KORUPSI, POLITISI DAN BUNGLON

Posted: 18 Juni 2011 in Catatan Budaya
Tag:, , , ,

…. Dalam perspektif budaya, korupsi dan politisi telah berkelindan sejak masa lalu. Rakyat secara berkala menilai kinerja para politisi. Bila rakyat menilai telah cukup sebuah kerusakan dibuat oleh suatu rezim, mereka akan menghukumnya dengan melakukan revolusi dan reformasi….

Oleh : Irwan P. Ratu Bangsawan

Tamat kuliah, bunglon berwarna politisi
lalu mubalig kemudian pengusaha
terakhir wali kota.
Akbar Kasmiati

KETIKA Orde Reformasi dimulai pada 1998, ada satu kata yang paling banyak digunakan oleh media massa, yaitu kata korupsi. Kata ini sedemikian populernya sehingga tiada hari dilalui tanpa menggunakan kata “korupsi”. Secara semantik, korupsi bermakna penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Dengan demikian, korupsi merupakan bentuk dari keculasan dari penyelenggara negara (perusahan dsb) dalam penggunaan keuangan yang dipercayakan kepadanya.

Salah satu penyebab runtuhnya rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto pada masa lalu adalah karena maraknya korupsi di kalangan pejabat pemerintahan. Huru hara yang terjadi pada 1998 menghendaki dimusnahkannya perilaku penyimpang tersebut dan menggantinya dengan sebuah rezim yang lebih mampu mengedepankan aspek ketulusan dalam bekerja dengan meniadakan perilaku tak terpuji tersebut.

Celakanya, saat rezim Orde Reformasi dibangun, ia dibangun di atas puing-puing kebobrokan yang telah berurat berakar ke seluruh sendi kehidupan bernegara. Akibatnya, orde ini banyak ditunggangi oleh eks kekuatan Orde Baru yang menyulap dirinya menjadi kekuatan suci, ibarat iblis yang berubah menjadi malaikat. Mereka adalah bunglon yang bisa berubah warna dan bentuk sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

Para koruptor sekarang telah berada di mana-mana. Sudah sulit membedakan mana yang koruptor dan mana yang tidak sebab semuanya telah berwajah sama dan pandai menjaga citra.

Darah dan air mata yang telah dikeluarkan oleh rakyat saat mendirikan Orde Reformasi dahulu, kini hanyalah cerita sedih yang tak kunjung usai. Rakyat telah berkorban banyak, sementara orang lain, terutama politisi, yang mengambil keuntungan. Mau dibawa ke mana negara ini? Entahlah, cuma Tuhanlah yang bisa menjawabnya.

Para politisi pada masa sekarang sungguh sangat berbeda dengan politisi pada masa awal Indonesia merdeka. Para pendiri negara kita seperti Bung Hatta dan Bung Syahrir adalah orang-orang ikhlas yang berani mengorbankan apa saja demi kemajuan dan keutuhan bangsa dan negaranya. Hal ini sungguh berbeda 180 derajat dengan para politisi masa kini. Hampir sulit kita menemukan politisi yang benar-benar bersih dan mampu secara konsisten menjaga ritme perjuangannya. Tak sedikit dari mereka yang hanya mencari keuntungan finansial semata dari kedudukan terhormat mereka. Untuk membuktikan tesis ini tidaklah sulit sebab hampir setiap hari kita menyaksikan secara live panangkapan dan persidangan para politisi sial yang tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Rakyat sesungguhnya  sudah sangat frustrasi dengan perilaku para politisi korup tersebut. Namun, hati rakyat kita seluas samudra. Mereka masih bisa menahan diri dan tidak melakukan tindakan destruktif terhadap penjarah uang rakyat tersebut. Pertanyaannya adalah sampai kapankah rakyat bisa bersabar? Wallahu a’lam bi shawwab.

Para politisi kita di masa sekarang sebagian besar adala para bunglon yang sangat pandai menyamarkan dirinya. Sehari-hari dia bisa berkali-kali berubah wujud sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Mungkin saat ini ia adalah seorang mubalig, beberapa saat kemudian mungkin ia akan menjadi seorang pengusaha. Demikian seterusnya ia berubah wujud tanpa terkendali. Padahal wujud sesungguhnya ia adalah seorang koruptor yang menghisap darah rakyat hingga kering kerontang.

Dalam perspektif budaya, korupsi dan politisi telah berkelindan sejak masa lalu. Rakyat secara berkala menilai kinerja para politisi. Bila rakyat menilai telah cukup sebuah kerusakan dibuat oleh suatu rezim, mereka akan menghukumnya dengan melakukan revolusi dan reformasi. Kita bisa melihat bentuk hukuman rakyat tersebut sejak masa kerajaan hingga masa kemerdekaan. Runtuhnya rezim Orde Lama dan Orde Baru merupakan contoh bentuk penghukuman rakyat terhadap penguasa. Bagaimana dengan rezim Orde Reformasi? Masihkah dipercaya rakyat? Kita cuma bisa berharap bahwa para penguasa dan politisi segera mereposisi dirinya dan berhenti menjadi bunglon (***).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s