Obrolan Warung Kopi | MENGARAK PENGANTIN

Posted: 8 Oktober 2011 in Obrolan Warung Kopi

.… Budaya mengarak pengantin sesungguhnya merupakan salah satu bentuk kearifan lokal kita. Agama Islam sebagai pilar budaya masyarakat Melayu Banyuasin mengajarkan bahwa sebuah pernikahan harus diketahui oleh masyarakat banyak. Tujuannya tentu saja, selain untuk memerkenalkan sepasang pengantin yang telah mengikat janji sehidup semati, juga untuk menghindari fitnah….

Oleh: Irwan P. Ratu Bangsawan

KITA mungkin masih ingat sekitar dekade 80-an hingga 90-an tatkala ada ritual pernikahan, pasti ada prosesi mengarak pengantin. Biasanya sepasang pengantin yang sedang berbahagia tersebut berada di barisan tengah. Pada barisan paling depan, serombongan penabuh “terbangan” (sejenis sarofal anam) mendendangkan lagu-lagu pujia-pujian dalam bahasa Arab. Tak ketinggalan, para pendekar dengan penuh semangat memainkan berbagai jurus pencak silatnya.

Sementara di belakang sang pengantin, para kerabat dan jiran membawa berbagai “bawaan” mempelai pria ke mempelai wanita, Prosesi mengarak pengantin ini biasa melalui jalan utama di dusun mempelai wanita. Para jiran yang tidak ikut mengarak biasanya menonton di pinggir jalanan tersebut. Bahkan, ada yang menonton dari atas rumah panggung sambil sesekali mengeluarkan celetukan yang menggoda sang pengantin baru. Maka, jadilah prosesi mengarak pengantin sebagai atraksi budaya lokal yang sangat memikat dan menyegarkan.

Seiring dengan perubahan waktu, maka budaya mengarak pengantin pun mulai pudar. Sudah sangat sulit menemukan ritual pernikahan yang masih setia menggelar prosesi mengarak pengantin. Ritual pernikahan saat ini sudah sangat kering dengan sentuhan budaya lokal dan budaya agamis. Semuanya sudah sangat instan. Nah!

Budaya mengarak pengantin sesungguhnya merupakan salah satu bentuk kearifan lokal kita. Agama Islam sebagai pilar budaya masyarakat Melayu Banyuasin mengajarkan bahwa sebuah pernikahan harus diketahui oleh masyarakat banyak. Tujuannya tentu saja, selain untuk memerkenalkan sepasang pengantin yang telah mengikat janji sehidup semati, juga untuk menghindari fitnah.

Mungkin sudah saatnya para tetua adat dan alim ulama kita membincangkan kembali revitalisasi dan reaktualisasi budaya mengarak pengantin ini. Para tetua adat jangan cuma bisa diam saja tatkala melihat mulai surutnya budaya lokal kita ditelan zaman. Tapi, mungkinkah? Wallahua’lam bi shawwab (***)

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Saya sangat bangga sama bpak iqbal, terima kasih Bpak atas tulisannya ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s