NAZARUDDIN NASIBMU KINI

Posted: 9 Juli 2011 in Catatan Politik
Tag:, , , ,

Oleh : Irwan P. Ratu Bangsawan

Politik kita juga adalah politik yang berbiaya tinggi. Oleh sebab itu, politisi yang “bokek” tidak mungkin bisa eksis dan menduduki posisi mulia sebagai anggota dewan yang terhormat ataupun posisi politik lainnya seperti gubernur, walikota, dan bupati. Kedudukan politik seperti yang tersebut di atas adalah kedudukan yang hanya bisa dimiliki dan dibeli oleh para politisi yang berduit dan memiliki jaringan yang mau menalangi kegiatan politiknya.

            KISAH politik M. Nazaruddin sungguh heboh dan membuat banyak orang pusing tujuh keliling. Politisi muda yang hobi pindah partai ini konon dalam usianya yang baru 32 tahun ini memiliki harta bejibun yang dikumpulkannya melalui patgulipat politik papan atas. Sungguh beruntung Nazaruddin, tidak semua politisi memiliki kesempatan luar biasa seperti dia: kaya dan dekat dengan kekuasaan. Namun, sama seperti kisah-kisah politisi yang cepat naik daun lainnya, kisah Nazaruddin adalah kisah kejatuhan yang sangat sakit dan menyakitkan setelah naik daun yang terlalu cepat.

Konon, Nazaruddin adalah politisi royal yang suka membagi-bagi rezeki kepada para koleganya. Tentu saja keroyalannya tersebut adalah keroyalan yang “ada udang di balik batu”. Nah, ketika ia sedang terjepit seperti saat ini, maka ia ingin semua batu yang ada dibongkar dan tidak menjepitnya lagi.

Bongkarlah Nazar

Dalam sistem politik kita yang masih sangat korup seperti saat ini, apa yang menimpa Nazaruddin sebenarnya bukanlah hal baru yang mengejutkan. Kasus yang menimpa Nazar adalah konsekuensi logis dari kongkalikong politik yang serba abu-abu dalam praktik politik kita.

Politik kita juga adalah politik yang berbiaya tinggi. Oleh sebab itu, politisi yang “bokek” tidak mungkin bisa eksis dan menduduki posisi mulia sebagai anggota dewan yang terhormat ataupun posisi politik lainnya seperti gubernur, walikota, dan bupati. Kedudukan politik seperti yang tersebut di atas adalah kedudukan yang hanya bisa dimiliki dan dibeli oleh para politisi yang berduit dan memiliki jaringan yang mau menalangi kegiatan politiknya.

Kembali ke kisah Nazar, kita tentu saja tidak ingin negara ini terus menerus dikelola oleh politisi “busuk” yang dapat menghalalkan semua cara dengan uang dan kekuasaan yang dimilikinya. Kisah ini menyadarkan kita bahwa kita selama ini terlalu larut dengan sepak terjang tak terpuji para politisi kita.

Nazaruddin yang dulu begitu dibela oleh rekan-rekan dan Partai Demokrat, sekarang adalah buronan interpol yang terancam dipecat dari posisinya sebagai anggota DPR RI dan anggota partainya. Nazar tentu saja meradang dan tidak bisa menerima serangan-serangan yang tak henti-hentinya diarahkan kepadanya. Melalui pesan BBM (blackberry mesengger) dan pengacaranya, secara perlahan tapi pasti Nazar berusaha menyeimbangkan kedudukannya. Ia mulai menyerang dan menyerang kawan dan lawannya.

Kita tentu berharap Nazar menyerang bukannya dengan serangan yang membabi buta dan tidak mengenai sasarannya. Serangan Nazar seharusnya adalah serangan balik yang dahsyat dan dapat meluluhlantakkan semua orang yang bersekongkol dengannya dalam melakukan kejahatan korupsi di Indonesia.

Nazar juga seharusnya jangan bergerilya ke berbagai negara dan menjadi terbuang di negeri orang. Nazar harus sudah mulai memikirkan untuk membongkar secara gamblang siapa saja yang terlibat dalam berbagai kasus korupsi yang membelitnya. Benarkah Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Menpora Andi A. Mallarangeng terlibat, harus dapat dijelaskan secara jelas dan utuh oleh Nazar tanpa berpretensi sebagai fitnah.

Kasus yang menimpa Nazaruddin ini merupakan pintu masuk untuk membuka aib yang dilakukan oleh para politisi busuk untuk meraup uang rakyat. Kebiasaan mereka untuk menjadi makelar dalam berbagai proyek yang ada di lembaga pemerintahan harus segera dipotong. Uang yang disetor oleh rakyat dalam bentuk pajak tidak boleh lagi dikompas oleh preman politik tersebut. Jadi, saat ini bola panas sedang di tangan Nazar dan menjadi kewajibannya untuk memainkan bola tersebut secara cantik agar semua patgulipat para penyelenggara negara tersebut dapat terbongkar dan keadilan dapat ditegakkan

Badai Demokrat Belum Berlalu

Badai yang menyapu Partai Demokrat saat ini nampaknya belum akan berlalu. Terjangan badai tersebut telah membuat banyak pihak ketar-ketir. Salah satu yang terkena imbasnya adalah sang ketua umum partai Anas Urbaningrum. Anas yang tidak terima dituduh balik membalas melaporkan Nazar ke Mabes Polri dengan tuduhan pencemaran nama baik. Sementara secara institusi, Partai Demokrat berencana akan mensomasi Nazar.

Partai Demokrat nampaknya semakin kesulitan untuk menampilkan diri sebagai partai yang bersih dan solid. Badai yang ditebar Nazar ini membuat banyak elit partai menyandang status sebagai orang yang “patut diduga” terlibat dalam perbuatan yang melawan hukum. Publik seperti kehilangan kepercayaan kepada partai yang dibentuk oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini. Sebagaimana kita ketahui bahwa Partai Demokrat selama ini memposisikan dirinya sebagai partai yang propemberantasan korupsi.

Sementara di sisi lain soliditas partai menjadi menguap karena sesama elit partai saling serang dan saling hantam. SBY nampaknya sudah semakin sulit meredam pertentangan internal yang terjadi. Sangat disayangkan bila Partai Demokrat semakin terpuruk dan terus-menerus diterjang badai yang entah kapan akan segera berlalu sebab partai ini adalah aset bangsa dalam upaya menegakkan demokrasi di bangsa yang sedang sakit ini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s