Tingkat Kesulitan dalam Mempelajari Bahasa Asing/Bahasa Kedua

Posted: 7 Mei 2011 in Catatan Pendidikan
Tag:, ,

Clifford Prator mengidentifikasi enam tingkat kesulitan dalam mempelajari bahasa asing.bahasa kedua, yaitu:

Tingkat Nol

Pada tingkat ini tidak terdapat perbedaan atau kontras antara bahasa pertama dan bahasa kedua. Si pembelajar cukup membawa alih (positive transfer) bunyi, struktur, atau butir leksikal dari bahasa pertama ke bahasa kedua. Transfer seperti ini tidak menimbulkan kesulitan aapapun, seperti label yang diberikan terhadapnya, yakni tingkat kesulitan nol. Contoh-contoh dalam bahasa Inggris dan bahasa Spanyol misalnya mencakup bunyi-bunyi vokal utama, bunyi-bunyi konsonan seperti /s/, /z/, /m/, /n/, urutan kata dalam kalimat pada umumnya, atau kata-kata cognate (yang asal usulnya sama) seperti mortal, intelegente, dan americanos.

Tingkat Pertama (coalescence)

Pada tingkat ini dua unsur dalam bahasa pertama menyatu menjadi satu unsur dalam bahasa kedua. Si pembelajar diharapkan akan melupakan kebiasaannya untuk membedakan kedua unsur yang terdapat dalam bahasa pertama. Sebagai contoh, kata ganti orang ketiga tunggal untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan (his/her) dalam bahasa Inggris yang dalam bahasa Spanyol tidak terdapat perbedaan tersebut. Untuk kedua kata ganti itu hanya ada satu kata ganti, yaitu /su/ dalam bahasa Spanyol. Dalam bidang fonologi misalnya, dapat diambil contoh dari bahasa Inggris sebagai bahasa pertama dan bahasa Jepang sebagai bahasa kedua. Dalam bahasa Inggris, bunyi / r / dan / l / adalah dua fonem yang berbeda, sedangkan dalam bahasa Jepang, kedua fonem itu mnenjadi satu, yaitu / r /.

Tingkat Kedua (underdifferentiation)

Pada tingkat ini, untuk butir yang terdapat dalam bahasa pertama tidak menemui padanannya dalam bahasa kedua. Justru itu, kesulitannya terletak pada upaya yang harus dilakukan oleh si pembelajar untuk melupakan butir tersebut ketika ia mempelajari bahasa kedua. Salah satu contohnya adalah bahasa Inggris sebagai bahasa pertama dan bahasa Spanyol sebagai bahasa kedua. Dalam bahasa Inggris terdapat kata bantu do sebagai penanda tenses, kata ganti penunjuk tak tentu (other, certain), bentuk posesif dari kata tanya (whose), atau penggunaan kata some di muka kata benda dalam bahasa Spanyol tidak terdapat padanannya.

Tingkat Ketiga (reinterpretation)

Pada tingkat ini, sebuah butir yang terdapat dalam bahasa pertama diberikan interpretasi baru dalam bahasa kedua. Sebagai contoh, dalam bahasa Inggris, kata tugas a dan an dalam kalimat seperti ”He is a philosopher” adalah unsure wajib, sedangkan dalan bahasa Spanyol adalah unsure pilihan seperti dalam kalimat ”El us (un) filosofo”.

Tingkat Keempat (overdifferentiation)

Pada tingkat ini, terdapat suatu unsur dalam bahasa kedua yang benar-benar baru dan tidak memiliki kesamaan sama sekali dengan unsur dalam bahasa pertama. Kesulitannya terletak pada upaya mempelajari sesuatu yang benar-benar baru. Sebagai contoh, bahasa Inggris sebagai bahasa pertama dan bahasa Spanyol sebagai bahasa kedua. Dalam bahasa Spanyol untuk menyatakan generalized nominals (nominal dalam bentuk tak tentu) dalam suatu kalimat diperlukan determiner / e l seperti ”El hombre es mortal” dan unsur se yang mendahului kata kerja intransitif untuk subjek kalimat yang indifinite (tak tentu) seperti dalam ”Se come bien aqui”, sedangkan dalam bahasa Inggris hal tersebut tidak ditemui.

Tingkat Kelima (split)

Satu unsur dalam bahasa pertama menjaqdi dua unsur atau lebih dalam bahasa kedua. Split ini merupakan kebalikan dari coalescence. Kesulitannya terletak pada upaya yang harus dilakukan oleh si pembelajar untuk dengan sengaja membuat suatu pembedaan baru. Sebagai contoh bahasa Indonesia nsebagai bahasa pertama dan bahasa Arab sebagai bahasa kedua. Dalam bahasa Arab terdapat empat buah bunyi desis, yaitu sin, syin, tsa, dan shad, sedangkan dalam bahasa Indonesia hanya ada satu bunyi desis / s /, sehingga penutur bahasa Indonesia mengalami kesulitan melafalkan kata-kata yang berasal dari bahasa Arab yang mengandung keempat bunyi tersebut (Diah, tt : 4-6).

Komentar
  1. SURTIKANTI mengatakan:

    sulit, ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s