…. Asas pembuktian terbalik mewajibkan seseorang yang memiliki kekayaan yang “naudzubillah” untuk membuktikan asal-usul kekayaannya tersebut. Bila ia ternyata kemudian tidak mampu membuktikannya, maka ia bisa didakwa telah melakukan korupsi….

Oleh: Irwan P. Ratu Bangsawan

DALAM perspektif hukum, seorang tidak boleh divonis bersalah sebelum hakim mengetukkan palunya. Ajaibnya, asas tersebut tidak memandang bulu dalam penerapannya. Sebagai misal, seseorang yang tertangkap basah sedang mencuri, membunuh, menyuap, maupun sedang berpesta narkoba, tetap saja belum bisa divonis bersalah oleh masyarakat sebelum ada kekuatan hukum yang sudah tetap.

Sungguh ajaib sebab pesakitan tersebut tertangkap basah bahkan mungkin tertangkap basah kuyup, tapi masih bisa tersenyum manis sebab belum divonis oleh majelis hakim yang mulia. Bahkan mereka bisa saja mengumbar ancaman ke mana-mana dengan tuduhan “mencemarkan nama baik” kepada siapa saja yang mencoba untuk mengutik-utik status hukum mereka.

Aroma tak sedap dalam penegakkan hukum di negeri kita salah satunya dimulai dari asas tersebut di atas. Padahal, sudah banyak para pakar hukum mengusulkan agar diberlakukan asas pembuktian terbalik, terutama dalam kejahatan yang berkaitan dengan korupsi dan mencucian uang (money laundry).

Asas pembuktian terbalik mewajibkan seseorang yang memiliki kekayaan yang “naudzubillah” untuk membuktikan asal-usul kekayaannya tersebut. Bila ia ternyata kemudian tidak mampu membuktikannya, maka ia bisa didakwa telah melakukan korupsi atau yang sejenisnya. Sedangkan kekayaannya yang tidak akan habis selama tujuh keturunan tersebut, akan disita negara dan dapat digunakan untuk menambal defisit APBN kita. Akibatnya, orang tersebut akan menjadi “orang miskin baru”.

Salah Kaprah

Sebagai orang yang awam dalam bidang hukum, penulis berpendapat bahwa adalah kurang tepat alias salah kaprah jika kita harus dipaksa menggunakan asas praduga tak bersalah bila terkait dengan kasus tertangkap tangan alias tertangkap basah. Mustahil kita mengikuti asas tersebut bila secara kasat mata kita melihat telah terjadi adanya tindakan melawan hukum yang dilakukan oleh seseorang.

Mungkin yang masih bisa kita lakukan adalah berusaha memahami mengapa tindakan melawan hukum tersebut dapat terjadi. Sebagai misal, seseorang yang tertangkap basah sedang mencuri sepasang sandal butut di mushola, tetaplah bersalah walaupun belum divonis hakim. Namun, secara sosiologis harus dicari tahu mengapa orang tersebut mencuri sandal tersebut. Apakah penyebabnya karena faktor kemiskinan ataukah memang ia adalah seorang kleptomania yang hobinya mencuri walaupun ia memiliki banyak uang.

Bila hal ini terjadi, penasihat hukum seharusnya lebih mengedepakan faktor sosiologis seperti tersebut di atas, ketimbang berteriak-teriak menuntut penerapan asas praduga tak bersalah. Hakim tentu akan lebih bijaksana dalam memberikan hukuman bila melihat latar belakang seseorang melakukan tindakan melawan hukum tersebut.

Reformasi Hukum

Pemerintah dan legislatif harus segera menyusun cetak biru (blue print) reformasi hukum nasional. Reformasi hukum merupakan jalan masuk dalam menegakkan keadilan hukum dan ekonomi kita.

Masyarakat sudah mulai bosan menyaksikan ketidakadilan yang ada. Masyarakat juga sudah mulai bosan bagaimana para elit politik memelintir hukum dan mengangkanginya sesuka hati.

Bila diyakini bahwa suara rakyat adalah juga suara Tuhan, maka kebosanan rakyat sudah pasti adalah kebosanan Tuhan juga. Nah, jika Tuhan sudah mulai bosan maka bangsa ini tinggal menunggu waktu untuk mendapatkan sentilan-Nya.

Tentu saja kita tidak berharap Tuhan menyentil kita. Sungguh tidak adil bila kita harus menanggung derita akibat perbuatan orang lain. Namun, apa hendak dikata, rakyat kecil memang selalu harus menanggung nestapa, entah sampai kapan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s