Obrolan Warung Kopi | NONTON SEA GAMES

Posted: 19 November 2011 in Obrolan Warung Kopi
Tag:, , ,

…. Ternyata ide membuat gelanggang olahraga terpadu seperti JSC memiliki kelemahan yang baru dirasakan setelah perhelatan tersebut dimulai, yaitu warga jadi tidak “bernafsu” menonton secara langsung karena mereka tahu betapa sulitnya menuju ke lokasi yang menggelar beberapa pertandingan sekaligus….

Oleh: Irwan P. Ratu Bangsawan

Rasanya ada yang kurang bila sebagai warga Sumatera Selatan kita tidak menyaksikan alias nonton bareng secara “live” perhelatan akbar sekelas SEA Games. Kurang mantap rasanya bila cuma nonton di teve yang layarnya hanya secuil. Apa lagi bila layar tevenya hanya 14”. Mata jadi sakit dan cepat lelah, kan?

Namun nonton secara langsung ternyata membawa konsekuensi yang luar biasa beratnya. Mulai dari tempat parkir yang jauh dan gelanggang yang juga jauh dari pintu masuk Jakabaring Sport City (JSC). Saya sendiri sebenarnya sudah tahu betapa susahnya mencapai arena (venues) tersebut. Tapi, karena anak semata wayang saya merengek mau minta nonton bareng, mau tidak mau saya harus melalui semua kesulitan itu.

Ternyata ide membuat gelanggang olahraga terpadu seperti JSC memiliki kelemahan yang baru dirasakan setelah perhelatan tersebut dimulai, yaitu warga jadi tidak “bernafsu” menonton secara langsung karena mereka tahu betapa sulitnya menuju ke lokasi yang menggelar beberapa pertandingan sekaligus. Aturan yang terlalu kaku seperti tidak boleh membawa rokok dan harus berjalan kaki menuju arena merupakan juga menyebabkan arena SEA Games Jakabaring seperti “kota setengah mati” yang sulit dikunjungi. Penonton yang hadir di JSC kebanyakan para pelajar yang diberi baju suporter negara peserta SEA Games dan mendapat honor setelah nonton. Ini mirip dengan kegiatan para “alay” (anak layangan) yang sering nongol di pentas-pentas musik teve swasta. Masak nonton acara olahraga harus dibayar? Nah, loh!

Hal berbeda bila kita nonton di arena bola voli. Selain cabang olahraga voli memang sangat menarik, arenanya juga tidak berada di JSC. Jadi, warga tidak harus bersusah payah menuju arenanya. Di sini penontonnya membludak hingga ada yang tidak bisa masuk arena. Hebat, kan? Nah, siapa berani bilang bahwa membuat gelanggang terpadu seperti JSC merupakan ide brilian dan oke punya? Wallahua’lam bi shawwab (***)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s