhan Pangkalan Balai terpesona dan kagum melihatnya.
Pada masa itu, yakni masa peralihan agama Hindu-Budha ke agama Islam, ada sebuah kerajaan besar yang bernama Kerajaan Limbang. Kerajaan Limbang terletak di dekat Sungai Musi. Kerajaan Limbang terkenal dengan rajanya yang sangat kejam, serakah, dan tamak. Raja juga selalu ingin menikahi semua gadis cantik dan dijadikan sebagai selirnya. Raja menguasai upeti dan semua harta milik penduduk termasuk para gadis.
Suatu hari raja mengerahkan prajuritnya yang dikenal dengan sebutan Laskar Limbang pergi mengelilingi pesisir Sungai Musi. Setelah lama berjalan, sampailah mereka di sebuah desa. Mereka pun berhenti untuk mencari apa yang diinginkan raja, yaitu harta dan gadis. Di desa tersebut, mereka melihat seorang gadis yang sangat cantik yang bernama Putri Seramping. Putri Seramping diajak untuk ikut mereka, tetapi Putri Seramping menolak ajakan mereka. Penolakan Putri Seramping menyebabkan prajurit Laskar Limbang mengamuk. Karena amukan Laskar Limbang, banyak penduduk yang terbunuh dan Laskar Limbang berhasil menaklukkan kedua orang tua Putri Seramping. Putri Seramping pun berhasil mereka bawa secara paksa.
Pada saat melarikan Putri Seramping, mereka melewati pedukuhan Sidang Mas, Galang Tinggi, Tanjung Beringin, Plajau, hingga mereka sampai di Pedukuhan Pangkalan Balai. Para prajurit tersebut belum puas dengan hasil jarahan mereka yang diperoleh dari desa tempat Putri Seramping tinggal. Mereka juga ingin menguasai harta dan mencari gadis lagi di Pangkalan Balai. Segera mereka mengumpulan pendududuk di desa tersebut.
Setelah semua warga berkumpul, salah seorang prajurit menyampaikan pengumuman, “Wahai warga sekalian, segeralah kalian kumpulkan semua harta yang kalian miliki dan semua gadis cantik yang ada di sini untuk dipersembahkan kepada raja. Kalau tidak kalian lakukan, kalian akan merasakan akibatnya. “
Karena ketakutan, para penduduk mengatakan yang sebenarnya. Mereka mengatakan bahwa mereka hanya punya sedikit harta dan seorang putri yang sangat cantik bernama Putri Munai.
Berita kedatangan Laskar Limbang dan ancaman mereka kepada penduduk sampai ke telinga Bangsali, Rioseli, Talib Wali, dan pendekar Ling. Mereka sangat marah mendengar berita itu. Para pendekar tadi menantang untuk bertarung sebelum membawa apa yang mereka inginkan.
“Hei, mau dibawa ke mana semua itu?” tanya Pendekar Ling dengan berani.
“Siapa kau? Minggir, jangan mengganggu perjalanan kami!”
“Langkahi dulu mayatku, sebelum kalian membawa semuanya!”
“Baik, kalau itu maumu.”
Terjadilah pertarungan yang sengit antara Pendekar Ling melawan semua Laskar Limbang. Satu-persatu Laskar Limbang berjatuhan. Dengan perjuangannya yang gigih, Pendekar Ling dapat menghabisi semua prajurit Laskar Limbang dan hanya tersisa satu orang.
“Sekarang pulanglah engkau ke kerajaanmu. Sampaikan pesan kepada rajamu agar raja tidak lagi sombong, tamak, dan serakah. Jangan datang lagi untuk menguasai Pangkalan Balai ini kalau ingin ia tetap selamat,” kata Pendekar Ling kepada satu orang yang tersisa tadi.
Setelah prajurit Laskar Limbang pergi, Pendekar Ling melihat Putri Seramping sedang menangis. Dihampirinya Putri Seramping. Ia mencoba mengombok (membujuk) Putri Seramping agar pulang ke desanya. Akan tetapi, Putri Seramping tidak ingin pulang karena ia merasa malu. Pendekar Ling tidak cepat putus asa. Ia terus membujuknya. Akhirnya, Putri Seramping mau kembali ke desanya. Tempat pendekar Ling mengombok (membujuk) putri Seramping inilah sekarang dikenal dengan nama suatu desa, yaitu Desa Pengumbuk. Desa Pengumbuk saat ini terletak di Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (***)

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd.
Cerita rakyat ini berasal dari Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s