Cerpen | AYAH, LUANGKANLAH WAKTUMU SEJENAK!

Posted: 30 April 2011 in Cerpen, Sastra

Oleh : Amellia Kurniatie

KICAUAN burung mengalun merdu. Titik-titik embun bermain di dedaunan. Tetesannya jatuh, menyapa lembut rerumputan. Berkilau tersambar sinar sang surya. Langit biru setia memayungi kirab lalu lalang kendaraan. Sepanjang ruas jalan penuh sesak, dari mobil mewah, becak hingga pejalan kaki bergerak amat perlahan. Teriakan petugas parkir lengkap dengan pluitnya, berlomba dengan bunyi klakson mobil yang menggeliat.
Tampak barisan pasukan berseragam loreng hijau, berbaret ungu. Berjajar bak pagar betis. Sekilas hampir menyerupai pasukan tentara hendak pergi berperang. Barisan pasukan itu adalah barisan Resimen Mahasiswa, atau yang biasa disebut Menwa. Barisan itu menghadang di depan pintu utama gedung, menghalau setiap orang yang ingin masuk ke dalam gedung. Satu orang diantara anggota pasukan itu, bertugas memeriksa undangan yang dibawa para tamu. Aku mengenakan baju toga diperbolehkan masuk. Sementara kedua orang temanku, Shinta dan Yuli tidak diperbolehkan masuk.
“Undangannya mana?” tanya petugas itu.
“Wah, gak ada. Tertinggal di rumah,” jawab Shinta temanku.
“Mohon maaf, kalau tidak ada undangan tidak boleh masuk!” ucap petugas itu tegas.
Aku yang mendengarnya, memohon pada petugas itu agar kedua temanku tersebut diperbolehkan masuk.
“Tolonglah, undangannya tertinggal. Mereka memang temanku, tetapi sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Kujadikan wakil orang tuaku. Ibu ku telah tiada. Ayah dan kedua kakakku tak dapat hadir,” jelasku.
“Maaf, sudah peraturan. Ini demi ketertiban,” jawab petugas itu.
Petugas itu tak mau kompromi, ia tetap tidak memperbolehkan kedua temanku untuk masuk ke dalam gedung mengikuti acara wisuda.
Aku meneruskan langkah memasuki ruangan yang hiruk-pikuk. Aku duduk di kursi yang telah ditentukan. Aku menarik menarik nafas, dengan sebuah tarikan nafas ini kuharap dapat menahan laju air mata yang hendak menetes. Tetapi tetesan air mata tak terbendung, airnya terus mengalir di pipiku. Kedua tanganku basah mengusapnya.
Aku menangis, air mataku tak berhenti mengalir dari acara belum dimulai hingga acara selesaipun aku masih menangis. Aku menangis bukan karena terharu terbawa suasana khidmatnya wisuda. Aku menangis karena aku sendiri di acara ini tanpa keluarga menemani. Aku menangis meratapi nasibku, mengenang setiap adegan-adegan dalam babak kehidupanku.

****

Terik matahari membakar ubun-ubun, pantulannya dari aspal menampar-nampar wajahku. Tetapi semua itu tak membuatku merasa gerah. Hari ini aku mendapatkan nilai ulangan matematika tertinggi dikelas 9,5. Ah, bahagianya hatiku. Ehm angka yang hampir sempurna namun melebihi nilai ulangan matematika Anggun. Anggun, teman sekelasku yang pernah meraih juara pertama olimpiade matematika tingkat SMP se-Kabupaten Banyuasin hanya mampu meraih nilai 7,9.
Rasa bahagia ini mengalahkan teriknya sang surya. Dengan perasaan bahagia, aku bergegas pulang ke rumah. Tak sabar rasanya bercerita pada ibu. Ibu, orang yang paling kucintai. Terbayang dibenakku betapa bangganya ibu, “Ehm.., ibu pasti bangga dan tersenyum bahagia padaku,” ucapku dalam hati.
“Assalamu’alaikum, Ibu! Aku pulang!” teriakku ketika sampai di halaman rumah.
Seorang pria dewasa berkaca mata, berjas putih keluar dari pintu rumah sambil menjinjing tas hitamnya. Kupandangi ia, pria itu membalas tatapan heranku dengan senyum hangatnya. Kemudian, ia berlalu begitu saja. “Ehm, Pak Dokter Bayu!” batinku.
Cepat-cepat aku masuk ke dalam rumah. Kulihat ayah dengan santainya duduk di ruang tamu sambil membaca Koran menghisap rokok kreteknya. Ayah memandangiku sekejap.
“Lihatlah ibumu di kamar”, ucapnya singkat lalu kembali membaca koran.
Setengah berlari, aku masuk ke dalam kamar ibu. Kulihat ibu terbaring lemah diatas ranjangnya. Matanya terpejam dan perlahan kuhampiri. Kusentuh jemari ibu, kudekatkan dengan keningku. Ehm, masih terasa hangat.
Aku bergegas menghampiri ayah di ruang tamu.
“Ada apa dengan ibu, Ayah? Kenapa? apa yang dikatakan Pak Dokter?” kuberondong pertanyaan yang ada dibenakku pada ayah.
“Ibu lumpuh, ia sudah tidak bisa berjalan lagi,” sahut ayah sambil meminum segelas kopi yang ada di tangannya.
”Lumpuh?” tanyaku penasaran.
Ayah berlalu meninggalkanku, melangkahkan kakinya keluar rumah tanpa memberi penjelasan sepatah katapun padaku.

****

Satu tahun telah berlalu, penyakit ibu bertambah parah hingga masuk rumah sakit dan diopname. Hanya Bik May, Mang Udin suaminya dan kerabat dekat kami yang lain, bergantian menjaga Ibu selama di rumah sakit.
Dua minggu diopname, ibu diperbolehkan rawat jalan. Namun, hanya berselang empat hari ibu harus diopname lagi. Demikianlah yang terjadi, waktu silih berganti hingga aku tak ingat berapa sering ibu harus mondar-mandir opname di rumah sakit. Hingga akhirnya dokter memutuskan sebaiknya ibu di rawat di rumah saja. Ibu akhirnya meningal dunia. Belakangan aku baru tahu bahwa penyebab sakit ibu karena ia tak tahan di madu oleh ayah. Ayah yang begitu kubanggakan ternyata menikah secara diam-diam tanpa seizin ibu.

****

Kini tinggallah aku sendiri, di rumah ini. Sunyi, sepi itulah yang kurasakan. Bila ada yang menanyakan bagaimana kasih sayang orang tua itu? Mungkin jawabanku tak selengkap jawaban anak-anak yang lain. Yang kutahu adalah rasanya kehilangan yang menyakitkan. Kehilangan hangatnya kebersamaan dengan orang-orang yang kucintai.
Aku tak pernah lagi berjumpa dengan ayah. Yang kujumpai hanya amplop putih berisi uang di atas meja. Bila ada amplop putih itu berarti ia datang ke rumah ini.
Sebenarnya aku tidak benci pada ayah. Aku cuma kesal terhadap perlakuan ayah terhadap kami, terutama terutama ibu. Tetapi jauh di lubuk hatiku, aku sangat merindukan sosoknya.
Aku merindukan kasih sayang ayah. Aku merindukan belaiannya. Terlebih di saat ibu tidak ada lagi. Tidak ada tempatku bermanja dan bercanda. Tidak ada tempatku berkeluh kesah. Tidak ada lagi seseorang yang bisa memotivasiku, memberi semangat saat kumulai malas belajar. Nilai-nilai ulanganku tak pernah secemerlang dulu. Kalau dulu nilai ulanganku tak pernah di bawah angka 8,5. Tetapi sejak ibu tiada, nilai ulanganku selalu di bawah 5.
Wali kelas, guru mata pelajaran, dan guru BK dengan sabar mendengar keluh kesahku. Mereka membangkitkan semangat belajar serta semangat hidupku. Mereka mau memperhatikanku, mengapa ayah tidak? Ada banyak hal yang ingin kuceritakan pada ayah. Bukan hanya tentang rasa kesalku itu pada ayah. Tetapi juga tentang hidupku, tentang cita-cita, tentang cintaku. Tentang kerinduanku pada ibu, juga pada ayah. Tentang rasa kerinduan bercampur rasa kehilangan yang menyesakkan kalbuku, manakala jika kulihat seorang anak bermanja bersama ayah dan ibunya.
Isi amplop itu bukan tak penting bagiku. Tetapi kehadiran ayah jauh lebih berharga. Ingin rasanya pula kukatakan pada ayah, “Ayah, luangkanlah waktumu sejenak!” Agar aku dan ayah bisa berbicara dari hati ke hati. Menggungkapkan semua isi hati. Hingga tidak ada jarak yang membentang di antara ayah dan aku. Mungkin ada permasalahan yang ingin ayah jelaskan kepadaku. Tentang perlakuan ayah terhadap ibu. Tentang pengkhianatan ayah terhadap kesetiaan ibu. Biarlah kesalahan itu menjadi bagian masa lalu. Masa lalu tak bisa diulang, tak bisa diperbaiki. Masa kini, masa depan harus kita tata menjadi baik. Bagaimana pun aku menyadari bahwa aku adalah anak ayah, dan ayah tetaplah ayahku (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s