Ah … dinda

Posted: 10 Mei 2011 in Puisi, Sastra

bukan … bukan senyummu yang membuatku
membayangkan berlari-lari di padang savana
memetik bunga-bunga liar
bernyanyi-nyanyi kecil
bersiul-siul gembira
dan membasuh mukaku di dinginnya air sungai yang mengalir dari
pegunungan

bukan … bukan tawamu yang membuatku membayangkan
menyusuri Parangtritis
mengumpulkan kerang-kerang kecil
menulis kata cinta di pasir
memandang matahari tenggelam
dan membasuh mukaku di hangatnya lair laut pantai selatan

bukan … bukan matamu yang membuatku
membayangkan mendaki Tangkuban Perahu
menghirup udara segar
membeli seikat edelweis
mencicipi stroberi yang asam-asam manis
dan membasuh mukaku di segarnya air pancuran yang mengalir
tak beratur

Ah … dinda
izinkan aku
izinkan aku
izinkan aku
merasakan getaran ini walau tanpa alasan
walau engkau enggan
walau engkau tak percaya

Ah … dinda
engkau tertawa geli
tatkala aku berkata, ”Dinda, aku jatuh cinta!”
engkau tersenyum aneh
tatkala aku berkata, ”Dinda, aku jatuh cinta!”
engkau hanya berkata dengan suara sengau, ”Kok, bisa?”

Ah … dinda
ingin aku berkuda sembrani melintas awang-awang
menebar senyum pada burung-burung yang menatapku janggal
aku tentu tak peduli, dinda
aku ingin tersenyum pada awan-awan yang membentuk mozaik
dirimu
tapi, angin tak bersahabat, dinda
mozaikmu hancur menjadi awan yang berbentuk aneh

Ah … dinda
aku teringat lagi saat kau tertawa geli ketika aku berkata, ”Dinda,
aku jatuh cinta!”
aku tertawa geli juga, dinda
ketika kuingat lagi kau tersenyum aneh dan berkata sengau, ”Kok,
bisa?”

Banyuasin, 6 November 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s