…. Suatu pagi ia sangat ingin makan lilin, tetapi ia ingat pesan suaminya. Ia tidak berani melawan pesan suaminya. Akan tetapi, entah mengapa keinginan dalam dirinya sangat kuat memaksa ia agar memakan lilin. Ia pun memakan lilin yang ditinggalkan suaminya….

ZAMAN dahulu di sebuah desa hiduplah sepasang suami istri. Istrinya sedang mengandung anak pertama mereka. Suatu hari suaminya hendak pergi ke dusun seberang.
Dek, aku nak pegi ke dusun seberang. Aku nak bepesan dengan kau,” ucap suaminya
“Ape Kak pesannya tuh?”
“Agek, kalu anak kite lahir jantan kau peliharalah die beek-beek, tapi kalu lahir betine cepat-cepatlah kau kubur die di bawah tangge. Sikok lagi Dek pesanku, lelen (lilin) yang aku tinggalke jangan kau makan!”
“Ngape Kak, mak itu nian?”
“Udelah dak usah banyak nanye.
“Men cak itu, iyo kak aku janji.”
Setelah menyampaikan pesan yang terdengar sangat aneh, suaminya pun pergi. Sepeninggal suaminya, istrinya kembali mengingat pesan yang telah disampaikan suaminya.
Suatu pagi ia sangat ingin makan lilin, tetapi ia ingat pesan suaminya. Ia tidak berani melawan pesan suaminya. Akan tetapi, entah mengapa keinginan dalam dirinya sangat kuat memaksa ia agar memakan lilin. Ia pun memakan lilin yang ditinggalkan suaminya.
Setelah cukup usia kandungannya, istrinya melahirkan. Ternyata, ia melahirkan seorang anak perempuan. Ia memberi nama anaknya Putri Lelen. Ia langsung ingat pesan suaminya. Tentu saja sebagai ibu yang telah berjuang mengandung dan melahirkan anaknya, tidak mungin ia tega membunuh dan mengubur anak kandungnya, darah dagingnya sendiri. Untuk menyelamatkan anaknya, ia membangun sebuah mahligai. Diletakkannya anaknya di atas mahligai. Sekian lama tumbuhlah Putri Lelen menjadi gadis yang cantik.
Suatu hari suaminya pulang dari merantau. Ketika pulang, ia langsung menanyakan anaknya .
“Dek, cak mane dengan anak kite?”
“Cak kate kakak. Men lahirnya betine, langsung dikuburke di bawah tangge. Jadi, anak kite sudem kukuburke,” ucap istrinya gugup.
“Lelen yang kutinggalke, mane?”
“Ade kak, aku simpan.”
Mendengar  jawaban istrinya, legalah hati suaminya. Ia pun masuk ke dalam dan beristiahat.
Suatu hari saat suaminya sedang beristirahat di depan rumah, tiba-tiba datanglah seekor gagak. Gagak sangat sakit hati dengan istrinya karena ia tidak pernah diberi makan. Istrinya mempunyai kebiasaan suka memberi makan burung-burung. Ia tidak tahu kalau burung gagak tidak pernah kebagian makanan. Burung gagak pun bertembang,
“Gak gak bute,
burung benyak diberek makan.
Gagak sikok ketinggalan,
Putri lelen di atas mahligai”
Berkali-kali burung gagak bertembang dan didengarlah oleh suaminya. Suaminya langsung memanggil istrinya.
“Oi Dek, jadi, selame ini kau mbudike aku. Putriku maseh idop. Sekarang suruh die turun dari atas mahligai,” hardik suaminya dengan marah.
Karena takut, istrinya menuruti kehendak suaminya. Dia pun memanggil anaknya sambil nangis dan bertembang,
“Turun emas turun dayang
Turun anakku putri lelen.
Ebakmu endak lelennye
Asal lelen balik lelen.”
“Iye, Mak, Agek aku nak bebaju.” Jawab Putri Lelen.
Ibunya kembali bertembang meminta anaknya turun.
“Turun emas turun dayang
Turun anakku putri lelen.
Ebakmu endak lelennye
Asal lelen balik lelen.”
“Iye, Mak, Agek aku nak beseser,” Jawab putrinya.
Ibunya kembali bertembang,
“Turun emas turun dayang
Turun anakku putri lelen.
Ebakmu endak lelennye
Asal lelen balik lelen.”
Setelah selesai perpakaian dan berisir, turunlah Putri Lelen dari atas mahligai.
“Oi Nak, Mak minta maaf ye. Bakmu tak senang dengan kau. Umak dak pacak nak nak nolong.”
“Iye Mak, aku ikhlas asakke Bak pacak senang ati.”
“Nak kau turun ke kawah itu. Bakmu nak meleburmu jedi lelen.”
Berjalanlah Putri lelen menuju kawah sambil menangis. Perlahan ia memasukkan dirinya ke dalam kawah. Ia pun bertembang,
“Ancurlah badan ancur binase
Ancurlah badanku jadi lelen
Ancurlah badan batas lututku.”
Hancurlah badan Putri Lelen sebatas lutut. Ia pun kembali bertembang,
“Ancurlah badan ancur binase
Ancurlah badanku jadi lelen
Ancurlah badan batas pinggangku.”
Hancurlah badan Putri Lelen sebatas pinggang. Ia pun kembali bertembang,
“Ancurlah badan ancur binase
Ancurlah badanku jadi lelen
Ancurlah badan batas palakku.”
Hancurlah badan Putri Lelen sebatas kepala. Badan Putri pun semakin hancur hingga yang tersisa rambutnya. Melihat tubuh anaknya sudah hancur ibunyapun tidak tega dan segera menyusul. Ia menyusul anaknya masuk ke dalam kawah. Berubahlah ibu dan anak menjadi dua batang lilin.
Melihat anak dan istrinya telah berubah menjadi lelen, suaminya pun menyesal. Apa boleh buat. Anak dan istrinya tidak mungkin berubah lagi. Nasi sudah menjadi bubur.

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S.Pd.(Guru SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III)
Cerita rakyat ini berasal dari Kecamatan Suak Tapeh, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s