…. Tentu saja para kepala daerah tidak mau hal tersebut terjadi sebab ia dapat kehilangan kursi empuk yang sudah didudukinya. Oleh sebab itulah mereka kemudian berlomba-lomba melobi politisi Senayan untuk mengegolkan usulan anggaran mereka. Segala trik dan angpau mereka siapkan…..

Oleh : Irwan P. Ratu Bangsawan

SEMAKIN dekat tahun 2014, semakin panas suhu di Senayan. Nampaknya, tiada hari tanpa kekisruhan di antara para pemain sandiwara politik tersebut. Publik dengan terang benderang disuguhi pertunjukan dagelan politik busuk para politisi Senayan. Mereka sudah tidak memedulikan lagi rakyat yang sudah jenuh dengan permainan buruk mereka di atas panggung sandiwara itu.
Politik sejatinya untuk memerjuangkan kesejahteraan rakyat. Mustahil jika ada sebuah ideologi politik yang meniadakan aspek kesejahteraan rakyat. Bila hal itu terjadi, maka ideologi tersebut merupakan ideologi sampah yang busuk dan tak dapat didaur ulang kembali
Permasalahannya saat ini adalah mengapa para politisi yang seharusnya merupakan agen penyejahtera rakyat malah menjadi agen bagi berbagai kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Politik kita sudah menjadi politik lipstik yang merah merona di bibir, namun tak sedap saat berbicara.

Minus Harga Diri
Kasus percaloan anggaran yang mengemukan hari-hari terakhir ini menunjukkan kepada kita bahwa politik anggaran kita memang belum sepenuhnya memihak kepada rakyat. Politik anggaran kita masih memihak kepada segelintir orang yang ingin menangguk keuntungan sebanyak-banyaknya dari penyusunan dan pengucuran dana APBN.
Akibat politik anggaran yang berbasis percaloan tersebut maka pembangunan sulit untuk merata ke segela penjuru tanah air yang gemah ripah loh jinawi ini. Basis penyusunan anggaran kita adalah siapa cepat dia dapat dan siapa paling intensif melobi, ia yang dapat kucuran dana yang menggunung. Para kepala daerah yang duduk manis di belakang meja kerjanya tidak akan mendapat porsi kue pembangunan. Akibatnya, daerahnya akan tetap terbelakang dan terancam akan dilikuidasi dan dimerjer dengan daerah lainnya. Tentu saja para kepala daerah tidak mau hal tersebut terjadi sebab ia dapat kehilangan kursi empuk yang sudah didudukinya. Oleh sebab itulah mereka kemudian berlomba-lomba melobi politisi Senayan untuk mengegolkan usulan anggaran mereka. Segala trik dan angpau mereka siapkan. Celakanya, kegiatan lobi melobi tersebut cenderung mengabaikan harga diri mereka sendiri.
Sebagai pejabat, para kepala daerah dan politisi Senayan telah bertindak seperti pelaku pasar lelang saja. Artinya, siapa yang berani memberikan harga (angpau) tertinggi akan mendapatkan anggaran yang mereka inginkan. Harga diri sebagai kepala daerah dan politisi telah mereka gadaikan hanya karena rumitnya proses untuk mendapatkan anggaran untuk pembangunan daerah.
Pemerintah pusat sudah seharusnya mereformasi politik anggaran kita. Politik anggaran kita mestinya berbasis pada “kebutuhan dan kinerja” dan bukan berbasis pada “keinginan dan kerakusan kepala daerah dan politisi”.
Reformasi tersebut harus mampu membagi secara adil anggaran negara yang ada ke seluruh Nusantara. Dengan demikian, tak lagi istilah lobi melobi dalam memerebukan anggaran, melainkan berdasarkan nilai kelayakan dan kemanfaatan suatu program yang diajukan (***)

Komentar
  1. Scorr's mengatakan:

    yayayaaa.. emang busuk… hahahahaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s