Obrolan Warung Kopi | HUTANG

Posted: 9 Desember 2011 in Obrolan Warung Kopi

…. Benarkah hutang sudah merupakan gaya hidup? Bahkan, konon kabarnya, negara kita merupakan salah satu negara yang dengan senang hati mengikuti gaya hidup ini. Sebagian pendapatan negara kita ternyata bersumber dari hutang pada negara lain atau dari lembaga donor semacam Bank Dunia. Hutang ini dikemas dalam label “bantuan”. Lucunya, hutang kok bisa merupakan pendapatan ya?

Oleh: Irwan P. Ratu Bangsawan

Prinsip gali lubang tutup lubang ternyata bukan cuma monopoli orang miskin dan tak punya saja. Hampir di semua lini kehidupan, kita dengan mudah dapat menemukan kata “kredit” alias hutang. Mulai dari belanja keperluan dapur, alat-alat rumah tangga, barang elektronik sampai pada gaya hidup dengan menggunakan kartu kredit alias kartu hutang. Khusus untuk kartu kredit, sang pemiliknya bahkan dengan bangga dan suka cita menggunakan dan memamerkannya sebagai sebuah gaya hidup yang “wah”. Sungguh aneh bin ajaib ada orang dengan bangganya berhutang ke sana ke mari hanya dengan iming-iming punya kartu serba bisa seperti kartu kredit tersebut.

Benarkah hutang sudah merupakan gaya hidup? Bahkan, konon kabarnya, negara kita merupakan salah satu negara yang dengan senang hati mengikuti gaya hidup ini. Sebagian pendapatan negara kita ternyata bersumber dari hutang pada negara lain atau dari lembaga donor semacam Bank Dunia. Hutang ini dikemas dalam label “bantuan”. Lucunya, hutang kok bisa merupakan pendapatan ya?

Kabar terakhr yang tak kalah eloknya adalah ternyata gejala hutang di bayar dengan hutang sudah merambah sampai ke tingkat kabupaten. Sebagai contoh, nasib yang “kurang beruntung” seperti di beberapa kabupaten di Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Di provinsi berjuluk Serambi Mekah tersebut berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ternyata ada 10 daerah yang bangkrut dan bermasalah; Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Barat Daya, Pidie, Bireuen, Aceh Tenggara, Simeulue, Nagan Raya, Aceh Barat, dan Aceh Besar. Di samping itu, tingkat pengangguran juga cukup tinggi, Ke-10 daerah tersebut merupakan daerah yang terjebak dalam gali lubang tutup lubang alias hutang ditutup dengan hutang.

Bagaimana dengan Banyuasin? Sudah beberapa tahun terakhir kita sering mendengar gosip bahwa setiap akhir tahun anggaran Banyuasin selalu mengalami defisit anggaran. Terakhir, terdengar kabar bahwa kabupaten yang berjuluk Bumi Sedulang Setudung ini defisit Rp 32,5 miliar. Benarkah? Wallahua’lam bi shawwab. Kita cuma berharap Banyuasin akan terus maju dan tidak terjebak dalam gaya hidup mewah para pengguna kartu kredit. Nah, loh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s