…. Kemanjaan politisi kita sebenar adalah sesuatu yang menjijikkan. Mereka seharusnya berlaku sebagai hamba rakyat dan bukan sebagai majikan atas rakyat yang telah memilihnya. Pesta demokrasi yang dinamakan dengan pemilu memang menghasilkan politisi yang menganut paham aji mumpung.

Oleh: Irwan P. Ratu Bangsawan

MANUSIA memang ditakdirkan untuk menjadi homo politicus alias makhluk sosial yang suka bermain peran bak selebritis. Yah, demikianlah kondisi nyata politisi kita. Mereka adalah sekelompok orang yang bernasib mujur sehingga dapat tampil sebagai pesohor yang dikagumi oleh banyak pihak. Ke mana-mana mereka harus selalu dikawal dan dielu-elukan. Belum lagi kalau bicara soal fasilitas. Para politisi biasanya selalu ingin mendapat fasilitis VIP.

Kemanjaan politisi kita sebenar adalah sesuatu yang menjijikkan. Mereka seharusnya berlaku sebagai hamba rakyat dan bukan sebagai majikan atas rakyat yang telah memilihnya. Pesta demokrasi yang dinamakan dengan pemilu memang menghasilkan politisi yang menganut paham aji mumpung. Artinya mumpung masih jadi pejabat maka manfaatkanlah jabatan tersebut sebesar-besarnya untuk kepentingan dan keuntungan pribadi.

Sifat dan Sikap Politisi

Saya jadi teringat dengan artikel yang ditulis oleh Bambang W. Soeharto seorang politisi senior Indonesia. Dia mengatakan bahwa demokrasi baru akan berbuah jika dijalankan oleh politisi yang bertanggungjawab, bukan hanya dibicarakan. Nah, untuk menjalankan dan mempraktikkannya diperlukan pemain-pemain jujur, aktor-aktor cerdas bahkan pemimpin-pemimpin asketis. Tentu saja akan lebih baik jika mereka menawan dan energik sehingga harapan rakyat kepadanya lebih mudah terpenuhi.

Akan tetapi, masih kata Bambang W. Soeharto, akan tiba waktunya seorang politisi tidak lagi punya pengaruh. Pekerjaan dan profesinya tidak menghasilkan dentuman. Karirnya tidak menanjak. Ucapannya tidak didengar, komentarnya tidak dikutip dan tindakannya tidak menghasilkan perubahan.

Siapakah politisi yang akan mengalami proses tersebut. Menurut penelitian yang dilakukan oleh lembaga independen (2004) para politisi yang akan menikmati masa-masa itu adalah:

Pertama, politisi playboy. Sifat politisi ini adalah mudah ke lain hati. Tindakannya suka berpindah-pindah (hati dan pikiran) pada ideologi/institusi/partai yang berbeda. Orang banyak menyebutnya kutu loncat. Praktik politiknya ikut yang menang, membela yang bayar dan berkarya dalam S3: sluman, slumun, selamet.

Kedua, politisi yang mudah ditebak. Sifat politisi ini adalah \”lugu\” Keluguannya bukan karena kejujuran yang dimiliki melainkan karena tidak memiliki amunisi intelektual yang cukup. Tindakannya biasa-biasa saja dan tidak melakukan inovasi-improvisasi politik. Investasi politiknya juga macet. Posisi dan pembelaannya tidak jelas. Tidak memihak pemerintah tetapi juga tidak berada bersama rakyat. Politik baginya menjadi \”biasa-biasa saja\” dan tidak merupakan panggilan kejuangan yang istimewa.

Ketiga, politisi manja. Sifat politisi ini adalah kompromis. Ia bukan petarung yang tangguh bagi persoalan yang ada di hadapannya. Tindakannya hanya menuntut pada pemerintah dan rakyat agar menghargainya. Meminta pelayanan dan service berlebihan tanpa tahu problem bangsa secara lebih luas. Politisi ini biasanya sangat emosional dan selalu mengeluh atau mengutarakan kemauannya kepada orang lain karena tidak percaya diri. Seringkali ia tidak mampu mengendalikan perasaannya ketika menghadapi persoalan.

Keempat, politisi yang pelit. Sifat politisi ini adalah hidup untuk diri sendiri. Politisi jenis ini hampir tidak pernah membuang uangnya berlebihan untuk orang lain. Bahkan terkadang ia lebih suka meminta orang lain mengongkosi kegiatannya agar mendapat nilai di masyarakat dan atasannya. Tak ada waktu buat hal-hal yang menurutnya tidak menguntungkan diri sendiri. Tak ada dana buat kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat bagi diri sendiri. Semua orientasi politiknya hanya untuk diri dan keluarganya saja.

Kelima, politisi yang membuat masalah. Sifat politisi ini adalah anti problem solver. Ia selalu mengubah hal-hal biasa menjadi problem yang berat dan selalu membuat kecewa pemilihnya. Tindakannya suka membesar-besarkan masalah, menghadirkan masalah, mempersulit yang mudah dan bersikap sangat birokratis.

Kelima sifat dan sikap politisi inilah yang menjauhkan kita dari demokrasi. Walau konsep kepribadian demokrasi masih memerlukan pemaknaan yang lebih riil melebihi kebutuhan akan kebebasan politik tetapi kepribadian demokrasi sendiri harus meniscayakan bahwa tugas utama konsolidasi demokrasi adalah mendesain kepribadian yang terbuka, akomodatif dan responsif. Maksudnya, walaupun dalam keadaan transisi demokrasi, kita memerlukan pribadi yang berbasis pada 3M: merdeka, mandiri dan modern. Tiga sikap ini adalah sikap yang berupaya memberikan kenyamanan umum bagi seluruh kegiatan demokrasi di berbagai golongan masyarakat. Dari sikap ini produktivitas dan kegairahan demokrasi bisa ditingkatkan serta kepastian menikmati hasilnya akan bisa diciptakan.
Karena itu, dalam hal politisi di zaman transisi demokrasi, model politisi yang dibutuhkan bangsa ini adalah politisi yang kuat pilihan dan kesetiaannya, berkarakter sikap dan visi-misinya, mendengar keluh dan problem rakyatnya dan bekerja keras siang malam sambil menggalang kerjasama dengan lingkup internasional. Dialah politisi yang tebar kerja, bukan hanya tebar pesona. Dialah politisi yang bekerja cepat, tepat, terkordinasi dan sampai pada targetnya. Dialah sumber inspirasi rakyat untuk bekerja dan berprestas ◙

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s