…. Sepanjang jalan adiknya terus memanggil-manggil. Setahun berlalu, sampailah mereka di Lubuk Cindewali. Tiba di sana, kakaknya membangun mahligai yang paling tinggi bertiang empat untuk tempat tinggal adiknya….

ALKISAH zaman dahulu hiduplah dua orang saudara kandung, satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka tinggal di ujung desa. Kehidupan dua beradik ini sangat menyedihan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka hanya mengandalkan sayur-sayuran yang ada di pekarangan tempat tinggal mereka.
Suatu hari ketika kakaknya sedang membersihkan pekarangan, ia menemukan sebutir telur. Telur yang ditemukan kakaknya sangat besar dan panjang . Seumur hidup mereka belum pernah melihat telur sebesar itu.
“Akan kumasak telur ini dan akan kumakan,” ucap kakaknya.
“Jangan Kak. Telur ini besar sekali. Bagaimana kalau telur ini telur naga?”
“Ah…sudahlah. Yang penting aku bisa kenyang. Dik. Kamu tidak usah ikut memakan telur ini. Kalau ada apa-apa biar aku yang merasakannya.”
Bergegas kakaknya memasak telur tersebut. Setelah matang, langsung dimakannya. Selesai makan ia merasa sangat kehausan. Ia terus minum untuk menghilangkan rasa hausnya.
Malam harinya, kepala kakaknya berubah panjang, panjang seperti kepala buaya. Badannya tumbuh sisik. Ia terus saja minum. Sampai air di rumahnya habis, ia masih kehausan.
“Dik, kakak akan pergi ke sungai, ya,” ujar kakaknya. Tanpa menunggu persetujuan adiknya, ia langsung pergi ke sungai.
“Srot…srot…srot,” terdengar bunyi kakaknya meminum air. Ternyata setelah diminumnya, air sungai pun kering.
“Kalau air sungai ini pun habis, bagaimana aku minum untuk menghilangkan rasa hausku ini,” ujar kakaknya sambil termenung. Tiba-tiba muncul ide di kepalanya.
“Sepertinya aku harus ke Lubuk Cindewali, Dik.”
“Aku ikut, Kak.”
“Tidak usah, Dik. Kamu di rumah saja.”
“Tidak mau , Kak. Aku tidak mau tinggal di rumah sendirian.”
“Baiklah kalau kau ingin ikut. Sekarang naiklah kau ke kepalaku.”
Segeralah adiknya naik ke kepala kakaknya. Berangkatlah mereka berdua menuju ke Lubuk Cindewali. Sepanjang jalan adiknya memanggil-manggil.

“Mamak-mamak  kamu menebet
Yuk kape Lubuk Cindewali
Kakak ungkaiku jedi nage
Nage bekepala tujuh”

Sesudah adiknya memanggil, tumbuhlah kepala naga menjadi tujuh. Di perjalanan, mereka pun bertemu dengan seseorang yang lagi memotong dahan pohon enau.

“Mamak-mamak kamu menebong
Yuk kape Lubuk Cindewali
Kakak ungkaiku jedi nage
Nage bekepala tujuh”

Mereka juga bertemu dengan seseorang yang sedang memotong dahan kayu.

Mamak-mamak kamu menutoi
Yuk kape Lubuk Cindewali
Kakak ungkaiku jedi nage
Jedi nage kepala tujuh”

Sepanjang jalan adiknya terus memanggil-manggil. Setahun berlalu, sampailah mereka di Lubuk Cindewali. Tiba di sana, kakaknya membangun mahligai yang paling tinggi bertiang empat untuk tempat tinggal adiknya.
“Dik, tanamlah pohon selasih ini. Kalau tanaman ini layu, berarti kakak sakit. Demikian juga kalau tamanan ini mati, berarti kakak juga telah mati,” ujar kakaknya pada adiknya.
Tiga hari kemudian naga ke mahligai melihat kondisi adiknya. Setelah itu, kakaknya tidak pernah lagi terlihat.
Suatu pagi, adiknya melihat tanaman selasih. Ternyata, selasih telah mati. Dengan perasan sedih ia kembali ke rumahnya.
Di suatu tempat, suatu hari seorang laki-laki bernama Sira Panji melepaskan ayam. Tujuannya untuk mencari jodoh. Pergilah ayam yang dilepaskannya dan berhenti di rumah adik si naga.
“Kukuruyuk…kukuruyuk…kukuruyuk…,” terdengar ayam Sira Panji berkokok hingga tiga kali. Suara ayam tadi sampai ke telinga Sira Panji. Ia mencari suara ayamnya dan ia menemukan ayamnya di rumah adik naga. Ia segera meminang adik naga dan dibawalah adik naga ke kerajaan.
Di kerajaan raja mengundang semua warganya untuk merayakan pernikahan Sira Panji. Pernikahan pun dilaksanakan dengan sangat meriah. Setelah lama menikah mereka dikaruniai dua orang anak.
Suatu hari Sira Panji jatuh dari pohon nangka.
“Ibu, bapak jatuh,” teriak anaknya.
“Ah tidak apa-apa, Nak, Bapakmu jatuh. Kakakku mati jadi naga di Lubuk Cindewali.”
Ucapan adik naga ini ternyata didengar suaminya. Masuklah Sira Panji ke dalam rumah.
“Rupanya engkau punya saudara, ya Dik,” tanya suaminya.
“Iya, Kak.”
Setelah mengetahui istrinya mempunyai saudara. Segera Sira Panji mengumpulkan anjing kumbang sebanyak 40 ekor dari hulu dan 40 ekor dari hilir. Anjing-anjing tadi diberinya makan garam. Setelah makan garam, anjing-anjing tadi ia bawa ke Lubuk Cindewali. Sampai di Lubuk Cindewali laut itu pun kering. Putri menemukan tulang. Dia sangat yakin bahwa tulang yang ditemukannya di lubuk Cindewali adalah tulang kakaknya. Dibawanya tulang yang diyakininya tulang kakaknya pulang ke istana.
Sampai di istana, tulang yang ditemukan putri tadi dipukul dengan kelapa hijau. Selesai dipukul, tulang tadi menjelma menjadi kakak putri. Dua beradik ini sangat bahagia karena mereka bisa bertemu dan berkumpul kembali seperti dahulu.

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd. (Guru SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III)
Cerita rakyat ini berasal dari Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. 

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    salahtuh ceritanya..cerita naga kepala tujuh bukanla legenda,tapi benar-benar nyata karna naga kpala tujuh adalah keturunan saya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s