…. Pemuda tampan tersebut memiliki seorang kekasih yang sangat cantik yang berasal dari desa seberang, yaitu Desa Lubuk Karet. Mata pencaharian utama penduduk Desa Lubuk Karet adalah berkebun karet. Penduduk kedua desa tersebut hidup berdampingan dengan damai dan aman….

DAHULU kala di sebuah desa tinggallah seorang pemuda yang sangat tampan. Ia tinggal bersama orangtuanya. Mata pencaharian mereka adalah sebagai petani betung (bambu). Penghasilan utama penduduk desa itu memang dari betung yang sangat banyak tumbuh di desa tersebut. Karena banyak betung yang ada di desa tersebut, mereka pun sepakat memberi nama desa mereka dengan sebutan Desa Betung.
Pemuda tampan tersebut memiliki seorang kekasih yang sangat cantik yang berasal dari desa seberang, yaitu Desa Lubuk Karet. Mata pencaharian utama penduduk Desa Lubuk Karet adalah berkebun karet. Penduduk kedua desa tersebut hidup berdampingan dengan damai dan aman.
Karena sudah cukup lama berhubungan dan merasa sudah ada kecocokan satu sama lain, pemuda Betung dan gadis dari Lubuk Karet tersebut memutuskan untuk menikah. Penduduk kedua desa sangat senang mendengar kabar bahagia tersebut. Mereka berharap pernikahan tersebut bisa menjadikan hubungan yang telah baik selama ini akan semakin erat antara Desa Betung yang banyak memiliki kebun bambu dan Desa Lubuk Karet yang banyak menghasilkan karet.
Setelah menikah, rumah tangga mereka dipenuhi rasa bahagia. Sang suami sangat menyayangi istrinya dan istrinya sangat menyayangi suaminya. Mereka hidup rukun. Tak pernah sekali pun terdengar di telinga penduduk sekitar kalau sepasang suami istri itu bertengkar.
Ketika sang istri mengandung anak pertamanya, ia merasakan tidak enak dengan perutnya. Ia selalu merasa mual saat ia mencoba menelan makanan apapun. Ia sangat menginginkan memakan seekor ular sawah. Awalnya ia sendiri merasa heran dengan apa yang diinginkannya dan ia mencoba menahan keinginannya yang aneh tersebut. Ia tidak memberi tahu suaminya tentang keinginannya itu karena ia tahu suaminya pasti akan sangat terkejut dan merasa aneh. Akan tetapi, setelah tidak sanggup lagi menahan keinginannya untuk memakan ular sawah, ia pun memberi tahu suaminya.
“Kak, aku minta tolong!’
“Minta tolong apa, Dik?”
“Aku ingin sekali makan ular sawah,” ucap istrinya perlahan.
“Apa?!” seru suaminya terkejut.
“Iya, Kak. Aku ingin makan ular sawah,”
“Yang benar, Dik. Keinginanmu itu aneh sekali.”
“Aku juga tidak tahu, Kak. Sebenarnya aku sudah lama ingin makan ular sawah. Tolonglah, Kak. Carikan aku ular sawah,” pinta istrinya dengan sangat memelas.
“Keinginanmu itu aneh sekali, Dik.”
“Tolonglah, Kak. Sekali ini saja. Cepatlah Kakak carikan aku ular sawah. Mau ya, Kak?”
“Baiklah, Dik. Nanti Kakak Carikan.”
“Jangan nanti, Kak. Sekarang,” pinta istrinya.
“Baiklah kalau memang itu maumu. Sekarang Kakak pergi dulu, ya Dik.”
“Iya, Kak. Hati-hati ya. Kalau sudah dapat, langsung pulang ya.”
“Iya,” jawab suaminya singkat.
Berangkatlah suaminya mencarikan ular sawah untuk istrinya. Ia bersedia memenuhi keinginan istrinya karena menurutnya keinginan itu adalah keinginan anak yang sedang dikandung istrinya dan ia percaya apabila tidak diturui itu akan pamali. Sebenarnya sangat berat hatinya untuk pergi mencari ular sawah yang diiinginkan istrinya. Akan tetapi, perasaan berat yang ada di hatinya dikalahkan oleh rasa sayangnya kepada istri dan anak yang ada di dalam kandungan isrinya.
Sepanjang perjalanan, ia masih memikirkan keanehan yang dialami istrinya. Ia masih tidak habis pikir dan sangat penasaran apakah anak dalam kandungan istrinya itu memang menginginkan ular sawah atau hanya istrinya saja yang mengada-ada. Karena rasa penasarannya makin mendalam, ia pun bertekad untuk mencari cara untuk mengobati penasarannnya.
Setelah ia memperoleh ular sawah, ia lansung pulang ke rumah dan menemui istrinya. Akan tetapi, ia tidak langung memberikan ular sawah yang diperolehnya kepada istrinya. Istrinya yang sudah lama menunggu kedatangan suaminya dengan membawa ular sawah tentu saja menjadi kecewa dan marah kepada suaminya yang tidak langsung memberinya ular sawah, sehingga terjadilah keributan antara keduanya.
Kareha khilaf dan juga karena tekadnya untuk mengobati penasarannya, ia pun membunuh istrinya. Setelah terbunuh, ia membelah perut istrinya dan mengambil janin yang ada di dalam perut istrinya. Apa yang terjadi kemudian sungguh membuat suaminya tersentak. Bayi yang dikeluarkannya dari perut istrinya ternyata hidup dan dapat bergerak. Bayi itu langsung mengambil ular sawah dari tangan ayahnya dan langsung memakan ular sawah itu hidup-hidup.
Berita kematian istrinya dan perbuatan lelaki itu sampai ke telinga semua penduduk desa Lubuk Karet. Mereka semua menyesalkan kematian putri dari desa mereka yang tragis. Mereka juga sangat membenci perbuatan suaminya karena tidak menuruti permintaan istrinya, bahkan membunuh istrinya.
Walaupun sang suami sangat menyesali perbuatannya, semua penduduk Desa Lubuk Karet sudah sangat membencinya. Tidak hanya suaminya yang dibenci penduduk Desa Lubuk Karet, tetapi semua penduduk yang ada di Desa Betung. Hal inilah yang menjadi sebab hingga saat ini bahwa penduduk Desa Betung dan Desa Lubuk Karet percaya bahwa apabila ada seorang penduduk dari kedua desa itu menikah, rumah tangga yang mereka bina tidak akan harmonis (***)

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd.
Cerita rakyat ini berasal dari Kecamatan Betung, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Komentar
  1. bary mengatakan:

    bukan desa lubuk karet, tapi desa lubuk lancang !

  2. Tks atas infonya Pak Bary,
    Nanti akan saya sampaikan kepada pencerita ulangnya…

  3. Anonim mengatakan:

    wow. .aneh thu__!

  4. Anonim mengatakan:

    wooo sangt aneh thu

  5. imam airlangga mengatakan:

    sip

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s