…. Tiba di hutan ia mulai berburu. Ia menggantung minumannya di tanduk rusa yang dikiranya ranting pohon. Rusa pun berlari sekuat tenaga. Menyadari minumannya menjauh, langsung Kedolok mengejar rusa. Setelah semakin dekat dengan rusa, Kedolok berusaha melompat di atas pundak rusa. Rusa pun mengelak. Akibatnya, Kedolok jatuh ke tanah. Rusa menghilang dan melarikan diri. Ia langsung pulang dan menceritakan apa yang dialaminya kepada neneknya…

ZAMAN dahulu di sebuah desa terpencil tinggallah seorang yang benama Kedolok. Ia tinggal bersama neneknya. Kedolok adalah lelaki yang sangat bodoh. Cara berbicaranya seperti anak kecil.
Suatu hari Kedolok minta izin kepada neneknya untuk pergi berburu ke hutan. Neneknya pun mengizinkan. Ia segera menyiapkan segala keperluan berburu,  termasuk air minum. Setelah semua siap, ia pergi ke hutan.
Tiba di hutan ia mulai berburu. Ia menggantung minumannya di tanduk rusa yang dikiranya ranting pohon. Rusa pun berlari sekuat  tenaga. Menyadari minumannya menjauh, langsung Kedolok mengejar rusa. Setelah semakin dekat dengan rusa, Kedolok berusaha melompat di atas pundak rusa. Rusa pun mengelak. Akibatnya, Kedolok jatuh ke tanah. Rusa menghilang dan melarikan diri. Ia langsung pulang dan menceritakan apa yang dialaminya kepada neneknya.
Esoknya Kedolok kembali ke hutan lagi untuk berburu. Kali ini dia bernasib sial. Tidak satu pun hasil buruan yang ia dapat. Ia pulang dengan lesu. Saat hampir tiba di rumahnya, tiba-tiba kucing peliharaan neneknya lewat. Kedolok pun menangkapnya dan langsung memasaknya. Setelah masak, ia hidangkan kepada neneknya. Mereka berdua makan dengan lahap. Selesai makan nenek memanggil kucingnya untuk memberikan sisa tulang.
Cing…cing…cing,” panggil neneknya
Ai Nyai nih, ucing adi lah diakan (kucing tadi telah dimakan),” ujar Kedolok.
Mengetahui hal itu tentu saja menjadikan hati nenek sedih. Kucing kesayangannya telah dibunuh, terlebih ia juga ikut memakannya.
Pagi harinya, kembali Kedolok meminta izin kepada neneknya untuk pergi memancing di sungai. Lama ia memancing, tetapi tidak satu ekor ikan pun ia dapat. Hatinya sedikit terhibur karena ia mendapatkan kura-kura. Bergegas ia ke desa seberang untuk menjual kura-kura tersebut.
Biyuku… biyuku,” teriak kedolok sambil mendayung perahunya.
Karena kelelahan, ia pun tertidur dalam perahu. Saat bangun, ia kebingungan mencari dayungnya. Ternyata, dayungnya terhanyut. Ia ingat bahwa tadi ia membawa kura-kura. Ia melihat di perahunya ada kura-kura tetapi ia lupa bahwa benda itu bernama kura-kura. Ketika itu, ia melihat hewan tersebut matanya berkelip-kelip,
Kelip ato, kelip ato,” teriak Kedolok.
Dari kejauhan seorang penduduk meneriaki Kedolok. Kedolok segera menghampirinya.
Kau bejualan ape?” tanya penduduk tersebut.
Kelip ato,” jawab kedolok sambil memperlihatkan kura-kura miliknya.
Ini bukan kelip ato, Kedolok. Ini biyuku,”
Kura-kura itu pun dibeli oleh  penduduk tersebut. Pada waktu itu. penjualan tidak dibayar dengan uang, melainkan ditukar dengan barang lain. Kura-kura Kedolok dibayar dengan beras, gula, dan kelapa.
Kedolok pun pulang ke rumahnya.
Esok paginya Kedolok pergi ke  sebuah desa. Di sana ia menemukan seorang gadis yang telah meninggal di sebuah rumah kosong. Kedolok sangat gembira.
Hore aku apat ini (hore aku dapat bini),”  Kedolok  berteriak-teriak.
Dengan semangat Kedolok menggendong dan membawa mayat gadis itu ke rumahnya. Pada saat malam, mayat itu menjadi hantu dan bersuara.
Pagi harinya neneknya bertanya, “Kedolok, ngepe binimu tuh kalu malam bemasak, siang die tidok. Cubo kek kulihat binimu itu,” ujar neneknya  sambil  pergi melihat istri kedolok.
Oi Kedolok, binimu nih lah mati, mambu busok mak ini.”
Nenek Kedolok segera mengajak Kedolok untuk mengubur mayat gadis itu.
Setelah penguburan itu semua kembali normal.
Esok harinya nenek Kedolok memasak air. Ketika meniup api, neneknya kentut.
Ai mambu ucok, Nyai lah mati (ai, mambu busuk nenek telah mati).”
Kedolok langsung mengubur neneknya hidup-hidup. Setelah itu Kedolok meneruskan pekerjaan neneknya. Ditiupnya api. Tiba-tiba kedolok kentut. Ia berguman,
Ai aku ucok lah ati
Kedolok pun menggali lubang dan mengubur dirinya. Setelah dirinya terkubur sebatas badan, beberapa temannya lewat. Mereka merasa aneh dengan perbuatan Kedolok.
Kau ngape Kedolok?” tanya salah satu temannya.
Aku lah ati.”
Idak Kedolok, kau tuh dak mati,” jawab mereka.
Teman-temannya pun langsung mengeluarkan Kedolok dari lubang.
Nyaimu jugo dak mati, Kedolok,” ujar temannya.
Bersama-sama mereka mengeluarkan nenek Kedolok. Tetapi, sia-sia. Setelah dikeluarkan, nenek Kedolok sudah meninggal. Mereka kembali mengubur nenek Kedolok.
Setelah mengubur nenek,  Kedolok diajak teman-temannya mencuri di rumah raja.
Kedolok, kalu ade yang segi empat kau teriake be,” pesan kawannya.
Kedolok pun ikut pergi mencuri. Sampai di dalam rumah, Kedolok menarik kasur anak raja dan menyebabkan anak raja terbangun. Ia pun menemui teman-temannya.
“Kedolok, yang empat itu bukan kasur, tetapi duit,” kata salah seorang temannya. Mereka segera lari terbirit-birit karena ketahuan dan takut tertangkap.
Sampai di sebuah tempat dan setelah merasa aman, Kedolok dan teman-temannya beristirahat. Mereka kelelahan dan juga kehausan. Di tengah rasa dahaga itu mereka menemukan minuman. Kedolok minum terlebih dahulu karena tempatnya tinggi. Kedolok mengambil minum dengan cara menaiki teman-temannya. Setelah selesai beristirahat, mereka pun pulang ke rumahnya masing-masing.

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd. (Guru SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III)
Cerita rakyat ini berasal dari Kuala Puntian, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s