…. Henya tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan. Semua yang melihat Henya akan terpesona dan terkagum-kagum dengan ketampanannya, sehingga tidak heran semua gadis desa mendambakan Henya menjadi kekasih mereka….

ALKISAH pada zaman dahulu terdapat sebuah desa terpencil, yaitu Desa Tanjung Remas. Desa ini dipimpin oleh seorang pemangku adat bernama Herkut. Selama ia berkuasa, banyak sekali rakyat yang menderita karena kekejamannya. Akan tetapi, pertanian di daerah ini berkembang dengan pesat. Setelah menjadi orang yang berkuasa di daerah tersebut, ia mempersunting seorang gadis yang bernama Cik Atel. Mereka berdua hidup rukun dan dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Bujang Henya.

Henya tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan. Semua yang melihat Henya akan terpesona dan terkagum-kagum dengan ketampanannya, sehingga tidak heran semua gadis desa mendambakan Henya menjadi kekasih mereka.

Ketika Henya masih remaja, ayahnya meninggal dunia. Semua harta kekayaan ayahnya jatuh kepadanya karena ia anak semata wayang. Kekuasaan ayahnya pun jatuh pada Henya. Ia pun memerintah di desa tersebut. Henya memerintah lebih baik daripada ayahnya. Ia berhasil mendirikan pabrik penggilingan padi, sehingga dapat meringankan beban penderitaaan rakyat setelah dikuasai ayahnya yang penuh dengan penindasan dan kekejaman.

Belum lama ayahnya meninggal, ibunya pun menyusul. Ibunya meninggal tepat pada saat Henya akan mempersunting seorang gadis cantik keturunan Bangsa Arab. Ibunya meninggal karena serangan penyakit yang sama seperti ayahnya, yaitu demam berdarah.

Pernikahan Henya dengan gadis keturunan Arab yang dicintainya tetap berlanjut. Setahun menikah, mereka dikaruniai anak kembar. Anak kembar tersebut mereka beri nama Jebah dan Baker.

Seiring bertambahnya waktu, Jebar dan Baker pun tumbuh besar. Akan tetapi, musibah kembali menghampiri keluarga mereka. Tidak disangka Baker jatuh sakit dan meninggal karena penyakit yang sama dengan kakek dan neneknya. Jebah sangat sedih karena ia telah kehilangan orang yang disayanginya. Ia juga kehilangan teman bermain.

Kehidupan masyarakat di desa tersebut semakin lama semakin baik. Mereka sudah tahu bagaimana cara beternak hewan peliharaan, seperti ayam, sapi, dan kambing. Mereka juga sudah bisa memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Setelah Jebah berusia 20 tahun, ia meminta kepada ayahnya agar bisa memerintah di Desa Remas. Orang tuanya memberi syarat bahwa ia harus menikah dulu sebelum ia memerintah suatu kerajaan. Hal tersebut merupakan syarat untuk memerintah suatu daerah pada saat itu. Agar bisa memerintah, Jebah pun mau menikah. Ia menikah dengan seorang gadis yang cacat fisik dan kurang cantik.

Satu tahun menikah mereka berdua dikaruniai seorang anak. Akan tetapi, mereka dikaruniai anak yang cacat fisik. Ciri fisik yang dimiliki anak itu sama seperti fisik ibunya. Anaknya memiliki badan yang bungkuk. Karena anaknya lahir bungkuk, ia pun diberi nama Si Bungkuk.

Bungkuk pun tumbuh besar. Akan tetapi, karena ia bungkuk, ia tumbuh tidak seperti anak yang lain. Setelah ia berumur delapan belas tahun, musibah kembali menghampiri keluarga mereka. Kedua orang tua Bungkuk jatuh sakit dan meninggal dunia. Orang tuanya meningal karena penyakit yang sama seperti buyutnya dulu, yakni demam berdarah. Mengapa daerah ini setiap tahun pasti ada saja yang meninggal karena penyakit itu? Ada seorang pemuka adat mengatakan bahwa daerah ini minta tumbal yaitu ayam hitam putih sebanyak 1000 ekor.

Setelah sebelas tahun bungkuk memerintah, dia berniat untuk berpindah ke daerah Pangkalan Balai. Kepindahan bungkuk terjadi karena perpecahan dan permusuhan antara Depati Bungkuk dengan dukun pemegang Tanjung Remas. Sejak terjadi permusuhan itu tumbal dusun dicabut. Akibatnya, banyak sekali korban yang meninggal karena wabah penyakit. Mereka memberi istilah Tanjung Remas menjadi pandangan bagi burung terkuku. Para tetua dusun mengadakan rembuk dusun. Hasil mufakat mereka bahwa dusun itu harus dipindahkan ke daerah hulu sungai. Daerah hulu sungai tersebut masih rawa-rawa. Supaya daerah tersebut tinggi, diusahakanlah untuk digalang dan ditimbun. Karena daerah sudah menjadi tinggi, seorang pemuka adat daerah ini memberi nama daerah tersebut dengan sebutan Galang Tinggi. Desa Galang tinggi saat ini terletak di Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin.

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd.
Cerita rakyat ini berasal dari Desa Galang Tinggi, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Komentar
  1. tyaz ayu mengatakan:

    ooow jdi ck itu cerite nye

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s