…. Mereka semua kebingungan. Apa yang harus mereka lakukan terhadap emas itu? Dijual? Dipakai atau diamankan saja? Karena bingung tidak tahu emas tersebut mau diapakan dan karena takut terjadi perselisihan di antara mereka, mereka pun mengadakan sidang untuk membahas penggunaan emas tersebut….

            Alkisah dahulu kala terdapat sebuah hutan di sekitar Sungai Musi. Pada waktu itu Nabi Muhammad belum dilahirkan ke muka bumi. Waktu itu makhluk hidup dapat berbicara seperti manusia. berjuta tahun tempat itu tidak dihuni manusia hanya dihuni hewan-hewan buas dan tentu saja liar.
Suatu hari sekelompok orang perantauan datang ke tempat tersebut. Mulanya mereka hanya bermaksud untuk sekedar melintas dan beristirahat sejenak.  Saat mereka beristirahat, mereka dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang sangat memukau. Tumpukan emas yang sangat banyak di hadapan mereka. Melihat emas yang sangat banyak itu, mereka seolah terhipnotis mendekat, mengamati, dan meraba emas-emas itu. Semua terpesona dan seolah tidak percaya. Seumur hidup belum pernah mereka melihat emas sebanyak itu.
Mereka semua kebingungan. Apa yang harus mereka lakukan terhadap emas itu? Dijual? Dipakai atau diamankan saja? Karena bingung tidak tahu emas tersebut mau diapakan dan karena takut terjadi perselisihan di antara mereka, mereka pun mengadakan sidang untuk membahas penggunaan emas tersebut.
“Saudara-saudara, kita berkumpul di sini bermaksud untuk merundingkan sesuatu yang sangat penting. Kalau tidak kita rundingkan, saya khawatir akan berakibat buruk bagi kelangsungan hubungan kita semua,” ucap salah satu dari mereka memulai pembicaraan.
”Saudara-saudaraku, seperti telah kita ketahui bersama, kita hadir di tempat ini semula hanya untuk beristirahat. Kemudian kita mendapatkan sesuatu yang sangat mengejutkan, yakni setumpuk emas. Tumpukan emas ini tidak terhingga nilainya. Tumpukan emas ini tentunya sesuatu anugerah bagi kita semua kalau kita bisa mengelolahnya sedemikian rupa. Sekarang kita butuh kesepakatan bersama, mau kita apakan emas-emas ini,” lanjutnya.
Selama sidang berlangsung, berbagai pendapat dan saran pun dikumpulkan. Akhirnya disepakati bahwa emas-emas itu didiamkan pada tempatnya.
“Saudaraku, terima kasih akhirnya kita bisa membuat keputusan yang bijak bahwa emas itu kita biarkan saja. Akan tetapi, kita tidak bisa membiarkannya begitu saja. Bisa saja emas ini diambil oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Saya punya usul, untuk menjaga emas ini, bagaimana kalau kita bermukim di sini. Selain menjaga emas ini, tempat ini juga memang layak untuk kita huni bersama. Saya yakin kehidupan kita akan lebih baik jika kita tinggal di sini.
“Saya setuju,’ jawab salah satu dari mereka.
“Saya juga setuju,” jawab yang lain.
“Kami setuju,” jawab beberapa peserta siding secara bersamaan.
Akhirnya disepakatilah bahwa mereka menetap di tempat tersebut.
Kehidupan mereka saat itu sangat unik. Mereka menanamkan jalan hidup yang sangat lurus. Sikap mereka sangat hebat, antara lain dalam hal menolong sesama, tidak mengganggu orang lain, dan menjaga kepentingan barsama. Sikap masyarakat tersebut sangat patut diacungi jempol.
Seiring dengan perjalanan waktu pemukiman itu terus dihuni oleh manusia hingga kini. Sampai sekarang orang meyakini bahwa emas itu masih ada. Akan tetapi, ada beberapa kepercayaan yang muncul. Pertama, mereka percaya hanya orang-orang yang memiliki tuah (kekuatan gaib) yang bisa melihatnya. Kedua, ada juga yang mengatakan bahwa emas itu sekarang terkubur di dalam tanah. Sebagai buktinya, saat ini setiap warga yang menggali sumur, mereka akan mendapatkan serbuk dan lempengan batu menyerupai emas.
Karena di tempat tersebut pernah terjadi persidangan emas, mereka sepakat memberi nama mereka tempat tinggal mereka dengan nama Sidang Emas. Desa Sidang Emas terdapat di Kecamatan Banyuasin III.

Diceritakan kembali oleh Neny Tryana, S. Pd. (Guru SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III)
Cerita rakyat ini berasal dari Desa Sidang Emas, Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Komentar
  1. Salman al-Farisy Room mengatakan:

    Ceritanya kok berbeda dengan ceritaku ya……

    • irwanpratubangsawan mengatakan:

      Bung Salman, cerita rakyat biasanya memang menyebar dari mulut ke mulut dalam rentang waktu yang panjang. Akibatnya, cerita tersebt biasanya banyak mengalami perkembangan dan perubahan. Jadi, wajar dan bisa diterima adanya perbedaan tersebut. Tks atas perhatiannya,

  2. tyaz ayu mengatakan:

    oooow cak itu yak cerite nye tuh,,,,,

  3. Anonim mengatakan:

    Benar ka ceeita itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s