Due Beredek Ngebet Beruge

Posted: 27 Juni 2011 in Cerita Rakyat, Sastra
Tag:,

…. Masuklah Badar dan Badui ke tempat tersebut. Mereka berdua ditempatkan di tempat yang sangat bagus, luas, dan peralatannya yang sangat lengkap. Akan tetapi, ada yang aneh dari perempuan itu. Dia tidak pernah keluar dari kamarnya. Dia hanya mempersilakan dua beradik itu makan tanpa menemui Badar dan Badui….

ZAMAN dahulu di sebuah desa hiduplah seorang janda miskin. Ia tinggal bersama kedua anaknya. Anaknya yang besar bernama Badar dan yang kecil bernama Badui.Suaminya baru saja meninggal. Keluarga ini masih merasakan kesedihan. Kedua anaknya sangat menyayangi ibunya. Mereka berdua rajin membantu ibunya mencari kayu bakar karena anaknya kasihan melihat ibunya yang sudah tua mencari kayu bakar sendirian. Kayu bakar yang mereka dapat untuk dijual guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Suatu hari Badar minta izin kepada ibunya agar bisa mencari bruge (ayam hutan) di hutan.
“Bu, aku ingin pergi ngebet beruge di hutan dan aku akan mengajak Badui. Boleh kan, Bu?”
“Iya, pergilah. Hati-hati. Jangan lama-lama. Kalau  ayamnya sudah dapat, segera kau dan adikmu pulang,” jawab ibunya.
“Iya, Bu. Kalau sudah dapat, aku dan Badui akan segera pulang.”
Setelah diiizinkan ibunya, berangkatlah Badar dan Badui ke hutan. Cukup lama mereka berjalan hingga sampailah mereka di hutan. Badar langsung memasang perangkap untuk menangkap ayam. Perangkap tersebut dipasangnya di dekat pohon-pohon yang besar. Setelah perangkap selesai mereka pasang, mereka pun menunggu.  Lama mereka menunggu, tetapi belum ada ayam yang berhasil masuk perangkap.
”Ayo Kak, kita pulang saja. Sepertinya tidak ada ayam yang mau masuk perangkap kita,” ucap Badui.
“Nanti, Dik. Siapa tahu sebentar lagi akan ada ayam yang masuk perangkap kita,” jawab Badar.
“Ya, sudah kalau begitu.”
Hari semakin malam, sementara belum satu ayam pun yang masuk perangkap yang mereka buat.
“Kak, aku takut. Kita kan tidak tahu jalan pulang. Bagaimana ini, Kak?” tanya Badui.
“Tenang, Dik. Kita memanjat pohon besar itu saja. Siapa tahu ada kampung untuk kita menginap.”
“Iya, Kak,” jawab Badui polos.
Sebelum memanjat pohon yang besar, Badui bertembang,
“Allahu lillahi Robbi,
 kayu rendah jadi tinggi,
Tunjukkan jalan bagi kami
agar kami berdua bisa keluar dari sini.”
Setelah bertembang, memanjatlah Badar dan Badui ke atas pohon. Badar memanjat paling tinggi dan Badui di bawahnya. Ketika berada semakin tinggi di atas pohon, Badar melihat cahaya di kejauhan.
”Dik, di sana ada cahaya, tetapi tidak jelas, cahaya kampung atau cahaya bulan.”
“Kalau begitu kita ke sana saja, Kak. Siapa tahu itu kampung dan ada tempat untuk kita menginap,” jawab Badui.
Turunlah dua beradik ini dari atas pohon. Sesaat setelah sampai di bawah, mereka bertemu dengan orang yang sudah tua.
“Wahai cucuku, kalian boleh menginap di tempat yang ada cahaya itu dengan syarat kalian  harus mengucapkan assalamualaikum.”
Setelah menyampaikan pesan, orang tua tersebut menghilang. Terkejutlah Badar dan Badui. Tanpa berpikir panjang lagi mereka langsung pergi menuju tempat yang ada cahaya. Tidak lama mereka berjalan, sampailah mereka di tempat cahaya tersebut.
“Wahai yang punya kampung, kami datang bermaksud menginap. Apakah kami diizinkan?”
“Iya. Kami bersedia menampung kalian, tapi kalian harus mengucapkan assalamualaikum,” jawab seorang perempuan dari dalam.
“Asssalamualaikum,” ucap Badar dan Badui bersamaan.
Masuklah Badar dan Badui ke tempat tersebut. Mereka berdua ditempatkan di tempat yang sangat bagus, luas, dan peralatannya yang sangat lengkap. Akan tetapi, ada yang aneh dari perempuan itu. Dia tidak pernah keluar dari kamarnya. Dia hanya mempersilakan dua beradik itu makan tanpa menemui Badar dan Badui.
Mereka berdua pun makan dengan lahap. Karena kekenyangan, mereka berdua tertidur. Mereka baru terbangun ketika hari sudah siang.
Ketika terbangun mereka sangat terkejut melihat mereka berdua tertidur di kuburan. Sisa-sisa makanan malam tadi berubah jadi ulat.
Tidak lama datanglah orang tua yang bertemu dengan mereka semalam.
”Wahai cucuku, kalian telah selamat dari penunggu kampung ini. Sekarang berjalanlah kalian ke arah utara. Di situlah jalan pulang ke rumahmu,” ucap orang tua tersebut  dan  ia langsung menghilang, sama seperti semalam.
Mendengar ucapan orang tua tersebut, Badar dan Badui segera berlari ke arah utara. Setelah beberapa lama, sampailah mereka di rumah dengan selamat.

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd.
Cerita rakyat ini berasal dari Kecamatan Ban
yuasin III, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s