Mengapa Begitu?

Posted: 10 Mei 2011 in Puisi, Sastra

awan tak terlihat indah lagi
sungai tak terlihat jernih lagi
padang rumput tak terlihat hijau lagi
matamu yang kukagumi tak bercahaya lagi
mengapa begitu?

bertahun aku selalu mengagumi awan
awan selalu berhasil menghiburku
kutemukan malaikat sedang tersenyum padaku
para bidadari sedang berlari-lari senang
dan beribu-ribu bentuk lainnya
tapi, semuanya kini telah sirna

bertahun aku hidup bersama jernihnya sungai
terhanyut dalam tenangnya sungai yang mengalir
dari hulu ke hilir
bermain kecipak air
berenang dengan teman-teman masa kecilku
atau terjun dari pohon yang doyong ke sungai
dan tertawa-tawa gembira
tapi, semuanya kini telah sirna

bertahun aku menghirup aroma rumput padang hijau
di belakang rumahku
bermain layang-layang
berkejar-kejaran berlari tak tentu arah
tertidur penuh senyum di bawah pohon beringin tua
dan terbangun menjelang azan maghrib tiba
tapi, semuanya kini telah sirna

bertahun aku mengagumi mata jernihmu
sudut matamu sungguh selalu tak terduga bila mengerling
matamu mengerjap lucu bila sedang senang
matamu mengerjap aneh bila sedang marah
sungguh aku selalu mengagumi mata jernihmu
tak pernah mata itu tak bersahabat
selalu jernih
tapi, semuanya kini telah sirna
mengapa, Dinda?

Banyuasin, 12/7-27/8-2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s