…. Melihat kejadian itu ketiga putri si kerbau pergi dari rumahnya menuju kota. Ketika kerbau pulang, ia sangat sedih melihat ketiga anaknya tidak ada di rumah. Begitu sibuknya si kerbau mencari informasi tentang ketiga anaknya. Setelah bertanya ke sana ke mari, ia mendapatkan kabar bahwa ketiga anaknya pergi ke kota. Segera ia menyusul ke tiga anaknya ke kota….

PADA zaman dahulu kala hiduplah seekor kerbau dengan ketiga putrinya. Mereka tinggal di tengah hutan. Rumah mereka terbuat dari bambu. Setiap hari si kerbau pergi ke hutan mencari makanan untuk ketiga putrinya. Ketiga putrinya benama Putri Lopak, Putri Dianggo, dan Putri Ketigo Sang Punyo Ati.
Suatu hari seperti biasa si kerbau pergi ke hutan mencari makanan untuk ketiga putrinya. Saat kerbau pergi datanglah si hidung panjang ke rumah si kerbau. Ia bemaksud menculik putri-putri si kerbau. Si hidung panjang bertembang seperti si kerbau memanggil anaknya.
“Anak-anakku
Aku datang bawa makanan
Makanan untuk kamu”
“Jika benar engkau ibuku naiklah ke rumah ini,” jawab putri si kerbau.
Naiklah si hidung panjang ke rumah. Akan tetapi, ia tidak berhasil. Berkali-kali dicobanya,tetapi gagal. Tangganya sangat licin dan ia selalu terjatuh. Hanya kerbau yang bisa menaiki tangga itu.
Keesokan harinya si hidung panjang kembali lagi datang ke rumah si kerbau saat si kerbau pergi. Si hidung panjang pun bertembang,
“Anak-anakku
Aku datang bawa makanan
Makanan untuk kamu”
“Jika benar engkau ibuku, naiklah ke rumah ini,” jawab putri si kerbau.
Naiklah si hidung panjang ke rumah itu. Belum sampai masuk ke rumah ia terjatuh dan hidungnya masuk ke dalam tanah. Karena tidak bisa bernafas, ia pun mati.
Melihat kejadian itu ketiga putri si kerbau pergi dari rumahnya menuju kota. Ketika kerbau pulang, ia sangat sedih melihat ketiga anaknya tidak ada di rumah. Begitu sibuknya si kerbau mencari informasi tentang ketiga anaknya. Setelah bertanya ke sana ke mari, ia mendapatkan kabar bahwa ketiga anaknya pergi ke kota. Segera ia menyusul ke tiga anaknya ke kota.
Dalam perjalanan mencari ketiga anaknya, ia selalu bertanya kepada penduduk yang ditemuinya. Si kerbau mendapatkan informasi tentang keadaan putri pertamanya, yakni Putri Lobak. Ternyata, Putri Lobak telah menikah. Ia menikah dengan seorang anak raja. Lama dicari akhirnya si kerbau berhasil menemukan tempat tinggal Putri Lobak. Si kerbau datang ke rumah Putri Lobak. Sampai di sana ia tidak disambut dengan baik. Putri Lobak tidak mau mengakui si kerbau sebagai ibuya,
Cih, aku tidak punya ibu seperti kamu yang berwujud kerbau,” ujar Putri Lobak.
“Benar, aku ibumu,” jawab si kerbau.
“Enyahlah kau dari hadapanku,” teriak Putri Lobak sambil meludahi si kerbau
Pergilah si kerbau meninggalkan Putri Lobak dengan hati yang sangat sedih. Hatinya sangat sakit, lebih sakit dari sayatan sembilu.
Hari berikutnya si kerbau mencari putri yang kedua, yakni Putri Dianggo. Informasi yang ia dapatkan dari penduduk bahwa putri Dianggo telah menkah dengan anak raja. Dengan penuh harapan, si kerbau  mencari rumah anaknya. Perjuangannya tidak sia-sia. Ia berhasil menemukan rumah anaknya, Putri Dianggo. Tiba di rumah anaknya, Putri Dianggo pun tidak mau mengakui si kerbau sebagai ibunya.
“Aku tidak punya ibu sepertimu. Pergi kau dari sini,” teriak anaknya.
“Nak, betul aku ibumu,” ucap si kerbau dengan memelas.
“Aku tidak punya ibu sepertimu. Cepatlah kau pergi.”
Melihat si kerbau masih tidak mau pergi. Putri Dianggo mengambil centong nasi dan dipukulkannya ke tubuh si kerbau.
Sambil menahan sakit bekas pukulan anaknya dan dengan hati yang hancur ia pergi meninggalkan rumah putri keduanya.
Hari berikutnya kembali si kerbau mencari anaknya. Kali ini ia mencari putri ketiganya. Ia mendapatkan informasi bahwa putrinya telah menikah dengan seorang pemuda yang miskin. Si kerbau pergi mencari rumah anaknya dan ia berhasil menemukannya.
Setiba di sana si kerbau disambut dengan baik oleh Putri Ketigo Sang Punyo Ati dan suaminya. Si kerbau dilayani dengan baik. Dia dimandikan, disikat , dan dimanja.
Suatu malam Putri Ketigo Sang Punyo Ati bermimpi bahwa si kerbau bisa berubah menjadi manusia jika dipukul dengan sapu lidi.
Pagi harinya Putri Ketigo sang Punyo Ati melaksanakan pesan mimpinya, ia memukul si kerbau dengan lembut menggunakan sapu lidi. Ajaib, si kerbau berubah menjadi manusia. Sejak itu kehidupan Putri ketigo Sang Punyo Ati berubah menjadi berkecukupan.
Kabar perubahan nasib Putri Ketigo Sang Punyo Ati yang menjadi berkecukupan dan ibunya yang telah berubah menjadi manusia tersebar luas, hingga sampailah ke telinga  Putri Lopak dan Putri Dianggo. Menyadari kesalahannya, Putri Lopak dan Putri Dianggo mendatangi rumah Putri Ketigo Sang Punyo Ati untuk meminta maaf pada ibunya.
“Kalian dulu tidak mau mengakui aku sebagai ibu. Kau Putri Lobak, ingatkah kau bahwa kau telah meludahiku. Kau Putri Dianggo, kau telah memukulku. Aku ingat semua perbuatan kalian padaku waktu itu.
Kedua putri bersimpuh di kaki ibunya meminta maaf. Mereka menangis sesengukan menyatakan penyesalan mereka. Ibu mana yang tidak luluh melihat anaknya bersimpuh meminta maaf sambil berurai air mata. Ibunya pun memaafkan anaknya. Sebenarnya, jauh sebelum anaknya meminta maaf, ibunya telah memaaafkan anaknya.  Mereka semua akhirnya hidup berbahagia.

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd. (Guru SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III)
Cerita rakyat ini berasal dari Kuala Puntian, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s