Obrolan Warung Kopi | Makelar

Posted: 13 Desember 2011 in Obrolan Warung Kopi

.… Dalam perkembangannya sang makelar ternyata tidak hanya bergerak dalam dunia jual beli dalam konotasi ekonomi saja, tapi melebar sampai pada dunia politik dan hukum. Kasus Nazaruddin yang mengungkap jual beli suara dalam Kongres Partai Demokrat dan kasus Gayus yang mengungkap hilangnya pasal pencucian uang (money laundry) dalam surat dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) merupakan contoh-contoh yang paling aktual adanya praktik makelarisme dalam dunia politik dan hukum kita….

 

Oleh: Irwan P. Ratu Bangsawan

Istilah makelar biasanya selalu berkaitan dengan proses jual beli. Istilah ini mengacu pada seseorang yang menjadi perantara antara pihak penjual dengan pembeli. Yang dijual bisa mobil, tanah, rumah, bahkan sampai pada hal-hal yang bersifat rahasia dan melanggar hukum.

Dalam perkembangannya sang makelar ternyata tidak hanya bergerak dalam dunia jual beli dalam konotasi ekonomi saja, tapi melebar sampai pada dunia politik dan hukum. Kasus Nazaruddin yang mengungkap jual beli suara dalam Kongres Partai Demokrat dan kasus Gayus yang mengungkap hilangnya pasal pencucian uang (money laundry) dalam surat dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) merupakan contoh-contoh yang paling aktual adanya praktik makelarisme dalam dunia politik dan hukum kita.

Praktik makelarisme dalam dunia politik dan hukum kita makin hari ternyata makin menjadi. Nampaknya, tiada hari tanpa praktik negosiasi dalam rangka mencari keuntungan pribadi maupun kelompoknya masing-masing. Uang negara yang dikumpulkan dari pajak rakyat akhirnya hanya menjadi barang dagangan bagi mereka yang mengaku dirinya bermartabat dan memiliki kedudukan tinggi. Rakyat yang harus memeras keringat untuk membayar pajak kepada negara hanyalah menjadi objek untuk dinegosiasikan nasib dan kehidupannya oleh para makelar tersebut.

Apakah mungkin praktik makelarisme tersebut diberantas? Nampaknya agak sulit menjawab pertanyaan ini. Sebab keuntungan yang diraih dari makelarisme sungguh terlalu sayang untuk diibuang. Keuntungan tersebut dapat digunakan untuk mengejar kesedapan kehidupan duniawi alias hedonis. Bukankah hedonisme sudah menjadi acuan umat saat ini. Keberhasilan alias kesuksesan selalu diukur dari sisi materialisme. Seseorang belum bisa dikatakan sukses bila belum memiliki harta benda yang melimpah serta belum pernah mencicipi hal-hal keduniawian. Sungguh sebuah pandangan yang sesat dan menyesatkan, bukan? (***)

Iklan
Komentar
  1. jahid klw berkata:

    Apalah Namanya sejak dulu yang nama segala tetek bengek berkaitan dengan makelar bagi kita saat ini, biarlah menjadi komoditas yang tetap dipertahankan, mau bilang apa, mau di ganti istilah Broker, Usaha Jasa, Blantik, bahkan mak jomblang orientasinya toh masih sama…yakni bergaya menolong orang tetapi dengan upah tertentu. sekarang tergantung kita sendiri bagaimana berbuat itu dengan etika yang lebih santun, bukan semata mata cari untung dengan meng- akali klien, nasabah atau bakal korbannya..he hehe………….

  2. Kang,
    Cetuju Buangetz………….

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s