Serpihan Penyesalan

Posted: 16 Juli 2011 in Cerpen, Sastra

…. Tetes air mata jatuh membasahi pipiku, seolah tak mau ketinggalan melepas rindu hanya lewat memandang gambar itu saja. Wajahnya tersenyum seakan tak lekang oleh waktu. Rasa rindu yang bergejolak di dalam hati ini tak dapat terpungkiri, mungkin aku yang salah meninggalkan rumah semauku saja, tanpa memikirkan perasaan orang tuaku….

Oleh: Anggun Zarela

LEWAT tengah malam, kira-kira pukul 01.00 WIB dini hari, terlihat jelas hitam kelam malam ini. Melihat tetes-tetes air hujan yang masih tersisa akibat hujan deras yang terjadi tadi malam. Hening suara di malam ini, terasa kelam dan sepi yang terasa. Teringat masa-masa bersama mereka, masa-masa yang membuat bahagia dan senyum selalu.

Aku memandang gambar yang terdapat di album photo yang kubawa ketika aku meninggalkan rumah. Tetes air mata jatuh membasahi pipiku, seolah tak mau ketinggalan melepas rindu hanya lewat memandang gambar itu saja. Wajahnya tersenyum seakan tak lekang oleh waktu. Rasa rindu yang bergejolak di dalam hati ini tak dapat terpungkiri, mungkin aku yang salah meninggalkan rumah semauku saja, tanpa memikirkan perasaan orang tuaku.

“Ah, mereka juga tak memikirkan aku! Untuk apa aku memikirkan mereka, yang jelas-jelas tak menginginkanku,” tanpa sadar kalimat itu terucap dari bibirku.

Mungkin memang jelas, aku tak diinginkan oleh orang tuaku. Aku mengambil sepucuk kertas bersih tak bernoda, lalu kutuliskan syair-syair puisi tentang kerinduanku untuk mereka. Puisi sepanjang lima bait itu selesai kutulis, aku tersenyum bangga. Kuulang untuk membacanya, sampai air mataku jatuh kembali.

****

            Pagi yang cerah, ketika matahari tersenyum dari ufuk barat, aku menyapu teras rumah yang kotor berdebu. Tukang sayur keliling yang biasa menjualkan barang dagangannya itu kembali melewati tempat tinggalku.

“Mas, beli sayur ya, yang biasa aja Mas,” jeritku dari teras rumah.

Yes I Do Bang. Tunggu ya,” celotehnya dengan bahasa Inggris padaku.

Kulanjutkan memasak untuk mengisi perutku yang kosong. Sejenak aku terkenang dengan masakan Bunda yang enaknya selangit. Tapi itu dulu, bukan sekarang, yang sekarang aku harus mampu mandiri. Tidak untuk orangtuaku tapi untuk aku sendiri.

Tok, tok, tok suara ketukan pintu depan terdengar jelas. Bergegas aku keluar rumah dan membuka pintu, ternyata yang datang adalah Pak Pos yang mengantarkan paket kiriman dari orang yang tidak kukenal.

Selesi Masak, aku segera menyantap habis masakanku. Kubuka paket kiriman yang dihantarkan oleh Pak Pos tadi. Rupanya itu kiriman dari teman SMA ku dulu. Ia mengirimkan sebuah mainan mobil-mobilan yang sangat kusukai. Aku tersenyum memadang mainan itu.

“Thanks kawanku, mainan ini akan kujaga, kau kawan terbaik yang pernah kukenal,” lirihku sembari melihat mainan itu.

Beranjak pukul 10.00 WIB, aku beranjak meninggalkan tempat tinggalku menuju kampus tempatku menuntut ilmu. Hari itu juga aku menerima kabar dari teman yang bertetangga dengan rumah orang tuaku,

“Alpin,” jeritnya dari kejauhan. “Ada yang mau aku bicarakan, ini penting dan penting banget,” tambahnya.

“Emang apaan sih? Kayaknya penting banget!” jawabku ketus.

“Bunda kamu masuk rumah sakit tadi pagi sekitar jam 07.00 WIB, Sisil kurang tahu penyebabnya apa, tapi yang jelas Bunda kamu di rumah sakit,” tuturnya.

Aku sontak terkejut, sambil mengelus dada aku berlari mengambil motor yang ku parkir. Dengan cepat aku menuju rumah sakit tempat Bundaku dirawat. Kutanya dengan suster yang bertugas. Bundaku berada di lantai 2, ruang ICU. Kulihat ada ayahku yang dari tadi mondar mandir di depan ruangan itu.

“Yah, gimana keadaan Bunda?” tanyaku pada Ayah.

“Alpin! Kamu datang juga akhirnya. Sekian lama kamu pergi meninggalkan rumah, sekarang kamu kembali. Apa mau kamu? Kamu itu anak yang tidak tahu di untung!” jawabnya dengan marah-marah.

“Alpin, lebih baik kamu pergi dari sini, Saya muak melihat muka kamu!” tambahnya lengkap.

Semua yang ada di hatiku kini tak terbendung lagi, aku marah, aku rindu, aku khwatir dan semuanya kurasakan. Rasa marah terhadap ayahku mulai hadir,

“Yah, Alpin gak mau kurang ajar ataupun durhaka terhadap orang tua. Termasuk ayah! Yah, Alpin anak satu-satunya yang Bunda miliki. Alpin tahu, Alpin salah pergi dari rumah begitu saja tanpa memikirkan perasaan orangtua. Setidaknya Ayah sadar, Alpin pergi dari rumah karena perbuatan Ayah. Ayah yang selalu melarang Alpin kayak ini, kayak itu. Ayah sering memarahi Alpin. Wajar Yah, Alpin ABG, bukan anak kecil lagi yang harus diatur-atur semau Ayah!,” ucapku sambil menangis.

Aku beranjak meninggalkan rumah sakit itu dengan tetes air mata, yang membuat orang mengiraku pria manja. Dengan hati yang penuh dosa, aku mengendarai motor dengan kecepatan yang lebih cepat dari biasanya. Rintik hujan mulai membasahi tubuhku, aku kecewa dengan semua sikap yang diberikan Ayah untukku. Aku sendiri  masih bingung dengan sikap Ayah kepadaku.

Sampai aku di rumah petak tempat tinggalku, aku masuk dan menuju kamarku, sembari aku mengganti baju yang basah karena kehujanan. Masih terpikir dibenakku, kata per kata yang ku ucapkan untuk Ayah. Entah tanpa sadar aku meluapkan segala emosiku terhadapnya, seorang ayah yang tega terhadap anaknya sendiri, yang menjadikan anaknya selayaknya pembantu yang di penjara dalam rumah sendiri. Itu yang aku rasakan saat itu.

Kembali aku melanjutkan mata kuliah Sabtu ini, tanpa ku sadari sosok di balik pintu gerbang kampus terlihat, jelas memang ia menggunakan kursi roda sambil di dampingi seorang suster dan Ayah.

“Bunda…. Apa benar itu Bunda?” hatiku bertanya-tanya sendiri.

Tangannya melambai ke arahku, aku sontak kebingungan dengan hal itu. Rasa rindu yang bergejolak memang tak dapat terpungkiri. Rasa bersalah karena meninggalkan Bunda begitu saja juga mulai terasa, apalagi rasa marah terhadap ayah kandungku sendiri. Aku berdiam diri menatap jelas kearah mereka, sepertinya mereka menuju kearahku.

“Nak, Alpin, ini Bunda sayang,” ujarnya dari kejauhan sambil menopangkan kedua tangannya seperti ingin memelukku.

Aku bergegas melihat dan memeluk tubuh kurusnya yang kini duduk lesu diatas kursi roda. Aku tak ingin berbasa-basi tak jelas di sekitar itu. Sampai tetesan air mata jatuh kembali, teringat semua yang kulakukan pada orang tuaku. Kesalahan yang ku perbuat telah membuat Bunda yang kusayangi jatuh sakit. Rasa malu terhadap mulai muncul, rasa penuh bersalah kini makin berkecamuk didalam batinku. Apalagi dengan rasa serpihan penyesalan yang datang menghantuiku.

Kupeluk erat tubuh renta Bunda. Ia tersenyum sambil mengelus rambutku. Sujudku terhadap Ayah, memang penuh dengan rasa berdosa saat itu. Syukur Ayah masih memaafkan kesalahan yang telah kuperbuat.

Aku kembali ke rumah, tempat tinggal orang tuaku. Hari ke hari, keadaan Bunda semakin membaik. Sikap Ayah terhadapku juga telah berubah, ia tak pernah memperlakukan aku sebagaimana dahulu, kini ia menjadi sosok Ayah yang bertanggung jawab terhadap apa yang ia lakukan dahulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s