Hadiah Lebaran Untuk Mia (Selamat Tinggal Bapakku)

Posted: 27 Agustus 2011 in Cerpen, Sastra

…. Hidup serba kekurangan ini membuat Mia nantinya tak akan bisa menikmati bangku sekolah. Alhasil, ia mengurungkan niatnya sebagai seorang dokter untuk rakyat kecil. Tak hanya keluarganya yang melarat seperti ini, banyak tetangganya yang juga melarat sepertinya….

Oleh: Anggun Zarela

HAMPIR sebulan penuh umat beragama Islam, menjalankan ibadah puasanya di bulan yang penuh berkah. Ya bulan Ramadhan namanya. Apalagi setelah merasakan berpuasa selama sebulan penuh, nantinya mereka akan menyambut hari raya Idul Fitri. Tak ketinggalan dengan keluarga Mia, keluarga yang serba kekurangan. Tetapi mereka, tetap saja menjalankan ibadah berpuasa dengan lancar, karena setiap harinya mereka selalu berpuasa, makan pagi lalu malam baru makan kembali.
Mia adalah seorang gadis cerdas berusia 12 tahun, ia memiliki rambut yang panjang. Sedangkan orang tuanya hanya pemungut barang bekas di jalan, terkadang bapaknya mencari ikan di sungai. Rumah mereka pun sangat sederhana, hanya terbuat dari bilah-bilah bambu, atapnya pun banyak yang bocor. Mereka menempati tanah tetangganya yang baik hati.
Hidup serba kekurangan ini membuat Mia nantinya tak akan bisa menikmati bangku sekolah. Alhasil, ia mengurungkan niatnya sebagai seorang dokter untuk rakyat kecil. Tak hanya keluarganya yang melarat seperti ini, banyak tetangganya yang juga melarat sepertinya.
Tahun ini, Mia sudah diajarkan orang tuanya untuk berpuasa sebulan penuh tanpa bolong-bolong. Sudah 23 hari berpuasa, belum ada satupun puasanya yang bolong. Mia selalu sabar dengan keadaan yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Walaupun ia masih kecil, tetapi ia sudah mengerti arti keikhlasan, ketabahan, dan keridhoan.
“Pak, puasaya tinggal tujuh hari lagi kan, Pak?” tanyanya pada bapaknya.
“Iya Mia, Mia tidak boleh bolong puasanya!”
“Mia mau baju baru Pak, serba baru seperti teman-teman Mia yang lain” ujarnya.
Bapaknya tertunduk lalu diam. Sunyi sekali. Ibunya pun membuang muka, dan meninggalkan rumah entah kemana. Mia masih bertanya-tanya tentang keinginannya pada Bapaknya. Sama saja seperti tadi tetap diam, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir kering bapaknya. Hanya tundukan malu pada anaknya yang ia tunjukkan.
Setelah berbuka malam itu yang hanya dengan segelas air putih dan nasi berlaukan sayur dan sambal saja. Mia mengerti kesulitan yang dihadapi kedua orang tuanya. Untuk makan saja susah, apalagi untuk yang lainnya.
Malam itu, bapaknya masih berfikir tentang keinginan anaknya memiliki baju baru seperti teman-temannya yang lain. Memang selama ini, Mia tidak dapat menikmati baju-baju baru seperti temannya yang lain, hanya baju bekasan dan berian dari orang-orang kaya saja yang ia pakai. Setidaknya itu untuk melindungi tubuh Mia. Tetapi bapaknya sadar, bahwa keinginan anaknya itu haruslah diberikan. Karena ia tak ingin Mia kecewa, hanya tak ada baju baru untuknya lebaran nanti.
Selama tujuh hari itu bapaknya berusaha mencari receh demi recehan uang dengan mencari barang bekas seperti biasa. Tetapi apa boleh dikata, itu tak mencukupi untuk membeli baju baru Mia.
Sore itu dihari ke-26 berpuasa, bapaknya sedang beristirahat di pinggir jalan tak jauh dari pasar. Entah setan apa yang merasuki jiwanya, sampai-sampai Ia nekat untuk mencopet salah satu pembeli dipasar itu. Apa boleh dikata? Akhirnya Ia tertangkap oleh massa, sampai dihakimi hingga babak belur. Dan bapaknya dibawa ke puskesmas tak jauh dari pasar. Orang-orang masih saja mencibirnya dengan kata-kata yang tidak sopan.
Mia dan ibunya pun terkejut mendengar kabar kejadian tadi sore di dekat pasar. Bergegas mereka berdua meninggalkan gubuk kecil mereka, dan berlarian menuju puskesmas. Ketika mereka berdua sampai, malang memang bapaknya menghembuskan nafas terakhirnya. Tak ada sepatah katapun terucap sebelum kematiannya. Hanya omongan yang disampaikan oleh perawat di sanalah yang membuat Mia dan ibunya terkejut. Bapaknya dengan gagah berani mencopet dompet orang untuk membelikan baju baru untuk anaknya.
Mia menangis merasa Ia yang paling salah atas kematian bapaknya. Coba saja kalau dia waktu itu tidak memaksa bapaknya untuk membelikannya baju baru lebaran. Ia merasa menyesal dengan permintaannya waktu itu, sampai-sampai bapaknya tak berkata sedikitpun. Sayangnya, penyesalan itu sia-sia, kini bapaknya sudah dipanggil Sang Khalik sebelum Ia membelikan baju baru untuk Mia. Dan sebelum menikmati lebaran yang tinggal empat hari lagi.
Tak ada keinginan lain selain ingin bapaknya kembali ada. Tetapi apa mau dikata semua telah terjadi, Mia menjerit histeris ketika bapaknya dimasukkan kedalam liang lahat tempat tinggal barunya. Kini ia tak punya bapak lagi, ia telah menjadi anak yatim.
Dua hari setelah kematian bapaknya, Mia masih saja merenung atas kesalahan dan penyesalannya. Rintihan tangisan masih kuat terasa. Ibunya hanya pasrah dengan keadaan yang telah diberika tuhan pada keluarganya. Apalagi sebelum lebaran tiba, ia kehilangan suami yang selalu ia temani disaat suka maupun duka.
“Ya Allah Mia menyesal!!!” jeritnya pada langit malam penuh dengan bintang terang.
“Engkau dimana Ya Allah, malam ini adalah malam terakhir menikmati Ramadhan-Mu, malam ini semua orang berbondong-bondong untuk mentakbirkan nama-Mu! Mana kebesaran-Mu! Tunjukkan! Engkau telah mengambil nyawa Bapakku, aku diam Ya Allah! Mana Engkau??” jerit Mia tak karuan.
Ibunya mencoba menenangkan tubuh Mia yang sudah meronta-ronta seperti orang kerasukan. Para tetangganya keluar untuk meliahat hal yang terjadi pada Mia. Mereka merasa iba dengan Mia, yang depresi kehilangan bapaknya.
“Tak usah memegangku Ibu!  Aku tak rela bapak meninggal karena amukan massa! Aku tak rela ia meninggal dengan alasan untuk membelikanku baju baru! Aku tak rela Ya Allah! Kau jahat! Kau tega! Kau ambil nyawa bapakku, ketika sebentar lagi akan lebaran! Ketika sebentar lagi Hari raya nan fitri mu hadir ditengah-tengah kami rakyat miskin yang terlantar! Apa tahun ini aku harus menikmati lebaran tanpa bpakku? Hanya orang tuaku hadiah lebaran yang terindah! Hanya karena aku ingin baju baru Kau ambil nyawa bapakku! Kau Jahat! Kembalikan bapakku!!!!! “ Mia masih terjerit sambil menunjuk langit sambil menagis histeris.
Mia kini tak sadarkan diri. Semua orang tak ingin ia mengalami stres yang berkepanjangan. Sampai pada akhirnya, ia mendapatkan baju baru dari salah seorang penjual pakaian di pasar, yang pernah dijumpai bapaknya sebelum kematiannya. Baju yang diberikan merupakan baju pilihan bapaknya yang waktu itu akan ia beli, tetapi berhubung ia sudah meninggal, dengan ikhlas penjual itu memberikannya pada Mia.
Rasa sedih itu agak sedikit hilang. Ia mencoba untuk ikhlas dengan semua kenyataan pahit yang ada. Ia menikmati Hari raya Idul Fitri tanpa bapaknya, tanpa orang yang ia sayangi. Ia mencoba menerima hal itu. Kini ia tak ingin menyusahkan ibunya. Hanya ibunya orang yang ia miliki, ia membantu ibunya menafkahi keluarga setelah lebaran ini. Tuhan menciptakan manusia untuk datang dan pergi begitu saja di hidup ini. Walaupun semuanya tak ada yang abadi (***)

Pangkalanbalai, 25 Agustus 2011

Komentar
  1. sangat pilu artikel ini,apakah sebuah kisah nyata di hari lebarab 1432 h ini,kalo memang benar cerita ini sabar bae ,pasti tuhan punya rencana lain.

  2. Pak Yanto bisa tanyakan langsung ke penulis melalui Facebook di: http://www.facebook.com/profile.php?id=100001859226968

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s