Obrolan Warung Kopi | e-KTP

Posted: 5 November 2011 in Obrolan Warung Kopi
Tag:,

…. rakyat kita adalah rakyat yang taat pada pemimpinnya. Termasuk ketika diminta mengganti KTP manualnya menjadi KTPE. Walaupun KTP-nya baru dibuat enam bulan yang lalu, mereka tetap patuh, taat, dan siap ketika harus antri dan berdesak-desakkan guna menyukseskan program pemerintah tersebut. Nah, bukankah pemerintah harus bersyukur memiliki rakyat yang sedemikian antusiasnya menyukseskan program tersebut?

Oleh: Irwan P. Ratu Bangsawan

ADA aktivitas baru yang sedang dilakoni oleh sebagian rakyat Indonesia saat ini, yaitu berduyun-duyun dan mengikuti antrian membuat Kartu Tanda Penduduk Elektronik alias e-KTP (mestinya KTPE, kan?).

Sebagaimana biasa, rakyat kita adalah rakyat yang taat pada pemimpinnya. Termasuk ketika diminta mengganti KTP manualnya menjadi KTPE. Walaupun KTP-nya baru dibuat enam bulan yang lalu, mereka tetap patuh, taat, dan siap ketika harus antri dan berdesak-desakkan guna menyukseskan program pemerintah tersebut. Nah, bukankah pemerintah harus bersyukur memiliki rakyat yang sedemikian antusiasnya menyukseskan program tersebut?

Namun sayangnya, ada-ada saja yang menciderai antusiasme rakyat tersebut. Mulai dari bau tidak sedap alias adanya dugaan korupsi pada kegiatan lelang sarana prasarana KTPE sampai dengan layanan yang belum prima para pelaksana di lapangan.

Menurut Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), program KTPE ini harus tuntas pada akhir 2012 ini. Sudah banyak yang pesimis target ini akan tercapai, termasuk dari parlemen. Benarkah target tersebut akan gagal dicapai? Tentu saja semua terpulang pada kondisi lapangan dan para operator serta dukungan dari pemerintah pusat dan daerah. Sebagai contoh, di Kecamatan Sembawa Banyuasin, pelayanan para operator sudah sangat optimal, bahkan camat dan stafnya bekerja berpeluh-peluh hingga tengah malam. Sambil menunggu nama dipanggil oleh petugas, kita boleh karaokean dulu di Balai Desa. Penulis sendiri, misalnya, mendapat giliran sekitar pukul 22.00 WIB. Hebat, kan? Namun, sayangnya pasokan listrik dari PLN nampaknya selalu tak terduga alias byar pet. Nah!

Konon, byar pet tersebut disebabkan sebagian besar pasokan listrik dialihkan ke Jakabaring Sport City (JSC) guna uji coba arena (venue). Terkait dengan hal ini, penulis sangat setuju dengan pernyataan Wali Kota Palembang Ir Eddy Santana Putra yang mengatakan bahwa bukan cuma JSC yang butuh listrik. Nah, loh! (***)

Komentar
  1. Imron Syukri mengatakan:

    Menurut hemat saya bukan masyarakat patuh, tetapi masyarakat butuh. Kalimat “tidak dipungut biaya” pada surat undanganlah yang membuat mereka rela berdesak-desakan “memperebutkan” e-KTP. Coba perhatikan, saat ada layanan murah apalagi tidak berbayar, tempat layanan akan penuh sesak. Tetapi bila layanan berjalan seperti biasa dan berbayar, apakah Kantor Camat seperti sekarang ini. Tidak. Tidaklah masyarakat itu antusias karena kesadaran sebagai warga negara yang baik yang harus memiliki identitas yang jelas, tetapi karena gratis.

  2. Hehehhh………… Begitu ya Pak?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s