….Tidak lama setelah kejadian itu, terjadilah keanehan. Putri pun hamil. Setelah usia kandungannya cukup, ia pun melahirkan. Ternyata, ia melahirkan dua belas ekor udang. Putri sangat terkejut mengetahui anaknya bukan manusia, melainkan udang. Ia merasa sangat malu.  Karena takut diejek warga,  ia memutuskan untuk membuang anaknya.  Berjalanlah ia membawa anaknya hingga sampailah ia di tepi laut….

DAHULU kala ada seorang putri yang tinggal di sebuah desa. Suatu hari ia membeli beberapa udang. Udang yang dibelinya hari itu sangat bagus-bagus.
“Wah, alangkah bagus-bagusnya udang ini. Aku ingin punya anak seperti udang ini,” ujar putri karena sangat mengagumi udang-udang yang dibelinya.
Tidak lama setelah kejadian itu, terjadilah keanehan. Putri pun hamil. Setelah usia kandungannya cukup, ia pun melahirkan. Ternyata, ia melahirkan dua belas ekor udang. Putri sangat terkejut mengetahui anaknya bukan manusia, melainkan udang. Ia merasa sangat malu.  Karena takut diejek warga,  ia memutuskan untuk membuang anaknya.  Berjalanlah ia membawa anaknya hingga sampailah ia di tepi laut.
“Di tempat inilah anak-anakku kalian dapat hidup. Kalau  tinggal di darat, kalian bisa mati. Ibu letakkan kalian di sini  agar kalian bisa selamat,” ucap ibunya sambil berurai air mata. Ia pun membuang udang-udang itu ke laut.
Keesokan harinya terjadilah keanehan. Kedua belas udang tersebut yang telah berada di pinggir laut berubah menjadi manusia. Sebelas laki-laki dan satu perempuan.
Mereka pun berjalan ke daratan. Di perjalanan mereka bertemu harimau yang bisa berbicara.
“Hai Cung, mengapa kalian ada di sini?” tanya harimau.
“Kami dibuang ibu kami, Nyek,”  jawab manusia udang itu.
“Maukah kalian tinggal denganku?”
“Iya, kami mau,” jawab manusia udang bersamaan.
Tinggallah manusia-manusia udang itu bersama sang harimau. Mereka membuat rumah yang besar  untuk tempat tinggal mereka. Mereka berkebun dan bersawah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Setiap hari harimau mencari buruan seperti rusa dan kancil untuk lauk makan manusia udang itu.  Manusia udang menanam padi sebagai makanan pokok untuk mereka.
Setiap malam harimau bertanya kepada semua manusia udang,” Sudah besar belum hati kalian, Cung?”
”Belum, Nyek. Baru sebesar biji padi.” jawab semua manusia udang.
“Masih kecil, ya Cung. Makanlah yang banyak agar kalian cepat besar.”
“Iya, Nyek.”
Semakin hari harimau semakin memperbanyak mencari hewan buruan agar hati semua manusia udang itu cepat besar. Seperti biasa, saat malam tiba harimau kembali bertanya,” Hai Cung, sudah besar belum hati kalian?”
“Sudah besar, Nyek. Sebesar buah tomat,” jawab mereka.
“Wah, sudah besar juga ya. Makanlah lebih banyak lagi biar hati kalian semakin cepat besar,” kata harimau.
“Iya, Nyek.”
Keesokan harinya manusia-manusia udang membuat perahu yang besar saat harimau pergi berburu. Sebagian laki-laki bekerja di ladang dan sebagian lagi membuat perahu.  Perempuan bertugas memasak di dapur. Setelah kapal selesai dibuat, mereka meletakkan kapal tersebut di tepi laut. Mereka semua tahu tujuan harimau yang sebenarnya adalah memakan hati mereka semua ketika hati mereka sudah besar.
Saat malam tiba, harimau kembali bertanya, “Sudah besar belum hati kalian, Cung?”
“Masih seperti kemarin, Nyek.”
“Oh,iya.”
Seperti biasa biasa pagi harinya harimau pergi berburu. Manusia-manusia udang itu segera menaiki perahu dan mereka segera pergi ke seberang lautan. Mereka meninggalkan sebuah guci yang diikatkan ke tali. Tali yang mengikat guci tersebut dipasang sangat panjang hingga sampai ke seberang lautan.
Setelah mendapatkan hasil buruan yang banyak, pulanglah harimau ke rumah. Dia sangat terkejut melihat rumahnya sangat sepi. Tidak ada satu orang pun di rumah.
“Oi, Cung, di mana kalian semua? Mengapa rumah sepi seperti ini?”
Manusia udang mendengar panggilan harimau. Mereka menjawab,”Kami di sini, Nyek, di seberang lautan.”
“Oi Cung, kalian mau meninggalkan aku?”
“Tidak, Nyek. Kami hanya bermain-main di sini. Nyek mau ikut tidak?”
“Iya, Cung?”
“Masuklah ke dalam guci itu, Nyek!”
“Aduh, tidak muat Cung.”
“Muat, Nyek. Masukkan kepala terlebih dahulu, baru tangan dan kaki.”
“Baiklah, Cung. Aku coba”
Masuklah harimau ke dalam guci. Ketika tubuh harimau telah masuk seluruhnya ke dalam guci, meraka segera menarik guci tesebut hingga ke tengah laut. Ketika sampai di tengah laut, mereka langsung melepaskan tali tersebut. Tenggelamlah guci tersebut. Tenggelamlah harimau yang ada dalam guci tersebut. Harimau pun mati.
Yakin harimau telah mati, manusia udang kembali ke rumah mereka untuk mengambil barang-barang yang masih tersisa di rumah yang mereka perlukan, seperti padi, sayuran, dan buah-buahan. Setelah mengambil barang tesebut, mereka kembali ke perahu. Mereka berniat melakukan perjalanan  untuk mencari ibu mereka.
Lama mereka melakukan perjalanan hingga sampailah mereka di Desa Pengumbuk. Saat mereka bertemu dengan warga Desa Pengumbuk, mereka bercerita kepada penduduk desa bahwa mereka semua dua belas saudara kandung. Mereka sebelumnya berasal dari udang. Cerita mereka sampailah ke telinga ibunya. Ibunya langsung menemui mereka dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka adalah anak-anaknya. Akhirnya mereka tinggal bersama-sama dan hidup bahagia.

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd.
Cerita rakyat ini berasal dari Desa Pengumbuk, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

cung [melayu Banyuasin] = cucu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s