…. Perbuatan anaknya kembali mengecewakan ibunya. Jangkrik-jangkrik yang ditangkap ibunya dari sore hingga malam itu dimain-mainkannya dan dilepaskannya begitu saja. Berterbanganlah seluruh jangkrik yang telah dengan susah payah ditangkap ibunya. Ibunya mencoba kembali menangkap jangkrik yang ada, tetapi sia-sia, jangkrik-jangkrik itu sudah berterbangan ke sana ke mari….

DAHULU kala di Pangkalan Balai hiduplah seorang janda bersama dengan kedua anaknya. Anaknya yang pertama masih berumur 10 tahun dan anaknya yang kedua masih bayi. Kedua anaknya telah menjadi yatim. Mereka hidup sangat sederhana. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ibunya mencari apa saja yang ada di hutan untuk dimakan. Sesekali Ibunya juga mencari ikan di sungai.
Suatu hari ibunya mencari ikan di sungai dan ia berhasil mendapat seekor ikan mas yang cukup besar. Segera ikan mas tersebut dibawanya pulang. Sampai di rumah ikan mas yang didapatnya langsung dibersihkan dan dimasaknya. Setelah matang, ikan mas tersebut disimpannya dalam lemari. Ia pun pergi ke hutan.
Sampai di hutan ibunya langsung mencari jangkrik. Selama berjam-jam ia mencari jangkrik untuk santapan ia dan anak-anaknya dan juga untuk dijual. Uang hasil penjualan jangkrik digunakan untuk membeli kebutuhan yang diperlukan. Setelah mendapatkan jangkrik yang banyak, ia pulang ke rumahnya.
Sampai di rumah, ia menyimpan jangkrik yang didapatnya. Karena kelaparan, ia bermaksud makan. Akan tetapi, ia sangat kecewa. Makanan telah habis. Tidak sedikitpun disisakan oleh anaknya. Apa boleh buat. Ibunya hanya bisa menahan lapar.
Ternyata, kenakalan anaknya tidak sampai di situ. Perbuatan anaknya kembali mengecewakan ibunya. Jangkrik-jangkrik yang ditangkap ibunya dari sore hingga malam itu dimain-mainkannya dan dilepaskannya begitu saja. Berterbanganlah seluruh jangkrik yang telah dengan susah payah ditangkap ibunya. Ibunya mencoba kembali menangkap jangkrik yang ada, tetapi sia-sia, jangkrik-jangkrik itu sudah berterbangan ke sana ke mari. Apa boleh buat, ibunya menangis melihat sikap anaknya yang kurang ajar terhadapnya.
Untuk melepaskan kekecewaannya, Ia pun pergi ke hutan. Lama ia berjalan hingga ia sampai di sebuah batu yang sangat besar. Ia berhenti berjalan dan berdiri di balik batu tersebut. Ia menumpahkan tangisnya dan menangis di batu besar tersebut.
“Ya Tuhan, alangkah kurang ajar anakku,” ucapnya sambil terisak. “Ya Tuhan, temukanlah aku dengan betu belah betu betangkop. Biar aku ditelannya dan aku tidak akan bertemu lagi dengan anakku.”
“ Diamlah kau! Akulah betu belah betu betangkop yang kau cari. Aku akan menelanmu jika kau mau,” ujar batu besar yang ia duduki. Seketika batu itu terbelah dua dan langsung menelannya. Hanya jari jempolnya yang tersisa di luar batu.
Setelah menunggu lama ibunya pergi dan belum pulang-pulang, anaknya mulai khawatir. Anaknya mulai merasa bersalah akan kelakuan yang ia perbuat pada ibunya. Ia pun memutuskan untuk mencari ibunya di hutan. Ia pergi ke hutan sambil menggendong adiknya yang masih bayi. Sambil berjalan, ia terus menjerit memanggil ibunya.
“Umak… Umak, engkau di mana?” jeritnya sambil berjalan ke sana ke mari.
“Oi umakku, maafkan aku. Aku telah bersikap kurang ajar.” Ia mulai menangis, “Umak, aku berjanji tidak akan berbuat nakal lagi padamu.”
Tiba-tiba ia teringat dengan perkataan ibunya bahwa di dalam hutan terdapat betu belah betu betangkop. Menurut ibunya, batu tersebut dapat menelan manusia. Ia pun memutuskan mencari batu tersebut sesulit apapun rintangan yang akan ia hadapi. Ia terus mencari sambil bertembang,
“betu belah, betu betangkop,
jengan kau telan umakku, kau di mane”

Ia terus menjerit memanggil ibunya. dan tidak henti-hentinya bertembang,
“betu belah, betu betangkop,
jengan kau telan umakku, kau di mane”
“betu belah, betu betangkop,
jengan kau telan umakku, kau di mane”

Adiknya yang masih bayi pun menangis. Adiknya menangis karena kelaparan. Adiknya ingin menyusu dengan ibunya.
Tiba-tiba sebuah batu besar memanggilnya,
“Hei anak kecil, cepatlah ke sini!” teriak sebuah batu.
“Siapa kamu?”
“Akulah batu yang kau cari.”
“Di mana umakku?”
“Umakmu sudah kumakan. Sekarang potonglah jempol tangan umakmu ini dan berikanlah pada adikmu,” ujar batu.
Anaknya segera menuruti perintah si batu. Dipotongnyalah jempol Ibunya dan diberikannya kepada adiknya. Jempol ibunya menjadi pengganti ASI dari ibunya untuk adiknya. Setelah memberikan jempol ibunya kepada adiknya, ia secepatnya berlari meninggalkan hutan. Ia terus mengingat kejadian itu sampai tua. Sejak saat itu kedua anak tersebut menjadi yatim piatu.

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd. dan Anggun Zarela.
Cerita rakyat ini berasal dari Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Komentar
  1. Terima kasih buat pak Irwan yang telah menceritakan legenda budaya Bayuasin,saya punya saran,kapan bapak akan ciptakan lagu daerah banyuasin,saya orang yang banyuasin tinggal lama di perantauan,sangatlah rindu dendangkan lagu daerahku,

  2. irwanpratubangsawan mengatakan:

    Terima kasih juga Bung Yanto atas apresiasinya…..
    Khusus tentang cerita rakyat Banyuasin yang saya muat di blog ini, sebagian sudah saya terbitkan dalam bentuk buku. Hanya sayangnya, karena keterbatasan dana, maka buku tersebut (diterbit Dewan Kesenian Banyuasin, 2011) diterbitkan dalam jumlah yang terbatas.

    Sementara soal lagu daerah, saya telah menulis beberapa lagu yang sudah saya unggah di situs Youtube http://www.youtube.com/my_videos?feature=mhum
    Bila tidak bisa diakses bisa dicari di google lagu-lagu: Pangkalan Balai Kota Betuah, Sambatan, Bujang Gedis Banyuasin, Jenji Kakak, dll. Lagu ini baru draf, jadi belum dipoles, sebab belum ada yang mau menerbitkannya. Heheeeee….
    Sambatan: http://www.youtube.com/watch?v=b7qb9m1OaoU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s