Wanita di Seberang Jalan

Posted: 7 Mei 2011 in Puisi, Sastra

setiap pagi wanita di seberang jalan itu
duduk dengan anggun di teras rumah panggungnya
ia tak peduli dengan kokok ayam jantan
atau kicau burung prenjak di dahan pohon rambutan
ia hanya diam dengan anggun
ia tak peduli dengan lebah-lebah
yang menghisap nektar bunga mawar ungunya
atau lincahnya kupu-kupu yang terbang rendah
ia hanya diam dengan anggun

walau hujan, wanita di seberang jalan itu
tetap duduk dengan anggun
di teras rumah panggungnya
segelas teh selalu ada di atas meja jatinya
ia minum dengan gerakan yang teratur
sungguh anggun!

wanita di seberang jalan itu memejamkan
matanya dengan perlahan
rambutnya tertiup angin pagi
dan bergerak dengan anggun
di telinganya terselip bunga melati
sungguh anggun!

wanita di seberang jalan itu berdiri dengan perlahan
berjalan ke arah tangga rumahnya dengan anggun
menatap ke arah jalan dengan anggun
entah apa yang dicarinya
sungguh anggun!

wanita di seberang jalan itu tak pernah berbicara denganku
tapi, pagi itu tiba-tiba kepalanya menoleh dengan anggun
ia berkata berkata padaku dari kejauhan tanpa bersuara
mulutnya yang anggun bergerak lambat:
”Ja-ngan-u-sil!”

aku tertawa senang
bertahun-tahun aku mengenalnya
tak pernah sekalipun ia berbicara denganku
kecuali pagi ini
walau tanpa bersuara, tapi ia telah berkata dari kejauhan
”Ja-ngan-u-sil!”

Banyuasin, 7 November 2009

Iklan
Komentar
  1. SURTIKANTI berkata:

    I LIKE IT…………

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s